Akankah Umat Islam di Mesir Menang?

Akankah Umat Islam di Mesir Menang?

Judul analisa ini ingin menggambarkan kegelisahan tentang masa depan bernegara di negeri Arab pada umumnya, dan masa depan dakwah Islam di negeri Kinanah pada khususnya. Arab spring yang awalnya begitu mengharu – biru dan membawa kabar baik bagi negeri Arab, kini lama – kelamaan semakin tidak menentu arahnya. Suriah masih gelap karena masih dilanda perang melawan diktator Bassar, Mesir pun belum bisa dianggap aman sepenuhnya dari sisa – sisa rezim diktator Mubarak dan kaki tangannya.

Pengumuman hasil pilpres putaran pertama di seluruh Mesir pada 24 Mei lalu, begitu membetot perhatian banyak kalangan di dalam maupun luar Mesir. Di luar dugaan semua kalangan pengamat dan masyarakat Mesir sendiri, ternyata calon yang mewakili rezim Husni Mubarak bisa melenggang dan hampir menyalip perolehan suara dari Dr. Muhammad Mursi yang diajukan oleh Partai Keadilan dan Pembebasan. Mereka yang terlibat dalam revolusi, harap – harap cemas jika saja si tangan kanan (sebutan bagi Syafiq) Mubarak ini akan mampu memenangi pilpres di putaran kedua. Tak ayal, di babak kedua pemilihan, kalangan reformis Mesir bersepakat untuk menyatukan suara guna membendung kemenangan Ahmad Syafiq. Pertanyaannya sekarang adalah, bisakah berjalan lancar?

Pertanyaan ini bukan bermaksud tendensius. Karena negeri Arab memiliki sejarah panjang mengenai ketidakharmonisan antar mereka. Baik antar suku, antar gerakan, maupun kepentingan politik. Pilihan dukungan kadang menjadi tidak rasional dengan cara mendukung kepentingan barat dan Israel di negaranya. Ibaratnya, lebih percaya orang asing dibandingkan dengan saudara sendiri. Lihat saja negara – negara kecil di Teluk dalam hal membela Palestina. Jika diurai, masalahnya akan panjang dan rumit. Padahal tidak akan begitu rumit jika satu sama lain mengutamakan persoalan kemerdekaan Palestina.

Dalam kondisi yang begitu mendesak seperti sekarang ini saja, masih ada yang mengganjal di barisan revolusi. Pertama, kekhawatiran (lebih tepatnya desas – desus) dari kalangan minoritas Kristen Koptik manakala kekuatan Islam berkuasa maka ancaman bagi keberadaan mereka. Kedua, masih adanya perbedaan pandangan dalam hal afiliasi gerakan Islam di kalangan barisan revolusi. Ini ditunjukkan oleh sebagian kalangan salafiy yang tidak menginginkan ikhwan naik menjadi penguasa Mesir. Dan ketiga, kekhawatiran dari kalangan lain revolusi yang bakal tidak mendapatkan “jatah kue” kekuasaan. Ketiga kalangan tersebut bisa saja mengambil jalan pintas dengan alasan untuk “Mesir yang aman” lebih memilih Ahmad Syafiq sebagai Presiden di last minute time.

Adalah menjadi pekerjaan rumah bagi ikhwan dalam hal ini untuk meyakinkan semua komponen masyarakat, khususnya tiga kalangan tadi, untuk tetap merasa aman di dalam massa barisan revolusi. Harga mahal revolusi berupa syahidnya ribuan orang putra bangsa di Tahrir Square, harus dibayar lunas dengan kemenangan pada pemilihan Presiden. Kekalahan di pilpres akan menjadikan jalan mundur bagi proses bernegara secara demokratis di Mesir, dan dipastikan akan kembali seperti masa Mubarak berkuasa. Persoalan Palestina akan kembali terabaikan, kebebasan dalam hidup bernegara akan kembali dibelenggu, dan khususnya bagi ikhwan keberadaannya di mesir akan “diharamkan” lagi oleh pemerintah untuk yang keempat kalinya oleh 4 presiden yang berbeda. Inilah makna dari membayar lunas revolusi yang tinggal selangkah lagi.

Kaum muslimin Indonesia dalam hal ini harus mengambil peran dalam mendukung proses transisi Mesir saat ini. Mengapa kita harus ikut mendukung proses transisi di mesir? Inilah alasannya, karena Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan pengakuan itu didorong oleh syekh Hasan Al Banna, Mursyid ‘Am pertama sekaligus pendiri Ikhwanul Muslimin. Maka, berharap Islam menang di Mesir sama dengan berharap keselamatan pada saudara – saudara kita di Mesir. Sudah saatnya kita sebagai bangsa membalas budi baik warga Mesir dan Ikhwanul Muslimin. (Fa)