Pelopor Pembuat Pupuk Organik di Kampung Bojong Menteng

Selasa, 08/09/2009 11:15 WIB | Arsip | Cetak

Setelah tidak bisa masuk perguruan tinggi lantaran kendala biaya, Asep Hermawan (35) memilih mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI).

"Honor saya lima ribu rupiah sebulan. Itu pun diberinya setahun sekali (dirapel)," ujarnya santai. Penghasilan minim sebagai guru honorer tak menyurutkan niat Asep menyunting Heni Suhaeni (27). Asep bersama istrinya hidup seirit mungkin, sesuai pendapatan bulanannya. Kebutuhan yang dirasa tidak penting, dicoret dari daftar belanjaan.

Setahun berlalu. Asep dan istrinya dikarunia bayi perempuan (Fitriyah). Kehadiran putri pertamanya jelas mendongkrak pengeluaran. Asep putar otak. Setelah pagi hari mengajar di MI, siangnya mengajar di MTs dan MA. Selain itu, ia bergabung dengan Kelompok Tani Unggul untuk belajar bercocok tanam.

“Kalau tidak ada tugas ngajar di sekolah, saya ngurus padi di sawah. Saya mencari uang tambahan. Apalagi anak kedua (Fiqhul Haqim) sudah lahir. Tentu pengeluaran pun naik. Kalau ini tidak diimbangi pemasukan, pepatah lebih besar pasak daripada tiang berlaku bagi saya dong,” tuturnya tersenyum.

Keseriusan Asep bertani –tanpa meninggalkan ngajar—kian menggebu, kala kelompok taninya yang ada dalam kendali Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Wanti Asih menjalin kerjasama dengan Lembaga Pertanian Sehat (LPS) Dompet Dhuafa. Di situlah Asep mendapat banyak ilmu baru soal pertanian dan peternakan, termasuk bantuan bibit, teknologi pertanian dan modal.

”Yang menggembirakan, saya dipercaya untuk menerima bantuan 6 ekor kambing dari Ternak Domba Sehat (TDS) Dompet Dhuafa. Kesibukan saya jadi bertambah; mencari rumput dan membersihkan kandang, hampir setiap hari. Domba saya terus berkembang. Kini jumlahnya 16 ekor,” katanya bangga. Sejak itu, Asep selalu bersyukur. Penghasilannya terus meningkat. Apalagi dari hasil usaha pertanian dan peternakan yang ditabungnya, ia dapat membeli sebidang tanah. Di atas tanah itu dibangun rumah untuk tempat tinggal istri dan kedua buah hatinya.

Lain waktu, LPS menggelar pelatihan pembuatan kompos ofer (organic fertilizer) bagi anggota Wanti Asih. Asep tak mau ketinggalan. Sampai-sampai ia duduk paling depan. Usai pelatihan dan paham tata cara pembuatan, ia mempraktekannya. Tanah berukuran 4x8 meter di belakang rumahnya dibuat saung sebagai tempat produksi pupuk organik.

Mula-mula Asep mencari kotoran sapi sebagai bahan dasar pupuk organik. Saban hari ia mengangkutnya dari desa tetangga—10 kilometer dari rumah Asep—. Maklum, di kampungnya tak ada peternakan sapi. Rupanya tetangga rumah Asep terganggu oleh bau kotoran sapi yang menyengat hidung itu. Apalagi, kotoran yang dibawanya ada saja yang terjatuh di pelataran rumah tetangga. “Soal bau itu, saya terkadang pura-pura nggak tahu,” Asep nyengir.

Sebagai percobaan, Asep membuat pupuk organik dalam jumlah terbatas, sekira 500 kilogram. Ia mencampur kotoran sapi dengan bahan lainnya, seperti jerami cincang, kapur pertanian, arang sekam, dedak, dan IM4. Ia mencangkulnya hingga merata, lalu menutup rapat dengan karung atau plastik. Esok hari diaduk lagi, kemudian ditutup dan didiamkan 3-4 hari sampai suhu 45 derajat.

Hari berikutnya diaduk kembali dan dibiarkan 2 hari sampai suhu turun 30 derajat. Ia menaruh alat pengukur panas di tengah gundukan tanah. Setelah itu, pupuk organik diayak supaya halus, dibungkus plastik dan siap dijual ke LPS. Proses pembuatan hingga jadi kurang lebih 10 hari.

“Semua tahapan itu saya lakukan sendiri. Ternyata pendamping dari LPS bilang, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Karenanya tidak bisa dijual ke LPS. Akhirnya, saya pakai sendiri untuk tanaman padi,” seloroh Asep.

Asep tak kapok. Selang beberapa hari, ia kembali membuat pupuk organik. Kali ini lebih berhati-hati. Masukan dan saran dari LPS benar-benar diterapkan. Ia berjibaku dalam pembuatan kompos ofer, tak peduli bau kotoran sapi yang menusuk indera penciumannya.

“Begitu orang LPS tahu hasilnya, mereka mau membeli. LPS pun menyatakan saya sudah bisa membuat pupuk organik sendiri, meski quality control dipegang LPS,” cetus pelopor pembuat kompos ofer di Kampung Bojong Menteng, Desa Cibalung, Kec. Cijeruk, Kab. Bogor, itu.

Prestasi Asep tersebut mengundang decak kagum Dinas Pertanian Bogor. Mereka berkeinginan membeli kompos ofer sebanyak 2 ton.

”Alhamdulillah...itu rezeki yang tak pernah terpikirkan. Sekarang saya bisa memproduksi pupuk organik 3 ton perbulan, dengan jumlah karyawan 4 orang,” tandas lulusan Madrasah Aliyah ini. (LHZ/Dompet Dhuafa)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dhuafa

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang