Terserang Kanker Tenggorokan dan Tumor Lidah

Ekspresi wajah Salimah (37) datar. Sepanjang diajak berbincang, ia lebih sering diam. Kalau pun senyum, terkesan agak dipaksakan. Sepertinya ada beban berat yang menggelayuti pikiran dan pundaknya. Ibu memang pendiam, yah?
“Ah, nggak juga,” Salimah menggelengkan kepala.
Kok ibu sedikit sekali kalau ngomong?
Sejenak Salimah membisu. Matanya mengarah ke atas, lalu ke bawah. Ia menunduk. Napasnya ditahan sebentar, kemudian dihembuskan.
“Selain penyakit yang menyerang saya, saya punya masa lalu kelam,” seloroh Salimah terdengar berat.
Ia mulai bercerita. Saat masih gadis, ia nekad kabur dari rumahnya di Jawa Tengah. Perhiasan yang menempel ditubuhnya, terpaksa dijual buat ongkos ke Jakarta.
“Saya lari dari rumah, karena rumah sudah tidak nyaman saya tinggali. Kalau terus-terusan di situ, saya babak belur,” cetus Salimah, tanpa menyebut alasan yang lebih rinci.
Ketika itu, ia mengaku tak tahu apa-apa soal ibukota, kecuali yang pernah dikisahkan temannya yang jadi pembantu rumah tangga di kota. Kata temannya, di Jakarta nyari duit itu gampang. Apa-apa serba ada dan mudah dapatnya.
“Udah gitu, gedung-gedung kalau malam dihiasi lampu kelap-kelip, indah dan rame sekali. Tidak seperti di kampung saya. Yang ada cuma obor dari batang bambu yang diisi minyak tanah,” Salimah tersenyum.
Bayangan tersebut yang membuat hati Salimah mantap bergegas ke Jakarta. Ia numpang mobil truk, seorang diri, dengan membawa bekal secukupnya. Begitu tiba Jakarta, ia bingung. Tak ada saudara atau kerabatnya. Temannya yang jadi pembantu itu pun tidak tahu dimana tempat tinggalnya.
Akhirnya Salimah berhari-hari tidur di stasiun kereta api. Tak banyak yang bisa dikerjakan selain diam sembari mendekap rangselnya, menyaksikan geliat para gembel dan pemulung. Tiba-tiba saja Salimah menangis. Ia teringat bekalnya yang tidak lama lagi habis. Sementara itu, belum ada orang yang menjadi kawan barunya.
Dalam keadaan lapar dan kedinginan, mendadak sepasang tangan memegang pundak Salimah yang tengah duduk sendiri dengan dua kaki didekatkan ke dada. Nama pemilik tangan itu Amir Hamzah, tukang sapu jalanan di sekitar stasiun. Rupanya Amir diam-diam memperhatikan Salimah sejak awal kedatangannya di stasiun.
“Amir punya kenalan seseorang yang bekerja di kantor, tak jauh dari stasiun. Saya diajak ke sana. Selanjutnya tidur dan makan saya ditanggung Amir, selama enam bulan tinggal di kantor itu. Padahal saya tidak disuruh kerja apapun. Saya diam saja,” kenang Salimah.
Lamat-lamat kebaikan Amir berujung cinta. Witing tresno jalaran soko kulino, begitu pepatah Jawa. Keduanya terlibat asmara. Amir kemudian menikahi Salimah. Pernikahan mereka digelar sangat-sangat sederhana, tanpa pesta. Bahkan, orang tua Salimah pun tidak hadir.
Salimah menghentikan ceritanya. Kerudungnya diperbaiki. Posisi duduknya digeser sedikit ke kanan.
“Sekarang saya cerita soal penyakit saya saja, ya? Soalnya kalau cerita rumah tangga saya, nanti bawaannya saya pengen nangis terus…,” pinta Salimah.
Pertengahan 2007. Saat sedang makan, mendadak tenggorokan Salimah terasa sakit dan sangat susah untuk menelan makanan. Penyebabnya ada benjolan kecil yang menyembul dari dalam tenggorokannya. Ia menduga penyakit amandel. Lantaran dibiarkan saja, lama-lama benjolan itu terus membengkak.
Salimah pun merasa ada yang berbeda dengan lidahnya. Tiap kali mengecap makanan, ia seperti menggigit lidahnya sendiri. Terang saja lidahnya terasa sakit. Perih sekali. Ia bercermin. Dilihatnya tumbuh benjolan di lidahnya sebesar biji kacang. Mau melapor ke suami yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai tukang sapu jalanan, ia tak punya nyali.
Tanpa sepengetahuan suami, Salimah mendatangi tabib. Tabib menyatakan Salimah terkena kanker tenggorokan dan tumor lidah. Lucunya, Salimah menganggapnya biasa-biasa saja, lantaran tidak tahu mengenai kedua penyakit tersebut. Tabib kemudian menganjurkan supaya Salimah berobat ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) milik Dompet Dhuafa.
Salimah berjuang seorang diri, sejak mulai diperiksa LKC hingga dirujuk ke rumah sakit. Ia akhirnya dioperasi berkat bantuan LKC. Benjolan di dalam tenggorokannya hilang. Namun, beberapa bulan kemudian, muncul lagi benjolan di luar tenggorokannya. Ia harus menjalani perawatan rutin dan kemungkinan operasi lagi.
“Kata dokter, saya bisa sembuh, sebab tumor yang menyerang tenggorokan dan lidah tidak ganas,” tutur ibu dari tiga anak yang saban hari kerja nyuciin baju tetangga di daerah Kedawung, Pamulang. Zakat Emang Ajiib… (LHZ/Dompet Dhuafa)
Lainnya (Arsip)
- Tak Menyesal Jadi Petani
Sabtu, 19/09/2009 09:01 WIB - Ada Kebanggaan Menjadi Guru
Jumat, 18/09/2009 09:08 WIB - Calon Montir Kapal dari Teluk Naga
Senin, 14/09/2009 09:33 WIB - Juwita yang Tak Punya Anus
Jumat, 11/09/2009 10:53 WIB - Pelopor Pembuat Pupuk Organik di Kampung Bojong Menteng
Selasa, 08/09/2009 11:15 WIB
Dhuafa
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




