Masa Kecil

Kamis, 08/10/2009 12:03 WIB | Arsip | Cetak

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah pepatah yang cocok buat menerawang fisik dan kecenderungan anak. Begitu orang tua, begitu pula sang anak. Sayangnya, ada kacang yang dilupakan kulitnya.

Anak unggulan pasti jadi dambaan tiap orang tua. Unggul di luar, unggul di dalam. Luar, jika dinilai dari bentuk fisik dan kesehatannya. Dan dalam, diukur dari tingkat kecerdasan dan kesalehannya.

Memang, ada keunggulan-keunggulan yang mesti diupayakan. Bisa dari gizi, lingkungan rumah, dan mutu pendidikan. Tapi, ada juga yang memang 'sudah dari sananya'. Begitu orang tua di saat kecil, begitu pula keadaan sang anak. Jadi, nggak usah heran jika anak berperilaku rewel. Karena boleh jadi, begitulah keadaan ayah atau ibunya ketika kecil.

Masalahnya, dari pihak mana sifat rewel itu. Dari ibu, atau dari ayah. Karena umumnya, orang cuma mengakui sifat turunan positif. Dan melupakan semua yang negatif. Motonya sederhana, "Rewel? Nggak pernah tuh!" Rasa itulah yang kini dialami Bu Heni.

Ibu tiga anak ini kadang dibuat bingung sama anak ketiganya. Walau baru berusia tiga tahun, ulah si bungsu bisa mengalahkan dua kakaknya yang sudah di TK dan SD. Cuma sayangnya, kelebihannya justru pada yang negatif: hobi menangis, susah diatur, dan sering berperilaku kurang bersih.

Bayangkan, si bungsu bisa menangis melebihi rata-rata kakaknya. Kalau kakaknya menangis paling lama setengah jam di usia yang sama, si bungsu bisa hampir sepuluh kali lipat. Jadi, kalau si bungsu mulai merengek dan menangis di saat film India baru mulai, menangisnya baru akan usai ketika film hampir habis. Hampir tiga jam, Bu Heni 'dipaksa' menyimak ekspresi duka si bungsu.

Belum lagi urusan makan. Di yang satu ini, kapasitas tidak berbanding lurus dengan usia. Biar usia beda dua dan empat tahun, soal jatah makan tetap sama. Kalau si kakak dapat satu mangkuk bubur ayam, begitu pun dengan si bungsu. Kalau kakak-kakaknya satu gelas es teler, begitu pun ukuran minimal buat si bungsu. Beda umur, satu takaran.

Kadang Bu Heni bingung sendiri. Kok yang satu ini beda banget sama yang lain. "Lebih merepotkan. Kira-kira mirip siapa ya?" batin Bu Heni berbisik pelan.

Bu Heni mulai menerawang. Sejauh itu, Bu Heni sangat yakin kalau masa kecilnya tak seperti si bungsu. Ibunya pernah cerita kalau dulu ia begitu kalem, jarang nangis, juga penurut. Kalau si bungsu tidak mirip dia, siapa lagi yang patut dituduhkan kalau bukan suami Bu Heni. "Mas kecilnya rewel, ya?" tanya Bu Heni suatu kali. Suaminya cuma bisa ngasih senyum. Itulah mungkin tanda setuju yang paling lembut dari seorang suami. Sekali lagi, mungkin! Sepertinya, suami Bu Heni tak mau menyoal urusan masa kecil. Kalau toh si bungsu memang mirip dengan ayahnya di waktu kecil, apa yang salah? Toh, ia memang ayah kandungnya. Beberapa tahun ke depan pun, sang anak akan berubah. Jadi, kenapa mesti dibicarakan.

Tapi, Bu Heni masih tetap penasaran. Ia baru benar-benar yakin ketika ibu mertuanya cerita soal suaminya waktu kecil. "Suamimu dulunya memang rewel. Uh, rewel sekali! Udah gitu, makannya juga banyak," ungkap ibu mertuanya suatu kali. "Tapi," lanjut sang ibu mertua. "Anak laki semata wayang ibu itu selalu mandi tepat waktu!" ujar ibu mertua Bu Heni menambahkan.

Kalimat terakhir itu, dipahami Bu Heni sebagai penyeimbang. Supaya Bu Heni melihat sisi positifnya. Sampai di situ, Bu Heni sangat setuju. Karena hingga kini pun, suaminya memang selalu tampil perlente: rapi, bersih, dan wangi. Kalau harus dikasih pilihan sewaktu pulang kerja: makan dulu atau mandi dulu? Bu Heni yakin, suaminya pasti memilih mandi dulu.

Yang jadi pertanyaan, dari mana si bungsu bisa berperilaku kurang bersih: susah mandi, sering main tanah, dan pipis sembarangan. Kalau soal itu, Bu Heni jadi tersudut sendiri. Jangan-jangan....

"Kamu dulu memang suka jorok, Hen!" ucap ibu kandung Bu Heni suatu hari. Tentu saja, ucapan sang ibu menyentak hati Bu Heni. Jorok gimana? "Maksud ibu, jorok gimana?" tanya Bu Heni agak kaget. Tapi, yang ditanya cuma senyum.

"Apa Heni dulu jarang mandi, Bu?" tanya Bu Heni ke ibunya. "Tidak! Sering kok!" jawab sang ibu. "Apa Heni dulu sering pipis sembarangan, Bu?" tanya Bu Heni lagi membandingkan dengan si bungsu. "Nggak!" tegas sang ibu menihilkan kecurigaan Bu Heni tentang masa kecilnya. "Lalu jorok yang seperti apa, Bu?" Bu Heni kian mendesak. "Si Bungsu sehat-sehat saja kan, Hen!" ucap sang ibu mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tentu saja, cerita ibu kandung Bu Heni tidak memuaskan Bu Heni. Di satu sisi, ia memang lega. Karena sudah jelas, suaminyalah yang punya masa kecil seperti si bungsu: rewel! Tapi, apa yang dimaksud ibu kandung Bu Heni tentang masa kecil Bu Heni yang jorok itu?

Setahu Bu Heni, si bungsu malas sekali mandi dan suka main tanah kotor. Tapi, semua itu sudah terbantahkan kalau itu mirip Bu Heni. Bu Heni lagi-lagi bingung. Ia masih sangat penasaran dengan ucapan ibunya soal jorok itu. "Jorok seperti apa, ya?" rasa penasaran Bu Heni kian menjadi.

Bu Heni memperhatikan tingkah si bungsu dari balik kaca jendela. Berlari-larian kesana kemari. Dan suatu kali, si bungsu tampak diam. Ia begitu asyik melakukan sesuatu: jari telunjuknya masuk ke lubang hidung beberapa saat. Setelah itu, jari yang sama masuk juga ke mulut. Dan ini lebih lama dari yang pertama. Terdengar pelan dari mulut si bungsu, "Mmm..., acin!"

"Astaghfirullah!" sontak, mata Bu Heni terbelalak. Rasa penasarannya terasa seperti sudah terjawab. ([email protected])

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Jendela

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang