Putus Antena


Keharmonisan rumah tangga bergantung sejauhmana komunikasi terjalin. Sayangnya, tidak semua obrolan suami isteri punya nilai produktif. Karena antena yang tidak nyambung, obrolan bisa bikin masalah tambah ruwet.

Tiap suami isteri selalu mendambakan hubungan yang harmonis. Di antaranya, terjalinnya komunikasi yang lancar, bebas, dan terbuka. Lancar, di mana dan kapan pun bisa saling bicara. Bebas, tidak ada tekanan untuk mengungkapkan uneg-uneg. Dan terbuka, tidak main rahasia-rahasiaan.

Masalahnya, tidak semua obrolan yang dilakukan suami isteri punya manfaat langsung. Terlebih ketika komunikasi berlangsung tanpa antena. Ada yang terus bicara soal A, dan lainnya bicara urusan B. Obrolan memang sering. Tapi, hasilnya tak bisa membumi. Setidaknya, soal itulah yang kini kerap dirasakan Bu Kiki.

Enam tahun sudah hari pernikahan Bu Kiki dan suaminya berlalu. Seribu satu suka dan duka silih berganti datang menemani. Mulai dari urusan rumah, perabot, anak-anak, dan penghasilan keluarga.

Semua, insya Allah, bernilai positif. Suka bisa menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, bisa membuat laju gerak keluarga kian dinamis. Dan duka, mirip seperti guru; mengajarkan sebuah kesalahan dan melatih diri jadi kian dewasa. “Alhamdulillah!” ucap Bu Kiki mengenang semua itu.

Namun, ada satu hal yang belakangan ini membuat bingung ibu tiga anak ini. Pasalnya, obrolan antara Bu Kiki dan suaminya selalu tidak nyambung alias hang. Ia bicara ke arah selatan, sang suami ke utara. Bahkan, kadang Bu Kiki merasakan seperti bicara dengan radio yang sedang menyiarkan berita aktual.

Sering, Bu Kiki koreksi diri. Apa yang salah dari ia dan suaminya. Apa omongannya nggak jelas. Atau, Bu Kiki sendiri yang terlalu egois. Atau…? “Ah, nggak baik curiga sama suami,” bisik batin Bu Kiki lembut.

Tapi, ketidaknyambungan selalu terjadi. Kemarin saja, ketika Bu Kiki cerita soal bayaran sekolah anak-anak yang belum lunas, respon suami malah lain. “Negara memang sudah salah urus. Pengangguran kian banyak. Rakyat jadi makin susah!” ucap suami Bu Kiki sangat bersemangat. Setelah itu, ia pun berlalu seperti mencari sesuatu. Lha, soal bayaran sekolah? Bu Kiki tetap bingung.

Begitu pun ketika Bu Kiki ngasih tahu ke suami kalau atap dapur ada yang bocor. Suami mengangguk-angguk. Melihat itu, Bu Kiki pun mulai lega. Ia menduga, tak lama lagi suaminya akan cari tangga kemudian memperbaiki atap. Tapi, dugaan itu ternyata belum tepat.

Suami Bu Kiki yang sedang baca koran tetap di tempat. Tenang, suaminya berujar, “Sekarang, bencana makin banyak. Tsunami, gempa, cuaca yang kacau, banjir, angin ribut, longsor, demam berdarah! Ah, negara memang lagi SOS!” Lha, soal atap dapur yang bocor? Bu Kiki lagi-lagi dibikin bingung.

Masih ada beberapa kasus lain yang berujung sama. Mulai dari kompor rusak, si bungsu yang mogok makan, panci bocor, hingga selokan mampet. Semuanya selalu tidak nyambung. Lagi-lagi, negara dan pemerintah yang jadi sasaran.

“Ada apa dengan suami saya?” Bu Kiki menatap suaminya sebentar, kemudian kembali sibuk dengan rutinitas dapur. Dalam sibuk itu, pikirannya mencoba memastikan kalau keanehan itu terjadi baru-baru ini. Setidaknya, selama satu bulan. Aneh. “Ada apa, ya?” batin Bu Kiki mulai ikut bingung.

Apa ada masalah dengan kerjaan di kantor. Bu Kiki mulai menebak. Tapi, kayaknya lancar-lancar saja. Pagi berangkat, sore pulang. Tak ada keluhan soal urusan kantor. Begitu pun dengan tetangga. Hubungannya terlihat baik. Bahkan, suami Bu Kiki tetap aktif di lingkungan rumah. Terutama di masjid. Lalu, apa yang salah?

“Apa suami Bu Kiki ada yang numpangi?” tanya seorang teman dekat Bu Kiki suatu kali. Bu Kiki sedikit bingung. Dan bingung itu pun sirna ketika dijelaskan soal ‘numpangi’.

Apa iya? Apa mungkin suami Bu Kiki ditumpangi makhluk halus. “Astaghfirullah!” suara Bu Kiki membayangi itu. Kayaknya nggak mungkin. Soalnya, Bu Kiki yakin sekali kalau suaminya nyaris tak peduli dengan urusan yang ‘halus-halus’. Dia sangat rasional. Apalagi, suami Bu Kiki selalu zikir selepas salat Subuh.

Apa mungkin stres. Bu Kiki ragu untuk memastikan. Soalnya, suaminya tergolong stabil. Emosinya mengalir tenang. Di samping itu, walau satu bulan ini anggaran belanja kurang, uang tambahan bisa diusahakan cepat. Masih ada uang tabungan di rekening suami Bu Kiki. Kecuali…?!

Ya, kecuali ada sesuatu yang bertolak belakang. Sesuatu yang sebelumnya ia yakini bagus, kemudian berubah drastis. Itu boleh jadi bisa sebagai pukulan telak. Dan setelah itu, suami Bu Kiki bingung dan akhirnya membingungkan.

Lalu, apa yang salah dengan pemerintah yang selalu jadi sasaran suami Bu Kiki. Bukankah selama ini keadaannya memang begitu. Gonta-ganti pemerintah, korupsi tak pernah nyerah. Selalu tumbuh dan berkembang.

Bu Kiki menatap anak-anaknya yang sudah terlelap. Begitu damai. Hujan membuat malam benar-benar nyaman. Dan suara dengkur pun mulai terdengar dari balik kamar Bu Kiki. Suami Bu Kiki ternyata sudah sangat pulas.

Pelan, Bu Kiki mematikan lampu kamar. Klik! Dan, lampu pun padam. Tapi, Bu Kiki spontan kaget. “Listrik mati! BBM naik. SBY! SBY! Ini gara-gara SBY!” suara suami Bu Kiki tiba-tiba.

Bu Kiki tertegun. Matanya terus menatap sang suami yang kembali pulas. Dari hati kecilnya Bu Kiki cuma bisa mengatakan, “Kasihan suamiku. Dulu begitu ikhlas jadi tim sukses. Sekarang benci sampai kebawa mimpi. Astaghfirullah…”

([email protected])