Rasa Syukur

Muhammad Nuh – Selasa, 26 Ramadhan 1430 H / 15 September 2009 09:54 WIB


Ungkapan syukur muncul dari bagaimana cara pandang melihat anugerah. Sekecil apa pun nikmat jika dilihat dari sudut yang lebih kecil, yang muncul selalu syukur: ah, masih ada yang lebih kurang. Tapi sayangnya, kadang satu bisa lebih besar dari dua.

Nikmat Allah begitu besar buat hamba-hamba-Nya. Dalam hal apa pun, tak ada nikmat yang luput pada diri seorang hamba Allah. Termasuk dalam kehidupan keluarga.

Siapa pun pernah, bahkan mungkin sedang, merasakan betapa tidak enaknya melalui hidup dengan sendiri. Dunia menjadi terasa sempit, sederhana, dan berputar di situ-situ saja. Jangan heran jika para lajang lebih gampang stres daripada yang sudah nikah.

Masih banyak kenikmatan lain yang tak lagi bisa terhitung. Ada nikmat zhahir berupa penambahan materi. Dan juga nikmat batin karena hidup terasa lebih berharga.

Menariknya, rasa syukur bisa muncul tenggelam. Dan salah satu rumus agar ungkapan syukur tetap terjaga adalah dengan memandang yang lebih sedikit. Dan, mencermati mereka yang lebih kurang. Hal itulah yang kerap dilakukan Bu Sisri.

Sepertinya, tak ada ibu yang lebih bahagia dari Bu Sisri. Ibu tiga anak ini selalu bersyukur, apa pun pemberian Allah: sedikit, apalagi banyak. Lisannya seperti tak pernah kering dari kata ‘alhamdulillah’.

Padahal, kalau dilihat dari segi harta, Bu Sisri bukan orang kaya. Rumahnya tak lebih dari enam puluh meter persegi. Tidak tingkat, dan beratap genting biasa. Kalau hujan turun, Bu Sisri sudah terlatih meletakkan ember untuk menampung atap-atap yang bocor. Tapi, ia tetap bersyukur.

Yang selalu disikapi Bu Sisri tentang rumahnya cuma satu: masih banyak mereka yang tak punya rumah. Ia selalu menutup mata kalau ada tetangga, teman dekat yang punya rumah bagus. "Biarlah, itu rezeki mereka!" ucap Bu Sisri kepada anak-anaknya.

Hampir tiap hari, Bu Sisri mengunjungi tetangga yang rumahnya lebih kecil, lebih sempit, lebih sering bocor, dari rumah Bu Sisri sendiri. Ia paksakan dirinya menetap selama sedikitnya satu jam. Saat itulah ia bisa mendengarkan curhat para tetangga. Sedih. Jauh lebih sedih dari keadaan rumah Bu Sisri. Setelah itu, ia pun berujar pelan, "Alhamdulillah. Saya masih lebih baik, ya Allah!"

Yang paling membuat syukur Bu Sisri, soal kamar mandi. Bayangkan, rumah berukuran empat kali tiga meter yang berjajar sekitar sepuluh rumah dengan sepuluh keluarga cuma tersedia lima kamar mandi. Padahal, satu rumah bisa terdiri dari enam orang. Buat cuci muka saja, mereka mesti antri. Nggak kebayang sama Bu Sisri gimana kalau sudah kebelet buang air besar. Walau sederhana, Bu Sisri masih punya kamar mandi sendiri. Saat itulah, ia lagi-lagi bisa berucap, "Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah!"

Ternyata, rasa syukur Bu Sisri membawa berkah. Tanpa terduga sedikit pun, tanah rawa warisan dari mertuanya terjual mahal. Padahal, tanah seluas empat ratus meter per segi itu nyaris terlupakan suami dan Bu Sisri sendiri. Karena ada pembangunan jalan tembus, pemborong siap membeli tanah itu seharga satu juta per meter. Dengan kata lain, suami Bu Sisri dapat uang kaget senilai empat ratus juta rupiah. Subhanallah! Walhamdulillah!

Buat apa uang sebanyak itu? Bu Sisri bingung. Ia menyerahkan urusan itu ke suaminya. Toh, itu memang hak suaminya sendiri. Yang penting buat Bu Sisri, anak-anak tidak lagi bingung soal bayaran sekolah. Itu saja. Yang lain, terserah.

Sejak itu, memang ada perbedaan suasana keluarga Bu Sisri. Rumah sudah diperbaiki. Tidak lagi seperti dulu yang sering bocor. Lantai pun sudah keramik. Halaman rumah terpagari dengan apik. Pokoknya, menarik. Dan yang lebih penting, anak-anak tidak lagi tidur di sembarang tempat. Karena kamar tidur mereka sudah dibangun di lantai atas.

Bu Sisri bahagia? Tentu saja. Ia sangat bahagia, bersyukur dengan nikmat yang melimpah. Tapi, ia merasakan sesuatu yang lain dari suaminya. Suami Bu Sisri jadi sering keluar kota. Setidaknya, itu yang didengar Bu Sisri dari mulut suaminya ketika beberapa hari tidak pulang. Yang tidak mengenakkan, suami Bu Sisri kerap acuh dengan suasana keluarga.

Seperti biasa, untuk menjaga syukurnya, Bu Sisri berkunjung ke orang yang lebih tidak enak dibanding dirinya. Teman akrab ketika di Rohis SMU dulu menjadi pilihan Bu Sisri. Beberapa tahun lalu ia pernah dengar dari temannya yang lain kalau sahabat dekatnya ini ditinggal suami buat selamanya. Suaminya meninggal dunia karena kecelakaan. Dan belum satu anak pun yang mereka dapatkan. Tanpa suami, tanpa anak. "Kasihan!" ucap batin Bu Sisri mengingat itu. Walau mesti menempuh perjalanan hampir empat jam, Bu Sisri rela bercapek-capek demi menyegarkan rasa syukurnya itu.

Saat pertemuan itulah, Bu Sisri sempat menitikkan air mata. Ia dengarkan semua cerita hidup sahabatnya itu. Sesekali, tangannya sibuk menggosok tetesan air mata yang kadang membasah di sekitar mata dan pipinya. Saat itulah, rasa syukurnya pulih. Betapa tidak enaknya hidup tanpa suami. "Alhamdulillah, ya Allah. Saya masih punya suami," ucap batin Bu Sisri menyegarkan hatinya.

Panjang lebar cerita teman Bu Sisri hingga suatu kali, "Alhamdulillah, saya sekarang sudah nikah lagi. Satu bulan lalu." Bu Sisri pun ikut tersenyum. "Alhamdulillah," ucap Bu Sisri menimpali. "Dengan siapa?" tanya Bu Sisri kemudian.

Sang teman beranjak sebentar. Ia pun kembali dengan sebuah foto yang berbingkai antik. Di situ ada foto sang teman dengan busana istimewa bersama suami barunya.

"Suami?" suara batin Bu Sisri terputus. Ia mulai gelisah dengan foto itu. Wajahnya tampak berkeringat. "Namanya?" tanya Bu Sisri agak gemetar. Dan, hampir saja Bu Sisri pingsan. Pasalnya, nama yang disebut sang teman persis dengan nama suaminya.

Jendela Terbaru

blog comments powered by Disqus