Sayur Asem

Muhammad Nuh – Senin, 21 Rajab 1430 H / 13 Juli 2009 16:09 WIB


Lidah memang punya keunikan sendiri. Di satu sisi, alat tubuh inilah yang kerap digunakan untuk berbohong. Tapi di sisi lain, justru ia tak pernah bohong dalam satu hal: rasa. Orang pun mengatakan, rasa memang nggak pernah bohong!

Kehidupan berumah tangga persis seperti sekolah alam. Di situlah orang belajar banyak tentang berbagai hal. Mulai menejmen, administrasi, keuangan, komunikasi, juga soal kepribadian.

Dari madrasah keluargalah orang menjadi makin pintar dan pengalaman. Pintar karena berkembangnya kemampuan memilih dan memilah mana yang baik dan buruk. Dan pengalaman ketika kepiawaian kian tumbuh saat menyikapi tingkah polah lingkungan.

Dari pintar dan pengalaman itu, orang pun menjadi semakin bijak. Mungkin, masyarakat biasa menyebutnya C3: cool, calm, confident. Dalam soal apa pun, termasuk ketika mesti berbohong demi sebuah kebaikan. Hal itulah yang kerap dirasakan Pak Agus.

Sebenarnya, berbohong bukan tipe Pak Agus. Ayah dua anak ini yakin kalau seumur-umur, baru soal ini ia tega berkata tidak sejujurnya. Dan itu pun ia lakukan setelah dapat jawaban dari seorang ustadz, kalau berbohong demi menutup aib isteri itu boleh. Aib isteri?

Kayaknya, nggak pas kalau disebut aib. Pak Agus yakin, itu bukan aib. Tapi lebih kepada skill, atau keterampilan. Pasalnya, hingga punya anak dua ini, isteri Pak Agus belum mahir masak. Lalu, apa yang salah kalau isteri nggak jago masak? Bukankah banyak ibu-ibu pejabat yang nggak bisa masak?

Persoalannya bukan di situ. Bukan soal sekadar isteri nggak bisa masak. Bukan juga karena tidak ada biaya buat gaji khadimah ngebantuin masak. Insya Allah, Pak Agus paham kalau itu bukan masalah. Tapi, ada percaya diri isteri Pak Agus yang teramat hebat. Dan percaya diri itulah yang membuat dilema Pak Agus.

Setelah punya rumah sendiri, Pak Agus dan isteri mencoba menata kehidupan keluarga yang seimbang, serasi, dan mandiri. Termasuk dalam soal masak memasak. Kalau sebelumnya, masakan seratus persen ditangani orang tua, kini isteri Pak Agus belajar masak sendiri. Sebuah langkah yang sangat dikagumi para suami.

Bayangkan jika dapur keluarga ada di warung padang, restoran, kafe, rumah makan siap saji. Wah, biaya keluarga bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat. Dampak itu mungkin masih belum seberapa. Ada yang jauh lebih berharga dari sekadar pengeluaran. Kalau yang masak isteri, ada hubungan batin antara suami, isteri, dan anak-anak. Ketika makan, suami ingat isteri, anak-anak ingat ibu: betapa mahal jerih payah isteri atau ibu, hingga menghasilkan masakan yang begini lezat, sehat, dan bergizi. Subhanallah. Itulah perekat cinta yang paling mahal, langgeng, dan kokoh.

Sampai di situ, Pak Agus sangat bahagia. Ia begitu bersyukur punya isteri yang punya penilaian teliti soal masak sendiri. Tapi, soal percaya diri isteri itu yang bikin repot sang suami. Walau masakannya masih jauh dari enak, apalagi lezat, isteri Pak Agus selalu yakin seyakin-yakinnya kalau masakannya pasti digemari orang. Setidaknya, Pak Agus bisa jadi sampel.

Tiap kali makan bersama, isteri Pak Agus menatap lekat reaksi wajah sang suami. Senyumnya menghias wajahnya yang polos. Dan hatinya pun berbunga-bunga menerka pujian apa yang akan disampaikan suami. Tapi kadang, ia lebih tidak sabar menanti reaksi lama itu. Isteri Pak Agus pun kerap berujar, “Enak kan! Enak kan, Mas!”

Kalau sudah begitu, Pak Agus tak bisa berbuat banyak kecuali senyum. Dan ketidaksabaran isteri menanti reaksi pun ia balas dengan baik, “Hmm, nikmatnya. Belum pernah aku rasakan sayur asem seperti ini. Hmm, nikmat!” Pak Agus pun mencoba makan dengan lahap.

Tapi setelah itu, ada satu hal yang selalu terjadi tiap kali sayur asem tersantap habis. Pak Agus langsung ke belakang. Perutnya mulas. Dan ia pun diajari perutnya tentang ikhlas. Lepas, tanpa ganjalan.

Masakan primadona sayur asem itulah yang akhirnya jadi obat mujarab buat Pak Agus. Tiap kali ia mengalami sembelit, ia minta dibuatkan sayur asem. Cuma, sembelit itu ia rahasiakan buat dirinya sendiri. Beberapa saat setelah menyantap sayur yang sebenarnya teramat asem itu, sembelitnya pun langsung sembuh. Bahkan, sangat sembuh.

Hampir tiap bulan, isteri Pak Agus selalu mencoba resep baru. Beberapa majalah ia kumpulkan, ia teliti, dan akhirnya ia coba. Ada resep ayam panggang ala Solo, gado-gado Betawi, olahan ikan khas Makasar, dan masih banyak resep daerah lain. Biasanya, untuk memastikan kalau masakannya selalu sukses, Pak Aguslah yang diberikan kehormatan sebagai pencicip pertama.

Reaksi Pak Agus pun selalu sama, “Subhanallah, mantap. Jarang yang bisa masak begini!” Dan, isteri Pak Agus pun tersenyum puas. Menariknya, isteri Pak Agus tak akan mencoba sedikit pun hasil masakannya sebelum Pak Agus mencoba. Dan seperti biasa, sebelum ada komentar dari suami, isteri Pak Agus selalu bilang, “Enak kan! Enak kan, Mas. Ya, kan!”

Sayangnya, anak-anak belum pernah mencoba masakan ibu mereka. Pak Agus selalu melarang. Alasannya sederhana, mereka masih balita. Pencernaannya belum cocok buat masakan luar biasa buatan ibunya. Dan isteri Pak Agus pun setuju. “Benar, Mas. Anak-anak cukup telor ceplok sama ayam goreng aja!” ujar sang isteri menyetujui.

Ada keinginan isteri Pak Agus yang sulit terbendung. Ia ingin masakan primadonanya, sayur asem, bisa dicicipi para tetangga. Dan sayur asem pun sudah tersaji dalam kemasan cantik yang sudah ia siapkan. Saat itu juga, Pak Agus mengatakan, “Biar Mas yang bawakan. Ibu istirahat saja. Supaya keikhlasan ibu tetap terjaga.” Isteri Pak Agus pun mengangguk setuju.

Sore itu, isteri Pak Agus sedang duduk di beranda depan ketika beberapa tetangga menyapa ramah. “Bu, terima kasih ya. Masakannya enak, lo. Soto babat ibu benar-benar mantap! Kemasannya juga bagus,” ujar mereka hampir bersamaan.

Tinggal isteri Pak Agus yang tetap terdiam seribu bahasa. Perhatiannya bukan lagi ke para tetangga. Ia cuma memikirkan satu hal: soto babat? Bukan sayur asem?

Jendela Terbaru

blog comments powered by Disqus