Berlindung dari Sifat Kikir

Redaksi – Rabu, 21 Jumadil Akhir 1434 H / 1 Mei 2013 10:01 WIB

1 1Rasulullah selalu memohon kepada Allah agar terlindung dari sifat pengecut dan kikir. “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir…!” Itulah kalimat yang terucap oleh Rasulullah Saw dalam doanya kepada Allah Ta’ala. (HR. Bukhari & Muslim)

Seseorang yang sadar dan membutuhkan rahmat Tuhannya, akan senantiasa berlindung dari sifat kikir. Sebab sifat tersebut amat merugikan bahkan membinasakan manusia.

Sedikitnya ada tiga kerugian yang akan dialami manusia saat dirinya dikuasai sifat kikir atau pelit, dan hal itu tidak memberikan keuntungan sedikitpun baginya.

Pertama, ia akan jauh dari Allah Swt, yang berarti tidak akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.
Kedua, ia akan jauh dari manusia, sebab tidak seorang pun yang suka bergaul dengan manusia kikir.
Ketiga, berpeluang masuk ke dalam neraka, sebab hidupnya tiada lagi berarti.

Di mata Allah Swt ia hina dan bagi manusia ia dianggap sebagai lawan. (Al hadits)

Inilah sebuah kisah dari negeri antah berantah, menggambarkan bagaimana seorang yang bersifat kikir akan dibenci manusia.

Pagi itu istana raja digemparkan oleh sebuah masalah. Masalah yang amat memalukan dan membuat muak banyak manusia.

Diawali dengan kedatangan seorang pria. Pria ini terkenal dengan sifatnya yang amat kikir lagi tamak. Ia datang pagi-pagi sekali untuk mengadukan sebuah masalah.

“Paduka raja…, aku datang hendak mengadukan sesuatu padamu. Sebagai pimpinan negeri, kiranya kau berhak memutuskan dengan adil!” Pria kikir itu memulai pembicaraan.

“Silahkan utarakan apa yang kau inginkan, wahai pria!” sambut raja dengan suara berwibawa.

“Saya adalah seorang yang hidup berkecukupan. Aku mulai hidup dari ketiadaan. Sebab aku berjuang keras, maka akhirnya aku pun banyak memiliki harta. Sebagaimana paduka tahu bahwa tidak mudah untuk hidup sebagai manusia. Segalanya harus dengan biaya dan ada harganya.” Pria kikir itu mengutarakan.

“Teruskan….!” Paduka mempersilakan.
Aku memiliki tetangga yang tinggal di sebelah rumah. Mereka adalah dua anak yatim yang telah lama ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Sejak orang tua mereka meninggal, tiada seorang pun yang berkenan menjamin hidup mereka. Hingga badan mereka kurus kering bagai tulang berbalut kulit saja.” kata pria itu lagi

Dua bulan terakhir, aku dapati tubuh mereka bertambah gemuk. Aku coba menyelidiki. Tiada hal yang pasti mereka makan setiap hari. Aku pun berkesimpulan bahwa mereka menjadi gemuk sebab mencium aroma masakan dari rumahku.

Menurutku, ini adalah sebuah bentuk pencurian. Kalau saja, tidak ada aroma masakan dari rumahku, tentulah badan mereka tidak menjadi gemuk” imbuhnya.

Paduka raja mengernyitkan mata tanda mencibir. Beliau dan seluruh orang yang mendengarkan penuturan pria kikir ini menjadi muak. Namun paduka raja mencoba untuk menguasai diri.
Ia bertanya, “Lalu apa yang hendak engkau sampaikan…?!”
“Aku hendak meminta ganti rugi sebesar 1.000 dinar kepada dua anak yatim itu, wahai paduka raja! Atau jika mereka tak mampu, keduanya akan aku jadikan budak dan kemudian aku jual di pasar!” Pria kikir itu berkata lantang tanpa surut.

Paduka raja bingung menyikapi hal ini. Ia meminta pendapat seluruh menteri yang ada untuk memberikan masukan atas keputusan yang akan ia buat. Namun, semua menteri terdiam. Mereka juga bingung dan tak memiliki sikap atas kasus ini.

Sungguh, mereka semua merasa benci terhadap pria kikir ini. Namun, mereka sendiri tidak mengerti hendak berkata apa? Semua berdiam diri tak bergeming, hingga terdengarlah suara seorang pria yang tiada lain adalah seorang penjaga istana.

“Paduka…, izinkan saya untuk berbicara memberi pendapat!” kata penjaga istana. “Silahkan saja…!” raja menukas.

“Menurutku, pria yang mengadukan masalahnya ini adalah benar adanya. Ia berhak menuntut ganti rugi sebesar 1.000 dinar tersebut dari kedua anak yatim yang ia ceritakan.
Bila keduanya tidak mau dijadikan budak kemudian dijual oleh pria ini, maka kiranya paduka raja berkenan untuk meminjamkannya terlebih dahulu dan izinkan aku untuk melakukan pembayaran.” pria itu menjelaskan.
Paduka raja masih belum mengerti maksud penjaga istananya.

Semburat kebingungan terbias dari raut wajah beliau. Namun, beliau terpaksa mengiyakan pendapat penjaga istana saat beliau melihat kerlingan mata darinya tanda ada sebuah konspirasi yang hendak dibangun.

Paduka raja kemudian berkata, “Baiklah, aku akan pinjamkan uang sebanyak 1.000 dinar itu pada kedua anak yatim tersebut.” Alangkah gembiranya hati si pria kikir saat mendengar bahwa gugatannya dimenangkan. Terbayang dibenaknya bahwa sebentar lagi ia akan menerima uang sebanyak itu.

“Izinkan aku untuk menghadirkan kedua anak yatim itu, wahai paduka!” penjaga istana berkata sekali lagi.

Beberapa orang pengawal kemudian diperintah untuk menjemput kedua anak yatim yang dimaksud. Sesampainya di istana maka mereka pun didudukkan di kursi pesakitan. Warna wajah mereka memerah ketika semua orang di istana melemparkan pandangan penuh tuduhan kepada mereka.

Ruang di depan mahligai raja rupanya telah dibagi dua. Terpisah oleh sebuah tabir tipis transparan yang telah disiapkan. Pria kikir di tempatkan di sebelah kiri tabir, sementara kedua anak yatim di sebelah kanan.

Penjaga istana lalu berdiri menghampiri raja. Ia bermaksud mengambil uang pinjaman sejumlah 1.000 dinar yang raja janjikan. Paduka pun lalu memberikannya.
Penjaga istana kemudian berkata,
“Wahai anak-anakku…., dengan kemurahan hati Paduka Raja meminjamkan uang sebesar 1.000 dinar kepada kalian. Uang ini dipinjamkan, sebab bapak ini mengadukan bahwa kalian telah mencuri aroma makanan yang berasal dari rumahnya.

Karena aroma masakan itu, kalian menjadi gemuk. Ia menuntut ganti rugi sebesar 1.000 dinar atau kalau tidak kalian akan dijual sebagai budak!”

Kedua yatim itu terkejut mendengarnya, namun mereka tidak bisa berkata apapun. Penjaga istana menambahkan, “Nah… sebelum uang ini diberikan kepada bapak itu… kalian harus terlebih dahulu menghitung uang dinar ini. Bapak yang ada di sebelah tabir pun boleh melihat dari balik tabir dan menghitung kebenaran jumlahnya.
Sekarang…, mulailah melakukan penghitungan!” “Satu… dua… tiga… empat puluh lima…. seratus delapan puluh satu….tujuh ratus sembilan puluh dua…. sembilan ratus sembilan puluh sembilan…. dan seribu!” kedua anak yatim itu merampungkan hitungan dan diikuti  pria kikir di balik tabir.

Pria kikir itu tersenyum bahagia. Ia senang dan membayangkan bahwa ia akan mendapatkan uang sebanyak itu sebentar lagi.

Kemudian penjaga istana yang bertindak sebagai hakim meminta kembali uang itu dari kedua yatim tadi. Namun setelah uang itu ia terima, ia tidak menyerahkannya kepada pria kikir yang berdiri penuh harap.

Uang itu malah dikembalikan kepada raja, dan penjaga istana itu berkata kepada raja, “Masalah telah selesai wahai paduka dan setiap pihak sudah mendapatkan haknya!”

Raja tersenyum. Ia tahu bahwa penjaga istana sedang membuat trik demi mengecoh emosi pria kikir tadi.
Benar saja…., demi melihat uang dikembalikan dan mendengar apa yang baru diucapkan oleh penjaga istana, si manusia kikir langsung berteriak, “Wahai paduka, mana uang itu… mengapa tidak diberikan langsung kepadaku?!”

Penjaga istana berkata dengan nada bijak, “Bukankah engkau telah turut menghitungnya sehingga engkau merasa senang bahkan tersenyum saat penghitungan dilakukan? Engkau telah mendapatkan hakmu karena engkau telah merasa senang. Itu sama halnya dengan apa yang diterima oleh kedua yatim tersebut.

Mereka menjadi gemuk sebab mereka senang karena telah mencium aroma masakan yang berasal dari rumahmu. Nah… sekarang pulanglah kalian semua. Masalah kalian telah kami selesaikan!”

Semua orang yang hadir di istana baru mengerti apa yang dimaksud penjaga istana selama ini. Sorak-sorai riuh rendah terdengar bergemuruh dalam istana raja siang itu. Semuanya senang sebab kekikiran telah dikalahkan.

Sementara pria kikir tadi berjalan pulang meninggalkan istana dengan penuh rasa malu dan penyesalan.

Demikianlah sekelumit hikmah yang menyatakan bahwa sifat kikir tiada memberi keuntungan apapun bagi pemiliknya.

Karenanya, mohonkanlah perlindungan kepada Allah Swt agar senantiasa diri kita dijaga dari sifat tercela ini.

Terakhir, Allah Swt berpesan untuk kita semua hamba-Nya: “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Thaghabun, 64:16)

Bobby Herwibowo

Tafakur Terbaru

blog comments powered by Disqus