eramuslim

Ini Analisa Rizal Ramli Soal Utang Rp.4.700 TRILIUN

Eramuslim.com - Utang akibat Neoliberalisme ekonomi mencapai R$p4700 trilyun atau US$350 miliar. Dengan melemahnya rupiah, utang dan bunganya naik lagi, sungguh mencemaskan. Mikirkah Menkeu Sri Mulyani untuk membayarnya?

Lalu rakyat dikejar pajak, dunia usaha dikejar pajak, para pegawai negeri/pensiunan dikejar pajak dan sengsaralah bangsa ini untuk dipaksa membayar utang dengan cara diperas lewat pajak. Bagaimana dan dari mana rakyat sanggup bayar utang yang ugal-ugalan dan ngawur itu? Demikian keprihatinan, kekesalan dan kepedihan teknokrat senior Rizal Ramli PhD (mantan Menko Perekonomian dan Menko Kemaritiman) yang kini capres rakyat.

Ekonomi negeri ini sudah tidak adil, kata RR, sebab golongan kaya makin kaya dan golongan miskin makin marginal dan lemah, tidak ada perlindungan dari negara. ''Ini bukan kegagalan pasar, tapi kegagalan negara akibat Neokolonialisme/Neoliberalisme dan ekonomi nasional hadapi keterpurukan lebih dalam,'' tegas RR.

Rizal Ramli (RR), sang Rajawali Bangkit, mengingatkan, Nawa Cita, Trisakti, dan Jokowinomics dibunuh neoliberalisme Menkeu neolib Sri Mulyani-Menko Darmin Nasution-Meneg BUMN Rini Soemarno. Tim neolib ini gagal dan ambruk karena ekonomi memburuk, rupiah terus melemah dan daya beli rakyat terpuruk, dengan beban utang Rp4700 trilyun. Dan besarnya nominal utang Indonesia menjadi keresahan dan kekhawatiran rakyat banyak yang berpendidikan SLTA dan perguruan tinggi.

’Sangat menakutkan, dan memiskinkan rakyat dimana sumber daya ekonomi dan sumber daya alam makin tergerus dan makin langka, dari mana uang untuk membayar utang itu? Pasalnya, utang Sri Mulyani cs atas nama pemerintahan Jokowi-JK ini mencapai US$350 miliar atau hampir Rp 4.700 triliun,’’ kata tokoh nasional Rizal Ramli PD, ekonom senior pengusung Trisakti, Ekonomi Kerakyatan dan pasal 33 UUD45.

RR sangat prihatin dan khawatir, bahwa ekonomi Jokowi terus memburuk, terancam gagal bayar atau bangkrut akibat ‘’besar pasak dari tiang’’, ditambah proteksionisme AS era Trump, merosotnya ekspor dan melemahnya ekonomi global. ‘’Sementara jurang kaya-miskin di negeri ini melebar tajam, korupsi di Indonesia merajalela, dunia usaha dikejar pajak, sektor riil memburuk, daya beli rakyat terpuruk dan sector industri mengalami de-industrialisasi, pengangguran membludak, masyarakat terbelah antara Islam dan bukan Islam akibat kasus Ahok, dan Neokolonialisme Sri Mulyani cs makin menggilas rakyat yang sudah marginal. Ini sangat memprihatikan saya,’’ kata RR.

Dr Rizal Ramli (RR), sang ekonom terkemuka Indonesia, menegaskan alasan dirinya siap jadi Capres Rakyat 2019. ‘ ‘Karena saya prihatin, masih banyak (40 persen) warga kita yang miskin dan karena presiden banyak diintervensi oleh kekuatan-kekuatan besar dari dalam dan luar negeri, sehingga kebijakan-kebijakan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang bagus untuk rakyat Indonesia, dibatalkan. Untuk itulah, saya siap untuk memimpin Indonesia agar lebih baik, lebih adil dan lebih makmur,’’ tegas RR dalam acara Mata Najwa TV 7 semalam.

''Karena kita membutuhkan kompetisi visi, rekam jejak & kompetensi. Kita peduli dengan masa depan generasi milenial Indonesia yg mempunyai banyak pilihan kerja dg cara optimalkan potensi sumber daya alam yg melimpah. Krn itu kita butuh pertumb ekonomi yg lebih tinggi lagi, dan saya akan genjot pertumbuhan ekonomi 10 persen selama lima tahun agar bangsa kita bangkit dan maju. Jepang tumbuh 12 persen selama 20 tahun, RRC tumbuh 12 persen selama lebih 20 tahun, Indonesia pun bisa,'' kata RR.

Rizal Ramli mengungkapkan selama di dalam sistem pemerintahan di era Gus Dur, ia telah melakukan beberapa terobosan penting baik dalam bidang politik dan ekonomi. Di pemerintahan Gus Dus yang hanya 21 bulan, ia terbukti berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari tiga persen ke 4,5 persen dalam waktu 21 bulan.

"Kami satu-satunya pemerintahan di era Gus Dus yang berhasil mengurangi hutang adalah pemerintahan Gus Dur minus 4,5 miliar dolar. Kami naikkan ekspor dua kali dalam 21 bulan, kami naikkan gaji PNS dua kali dalam 21 bulan total 125 persen. Kami tekan gini indeks terendah dalam sejarah Indonesia modern hanya 0,31. Kami jaga harga pangan stabil tanpa impor," ujar RR, tim editor buku Simponi, karya almarhum Menkeu Drs. Frans Seda itu.(kl/kfr)