Mempraktekkan Islam, No Excuse for Shalat (1)

Pengantar

Awalnya saya sempat berpikir, judul apa yang lebih tepat untuk tulisan saya yang kedua ini. Bila saya memberi judul, Cerita Tersembunyi di Bumi ALLAH bagian 2, entah kenapa saya merasa cukuplah yang layak hanya satu tetap menjadi satu, tanpa ada yang kedua. Saya merasa tulisan pertama saya lebih layak disebut cerita. Ya, karena lebih kronologis dan tertata. Tetapi tulisan kedua ini bagi saya layaknya hanya berupa catatan, potongan-potongan yang berusaha saya satukan. Saya juga merasa tulisan kedua ini sedikit lebih detail dan kadang agak sedikit berterus terang. Tetapi adakah ketenangan selain dengan kejujuran?

Saudaraku, saya tidaklah punya perbendaharaan yang banyak. Tetapi bila saya punya yang bisa dibagi, maka insyaALLAH saya akan berusaha agar ia tidak saya sendiri yang menikmati. Anggaplah tulisan ini hanya salah satu cara saya untuk berbagi. Ya, adakah yang jumlahnya menjadi berkali kecuali dengan berbagi?

Tetapi tolong saudaraku. Kebenaran sekaligus keselamatan itu hanya dari Al Quran dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi jangan berharap mendapatkan kebenaran sekaligus keselamatan selain dari keduanya. Apa yang baik dari tulisan ini ambillah, dan apa yang buruk buanglah, dan bila saudaraku berkenan, tolonglah doakan si penulis mendapatkan ampunan dari Dia Yang Maha Teliti dan Maha Pengampun.

Burung-burung itu berkicau menyapaku Bagaimana mereka tidak menyapa Mereka tahu bahwa tidaklah hatiku membalas kicauan mereka, kecuali juga untuk menyapa-Nya

Burung-burung itu bermain menunjukkan atraksi mereka Semakin kulihat, semakin mereka perlihatkan gerakan yang tak kuduga Mereka senang dan hanya ingin membuatku senang Bagaimana mereka tidak senang Ketika yang lain mengabaikan mereka, mereka tahu, tidaklah aku menyadari betapa lemahnya diriku memahami gerakan mereka, kecuali dengan begitulah aku mengagungkan-Nya

Kuncup bunga sudah terllihat Begitulah seterusnya keindahan alam dipahat Maka bagi mereka yang kesia-siaan lewat setiap saat Adakah yang lebih rugi dari mereka yang tidak mau juga mendekat?

Akhukum, Kahfi

Mempraktekkan Islam, No Excuse for Shalat

Yang membuat hati saya tenang menjawab bagaimana melakukan shalat di suatu tempat di mana tidak ada ruang khusus untuk shalat hanyalah keyakinan bahwa sesungguhnya tiap jengkal muka bumi ini adalah bumi ALLAH, dan itu berarti tiap jengkalnya adalah tempat sujud. Ya, hanya itu. Itulah alasan kenapa saya begitu mudah shalat hanya di koridor sepi Energielabor, yang kadang dilewati orang untuk mengambil hasil print lembar kerja mereka.

Bahkan Chandra biasanya sudah bisa menebak jika ketika kami ada istirahat sebentar di sela-sela kuliah, saya terlihat keluar dari kamar mandi dan menuju koridor tersebut. Walau ia bertanya saya hendak kemana, tetapi sebenarnya ia sudah tahu apa yang hendak saya kerjakan. Suatu saat ketika kami sedang excursion, dan singgah di suatu perusahaan yang memproduksi solar thermal storage , saya bertanya pada Hans, koordinator excursion kami bahwa saya hendak shalat, dan hanya membutuhkan space 1 x 2 m.

Hans sendiri mengerti keinginan saya itu, karena ia juga adalah seorang yang aktif di gereja di Oldenburg, dan dahulu pernah tinggal di Arab Saudi ketika kecil. Maka Hans bertanya pada staf perusahaan yang memandu kami, dan membawa kami ke suatu ruangan yang disebut Pausenraum , yang biasanya dipakai para pekerja untuk sekedar melepas penat, makan, atau bercengkrama ketika istirahat. Ketika itu saya shalat bersama Kadura, suami Rania yang juga ikut rombongan kami.

Ketika dahulu saya datang ke Juelich untuk wawancara, maka selesai dari wawancara tersebut saya berkunjung ke ruangan Dr. Steinberger, karena kami berencana akan ke Oldenburg dengan mobilnya. Dr. Steinberger sendiri tidak tinggal di Oldenburg, tetapi di Varel, sekitar 30 km dari Oldenburg. Biasanya Jumat sore ia pulang ke Oldenburg, dan selama kerja di Juelich, ia hanya tinggal di Dueren, kota terdekat yang lebih besar. Biasanya ia pulang ke Oldenburg dengan kereta, hanya sekali dalam tiap bulan ia membawa mobil dari Juelich ke Oldenburg. Dr. Steinberger lalu membawa saya ke ruangan rapat institut dan memberikan kunci ruangan itu pada saya.

Ketika saya hanya mengatakan bahwa saya hanya butuh space 1 x 2 m, Dr. Steinberger menjawab bahwa ia hanya ingin mencari tempat yang cocok, di mana tidak ada orang ramai lalu lalang, karena khawatir ibadah saya terganggu. Ketika kemudian saya mengerjakan tesis di Forschungszentrum Juelich, rekan seruangan saya yang pertama, Denise, malah mengerti kebutuhan saya sebagai seorang muslim untuk menunaikan shalat. Ia mengatakan bahwa di institut kami juga ada seorang muslim, Raba, namanya, saudara saya dari Maroko. Maka Denise kemudian mencari Raba, dan bertanya padanya di mana tempat yang pas untuk saya melakukan shalat.

Denise kemudian menunjukkan pada saya Pausenraum yang ada di institut kami. Pausenraum ini hanya dipakai ketika jam makan siang, setelah itu kosong. Pausenraum inilah yang sampai sekarang saya gunakan untuk shalat zuhur dan ashar di institut. Untuk shalat maghrib atau isya, biasanya saya shalat di ruangan saya. Ada pelajaran menarik yang saya dapati dari Denise, di mana sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya. Ketika pertama kali seruangan dengan dia, saya katakan bahwa saya shalat di ruangan ini, hanya saja ketika itu dia tidak ada. Denise kemudian menjawab bahwa dia tidak punya masalah bila saya shalat di ruangan, hanya saja dia khawatir jika ada orang lain yang masuk ke ruangan, sedangkan dia tidak ada, kemudian melihat saya melakukan gerakan yang aneh, maka orang itu segera memanggil security karena mengira saya gila, waktu itu Denise mengistilahkan dengan collapse.

Ruangan yang saya tempati memang sering dimasuki orang, biasanya kolega Denise. Mendengar penjelasan Denise, saya menjadi berpikir juga. Ketika di kampus, saya sering shalat di bagian dekat tangga yang sepi di gedung universitas, dan biasanya saya tidak pernah khawatir bila orang lalu lalang melihat saya. Bahkan pernah teman kuliah saya dari Perancis, Yan, mengajak saya untuk mengobrol, padahal ketika itu saya sedang berdiri dalam shalat. Tetapi memang bila dibandingkan dengan research center yang tingkat pengamanannya termasuk ketat ini, saya harus mempertimbangkan lagi tempat-tempat yang lebih tepat untuk melakukan shalat.

Frau Wiergraeber pernah menanyakan pada saya apakah saya tetap shalat ketika bekerja. Saya tentu menjawab ya. Dia malah terheran dan kemudian bertanya bagaimana saya melakukannya. Maka saya jelaskan apa yang biasanya saya lakukan ketika di institut. Frau Weiergraeber ini lucu. Ketika awal Ramadhan, maka saya katakan padanya bahwa saya akan sering ke dapur pagi-pagi gelap, jadi minta dimaklumi bila istirahatnya menjadi terganggu mendengar kesibukan saya di dapur menyiapkan makanan di waktu sahur. Ketika ia bertanya berapa lama saya harus puasa, maka saya pun menjawab sebulan penuh, kata pertama yang meluncur dari mulutnya adalah, „verruckt !“. Ya, gila, begitulah pikirnya.

Bagaimana mungkin manusia tidak makan dari sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam, selama sebulan lagi. Saya yang melihat wajah Frau Weiergraeber diliputi keheranan seakan tak percaya, hanya tertawa dan mengatakan, „Frau Weiergraeber, saya sendiri juga aneh. Ketika saya tidak sedang berpuasa, maka melewatkan makan siang saja biasanya perut saya sudah terasa sakit. Tetapi bila berpuasa, malah tidak ada kesulitan seperti itu.“ Kalimat ini juga pernah saya utarakan pada Katrin, staf universitas yang khusus menangani urusan mahasiswa asing, ketika suatu saat ada jamuan makan universitas yang bertepatan dengan 1 Syawal.

Cerita menarik lainnya juga terjadi ketika dalam masa excursion. Saya, Stanley, Chandra, dan Scott, waktu itu sekamar. Stanley dan Chandra sudah paham kebiasaan shalat saya, tetapi Scott belum. Waktu itu masih musim panas, sehingga waktu isya baru masuk pukul 11 malam. Tentu saja jam itu sudah jam tidur. Lampu kamar kami sudah dimatikan. Saya pun kemudian bangun dan menuju kamar mandi mengambil wudhu. Awalnya saya hendak menyalakan lampu agar mereka tahu bahwa saya shalat, tetapi melihat Scott yang menggunakan penutup mata, walau lampu pun sudah dimatikan, membuat saya mengurungkan niat saya itu.

Maka saya pun shalat di kegelapan kamar kami. Entah kenapa hati saya juga merasa bahwa salah seorang di antara kami akan bangun ketika saya masih shalat. Dan benar saja, yang bangun malah Scott. Ia ke kamar mandi tanpa menyadari saya yang sedang shalat. Sehabis dari kamar mandi, lampu kamar mandi yang masih menyala membuat ia dapat melihat jelas saya yang sedang melakukan shalat. Ia pun mendekati saya, dan berkata,“ Kahfi, are you OK?..Kahfi, are you OK?”. Ia seolah berusaha menangkap suara saya yang sedikit terdengar ketika membaca bacaan shalat, seolah menganggap saya menjawab kata-katanya. Terus terang waktu itu hanya satu hal yang saya takuti, Scott berteriak. Untungnya ketika tidak mendapat respon apa-apa dari saya, Scott kembali ke tempat tidurnya.

Esoknya kamar kami menjadi ramai karena kejadian itu. Scott akhirnya menyadari bahwa malam itu saya sedang melakukan shalat. Jadi ia akhirnya merasa lucu sendiri karena telah memperlakukan saya seolah-olah ada yang salah dengan diri saya. Menjawab komentarnya, saya hanya katakan padanya, “Scott, tahu tidak apa yang aku takutkan malam itu?” Ia lalu bertanya, “Apa?” Maka saya katakan, “Aku takut kamu berteriak.“ Tentu saja kami seruangan ini tertawa. Cerita ini malah diceritakan lagi oleh Scott pada teman-teman kami yang lain ketika kami makan bersama, sampai Craig pun menghampiri saya dan bercanda mengenai tingkah Scott pada saya malam itu.(Bersambung)