Ir. Andan Nadriasta

Konsultasi Arsitektur

Konsultasi Arsitektur
bersama Ir. Andan Nadriasta

Kirim Pertanyaan

Ingin Rumah Namun Dana Terbatas

Kamis, 6 Mar 08 15:24 WIB

Assalamu'alaikum wr wb

Pak Andan di eramuslim.com

Saya mempunyai sebidang tanah dg ukuran 10 X 20 m. Rencananya saya ingin membangun rumah permanen diatasnya. Namun dengan harga bahan bangunan yang serba mahal belakangan ini, saya jadi ragu, sementara saya ingin secepatnya memiliki rumah sendiri.

Dana yang tersedia hanya berkisar 50 jutaan. Kira-Kira apa cukup pak dg dana yang minim tersebut. Walaupun dengan konsep yang sederhana sekali. Mohon sarannya Pak? Terima kasih atas Tanggapannya.

Wassalamu'Alaikum wr wb

Fasyah

Jawaban

Assalaamu'alaikum wr wb

Netters eramuslim.com yang saya hormati, apa kabarnya anda semua? Semoga senantiasa dalam keadaan baik dan limpahan taufik wal hidayah dari Allah sang penguasa cinta langit dan bumi.

Kali ini ada email dari saudara Fasyah. Maaf di Indonesia saya belum pernah mendengar nama Fasyah ini laki-laki atau perempuan. Sementara saya tanyakan kepada kawan saya di sini jika di Malaysia itu nama perempuan. Jadi saya tidak tahu harus memanggil bapak atau ibu. Mohon maaf sekali lagi.

Pertanyaan klasik ini sering datang dengan alasan kurang uang. Padahal tanah yang dimiliki luasnya 200 m2. Sebuah ukuran yang tidak bisa dibilang kecil. Untuk itu perlu sekali kita bersyukur dan optimis bahwa dana yang ada bukanlah 'hanya 50 juta-an'. Namun katakanlah dana yang ada adalah 'baru 50 juta-an'. Karenanya itu baru dana awal.

Karena jika tanah yang 200 m2 saja bisa dimiliki, apatah lagi untuk membangun rumahnya. Orang yang besar adalah orang yang membuat masalah besar menjadi kecil. Dan orang yang kecil adalah orang yang membuat masalah kecil menjadi besar.

Ala kuli hal, kita tetap perlu perancangan. Bagaimana pun juga kita tetap perlu mengaturnya. Agar masalah besar itu menjadi kecil. Untuk itu mari kita break down satu persatu kebutuhan ruangnya. Agar bicaranya lebih faktual.

Biasanya rumah zaman dulu punya modul tertentu. Kita dulu sering dengar Rumah BTN type 36, 45, 54 hingga 70. Masih ingat dulu saat SMA, saya numpang tinggal di rumah tante di Jatibening-Pondok Gede. Jauh dari orang tua yang ada di Balikpapan-KALTIM. Rumah sederhana mereka adalah BTN T.54 serta tetangga di depan saya adalah BTN T.70. Dan rumah Om saya di Jatiagung adalah BTN T.36.

Angka itu menunjukkan luas bangunan. Setelah paket itu di kemudian hari pemerintah mengeluarkan paket hemat lagi, yaitu Type 21. Atau sering disebut RSS. Rumah Sangat Sederhana itu pada akhirnya sering menjadi kelakar di tengah masyarakat dengan panggilan 'Rumah Susah Selonjoran'. Selonjoran dalam bahasa Jawa artinya duduk sambil meluruskan kaki.

Mari kita hitung ukuran ruangnya. Ruang tidur ada 2 buah dengan ukuran masing-masing 3 x 3 m. Lalu ruang tamu berukuran 2 x 3. R. Makan dan R. Keluarga digabung dengan ukuran 3 x 4 m. Kemudian dapur 2 x 3 m serta WC 1 x 2 m. Ukuran tersebut memang plus minus. Karena tergantung kebutuhan kita. Namun jika dijumlah total luas tadi adalah 44 m2. Dibulatkan menjadi 45. Maka jadilah ia T.45.

Jika ingin ditambah lagi ruang lain, maka kita bisa menambahkannya dengan r.pelayan dengan ukuran 2 x 3 m dan WC untuk cuci berukuran 1 x 2 m. Total tambahan ruang ini adalah 8 m2. Jadi jika ditambah dengan ruang tadi maka menjadi 52 m2. Dibulatkan menjadi 54 m2. Jadilah ia T.54

Harga bangunan memang akan terus naik. Bukan hanya itu saja. Harga kebutuhan pokok juga. Kita sebagai rakyat hanya bisa mengelus dada melihat tol di depan rumah kita naik. Di Pondok Gede saya lihat orang antri minyak goreng seperti di negri habis kalah perang. Rakyat sudah sering dikecewakan. Hingga harga bangunan per m2 sekarang pun bisa sampai 2 juta-an rupiah. Bahkan lebih. Mahal? Memang, itulah resikonya hidup di negri yang pemimpinnya tidak memihak pada rakyat. Padahal segenap kekayaan negri dalam undang-undang 45 dikuasai negara untuk mensejahterakan rakyat.

Jadi kita yang harus putar otak untuk tetap survive. Biar pahalanya untuk kita. Dan para pemimpin akan mempertanggung jawabkannya di depan Allah. Untuk itu saya sering menggarap proyek yang sering saya panggil 'mission imposible'. Pernah di tahun 2002 atau 2003 saya menggarap rumah yang sebagian besar materialnya dari barang-barang bekas. Kusen bekas, asbes bekas, kayu bekas hingga dinding-dinding kamarnya dari gedek atau bilik. Lantainya hanya semen yang di aci halus. Saat itu saya rekap total harga per m2 jadi 600 ribuan rupiah.

Jika kita ingin menurunkan standard ini tentu kita akan bisa memperoleh harga murah. Banyak genteng bekas di jual. Lantai dari ubin atau tegel yang sebetulnya bagus dan sangat dingin banyak di lapak Madura. Hanya memang warnanya merah, kuning atau bahkan abu-abu kusam. Tapi menurut saya malah eksotis dan etnik nilainya.

Atau lantai cukup di aci halus seperti di hyper market. Dinding batako atau bata merah tidak usah diplester. Kayu-kayu bekas bisa di anti rayap manual bila takut rayap. Beli obatnya di toko material lalu dicampur dengan obat nyamuk, minyak tanah dan kapur.

Nah, jika harga rumah tersebut bisa ditekan menjadi 1 juta per m2, maka dana anda cukup. 50 an juta akan jadi rumah dengan luas 50 an meter persegi. Itu sudah termasuk harga upah tukang dan material. Namun belum termasuk fee arsitek tentunya. Dan juga jangan berharap kualitas tukangnya yang bagus. Kita harus sadari itu. Ono rego ono rupo kata orang Jawa. Ada harga ada bentuk. Qona'ah itu lebih nyaman. Merasa cukup dengan apa yang adalah bentuk syukur pada Allah. Hingga jangan berpikir rumah itu akan perfect dari sikuan atau sudut rumah. Kualitas pengerjaannya yang sempurna. Karena yang penting rumah itu berdiri saja.

Saya terkadang tertawa sendiri. Orang berobat ke dokter rela membayar jasa dokter walaupun tidak punya uang. Sementara orang ke arsitek terasa berat membayar jasanya walaupun orang yang akan membangun rumah tentunya sudah ada uang yang dipersiapkan. Tak apa. ini kenyataannya. Dinikmati saja. Dan saya bangga menjadi arsitek. Serta kedua orang tua saya yang senantiasa mendoakansaya.Karena arsitek menjadi dokter bangunan. Menolong banyak orang juga.

Demikian sudah nampaknya perjumpaan kita. Untuk saudara Fasyah, semoga rejekinya bertambah banyak dan berkah tentunya. Hingga kelak rumah yang belum di finishing secara sempurna itu bisa sedikit demi sedikit disempurnakan. Untuk netters eramuslim.com semoga kita semua dipersatukan dalam ukhuwah Islamiyah hingga Islam yang mulia ini tidak bercerai berai.

Wassalaamu'alaikum wr wb

Ir. Andan Nadriasta - arsitek@eramuslim.com

Konsultasi Sebelumnya

Arsip

Registrasi | Login

Kontak | Redaksi | Iklan
© 2000-2008 eramuslim.com