Ir. Andan Nadriasta

Konsultasi Arsitektur

Konsultasi Arsitektur
bersama Ir. Andan Nadriasta

Kirim Pertanyaan

Musholla di Singapura

Jumat, 21 Mar 08 17:53 WIB

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Andan, saya membaca jawaban Pak Andan tentang arsitektur Islam. Saya setuju tentang jawaban Pak Andan bahwa arsitektur Islam adalah arsitektur yang dapat bermanfaat bagi sekelilingnya baik bagi manusia dan alam. Saya ingin sedikit share tentang hal ini.

Saya sendiri saat ini ketika bekerja di salah satu konsultan arsitektur di Singapura sangat mengalami kesulitan karena ketiadaan musholla di gedung kami bahkan di sekitarnya, kalaupun ada saya harus naik bus dulu.

Begitu juga dengan makanan halal yang sangat terbatas. (Saya muslim sendiri). Jadi memang sangat beda antara sebuah gedung yang dibangun dengan framework Islam dan yang tidak.

Namun ada satu hal lagi yang mengganggu pikiran saya tentang terminologi arsitektur Islam secara luas itu sendiri. kebanyakan kita sebagai arsitek muslim hanya beranggapan bahwa arsitektur Islam hanyalah arsitektur yang memiliki landasan syar'ie seperti hijab, musholla, dan sebagainya.

Yang menggelitik pikiran saya adalah ketika saya membaca surat Ar Ruum 41

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Terkadang ketika kita mengkaji surat ini biasanya yang hinggap dalam benak kita adalah perbuatan dosa. Kemudian saya teringat ketika menonton film An Inconvenience Truth bahwa salah satu penyumbang terbesar global warming adalah bangunan sebagai pemakai energi terbanyak. Bukankah itu salah satu "dosa" arsitek sebagai perancang bangunan?

Ketika saya mencoba mengaitkannya saya terperangah, jika memang kaitan ini dibolehkan, bukankah Allah sudah memberi peringatan sejak Islam turun bahwa kita tidak boleh sembarangan membangun bangunan yang berakibat buruk pada lingkungan. Kita sudah diperingatkan sejak dulu sementara trend arsitektur di dunia saat ini baru mengarah ke arah Green Architecture? Berarti sejak dulu kita sudah diajarkan supaya tidak merusak bumi ini? Berarti pola hidup "green" sesungguhnya adalah pola hidup kaum muslimin? Berarti Green Architecture adalah Arsitektur Islam?

Bagaimana menurut pandangan Pak Andan tentang hal ini?

Bagaimana pula pandangan Pak Andan tentang konsep-konsep para superstar arsitek yang membuat bangunan setinggi mungkin agar tersisa banyak ruang hijau seperti yang mereka buat di Dubai, dan sekelilingnya? Bukankah hal itu salah satu tanda kiamat? Bukankah semua hal positif dari konsep-konsep arsitektur saat ini adalah konsep arsitektur Islami asalkan berlandaskan prinsip bermanfaat bagi sekelilingnya (alam dan manusia)?

Maaf Pak Andan karena terlalu panjang. Ini adalah hasil akumulasi dari pertanyaan-pertanyaan saya mengenai Arsitektur Islam dan akan terus saya cari walau harus keliling dunia seperti yang dilakukan oleh para shahabat, tabiit, dan tabiit tabiin dalam mencari ilmu. Sekali lagi terima kasih atas tanggapannya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Nurseto Nugroho
akh_nur at eramuslim.com

Jawaban

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Andan, saya membaca jawaban Pak Andan tentang arsitektur Islam. Saya setuju tentang jawaban Pak Andan bahwa arsitektur Islam adalah arsitektur yang dapat bermanfaat bagi sekelilingnya baik bagi manusia dan alam. Saya ingin sedikit share tentang hal ini.

Saya sendiri saat ini ketika bekerja di salah satu konsultan arsitektur di Singapura sangat mengalami kesulitan karena ketiadaan musholla di gedung kami bahkan di sekitarnya, kalaupun ada saya harus naik bus dulu.

Begitu juga dengan makanan halal yang sangat terbatas. (Saya muslim sendiri). Jadi memang sangat beda antara sebuah gedung yang dibangun dengan framework Islam dan yang tidak.

Wa'alaikum salam wr. wb. Pak Nurseto Nugroho di Singapura.

Rasa terimakasih yang besar kami sampaikan karena dapat bertukar pikiran dengan warga Indonesia yang bekerja di luar negri. Secara pribadi saya merasa mendapat kehormatan, karena saya hanyalah arsitek muda yang 'hanya' mengerjakan rumah tinggal. Walaupun saya enjoy karena memang hobi.

Pak Nurseto, Singapura dari sisi pantai yang berbatasan dengan Johor Bahru -Malaysia sering disebut Wood Land. Mungkin karena banyak hutan yang memang dilestarikan. Namun bagi warga Johor mereka masih menganggap Singapura adalah tanah melayu yang terlepas.

Saya pernah menginap di sana di apartemen kawan yang ternyata orang tua angkatnya itu berasal dari Cirebon. Mungkin suatu masa kelak kita bisa berjumpa di sana. Komunitas melayu yang sesungguhnya pribumi Singapura tetap eksis hingga kini. Bahkan Suria TV adalah TV Singapura yang berbasis bahasa melayu.

Mudah-mudahan Pak Nurseto dapat bergabung dengan komunitas melayu tersebut yang jelas-jelas satu rasa dan satu agama dengan kita. Ada juga MUIS. Majlis Ugama Islam Singapura. Dengan ini, keadaan kita yang minoritas tidak semakin terkucilkan. Dengan ini pula keilmuan akan semakin bertambah karena ikut dalam majlis ilmu mereka. Lebih mudah. Tidak otodidak. Dan menjadi lebih luas pergaulan dan ukhuwahnya. Hingga urusan musholla dan makanan mendapat pilihan alternatif yang lebih baik.

Saya pikir justru ini kesempatan menunjukkan sholat itu menjaga kebersihan. Pernah dulu adaorang di luar negri yang terpaksa wudhu dengan mengangkat kaki di wastafel. Ada bule yang melihat dan tidak suka. Dengan meminta maaf dan berkelit si muslim mengatakan bahwa kakinya justru lebih bersih dibandingkan mukanya. Si bule terperanjat. Ya. Karena kaki muslim di basuh dengan wudhu minimal 5 kali sehari.

Namun ada satu hal lagi yang mengganggu pikiran saya tentang terminologi arsitektur Islam secara luas itu sendiri. kebanyakan kita sebagai arsitek muslim hanya beranggapan bahwa arsitektur Islam hanyalah arsitektur yang memiliki landasan syar'ie seperti hijab, musholla, dan sebagainya.

Yang menggelitik pikiran saya adalah ketika saya membaca surat Ar Ruum ayat 41:

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Terkadang ketika kita mengkaji surat ini biasanya yang hinggap dalam benak kita adalah perbuatan dosa. Kemudian saya teringat ketika menonton film An Inconvenience Truth bahwa salah satu penyumbang terbesar global warming adalah bangunan sebagai pemakai energi terbanyak. Bukankah itu salah satu "dosa" arsitek sebagai perancang bangunan?

Inilah yang disebut dengan 'Ghozwul Fikr'. Brain washing atau cuci otak yang hampir saja mengeluarkan saya dari kampus arsitektur - di Universitas Pancasila Jakarta. Karena beranggapan ilmu ini adalah milik barat yang tidak Islami. Karena banyak literaturnya dari sana. Di buku 'Neufert' atau 'Data Architect' yang 2 jilid dalam versi Indonesia dan 1 jilid dalam bahasa Inggris hanya ada 2 lembar tentang arsitektur Islam.

Hal inilah yang mengarahkan pada sempitnya pemikiran Islam. Padahal Masjid Agung Cordoba adalah warisan pahlawan Islam di Andalusia - Spanyol, Ada juga Masjid Agung Sevilla di Spanyol yang bergaya ghotic yang kini digunakan sebagai katedral, dan berbagai macam karya lain di zaman dulu.

Saya memang belum pernah menonton film An Inconvenience Truth, namun jika melihat film Ayat-Ayat Cinta maka kita akan bisa melihat betapa mulianya Islam yang tidak bersalaman antara laki-laki dan perempuan dan tidak mengenal istilah pacaran. Kemuliaan ini semakin bertambah-tambah karena cara penyampaian di film tersebut demikian baik. Apalagi novelnya. Jauh lebih baik. Karena memang produsernya yang India memang menetapkan Ayat-ayat cinta bukan film Islam.

Artinya, mari kita berjuang dengan segenap kemampuan kita dengan membuang pemahaman bahwa dunia dan akhirat terpisah. Tidak ada itu dalam Islam. Rasul berdagang dengan orang non muslim. Ibnu Sina adalah dokter Islam yang diubah namanya oleh barat menjadi Avicenna. Habiburrahman berkarya dengan novel Ayat-Ayat Cinta-nya. Hanung menjadi sutradara film-nya. Gito Rollies sang mantan rocker wafat setelah pulang dari safari dakwah.

Mari kita ber-Islam dengan segenap cita rasa yang kita miliki. Insya Allah akan tampil Islam yang indah dan natural. Karena masing-masingnya tampil dengan keunikan dan keunggulannya yang justru semakin membuat Islam bersinar terang.

Ketika saya mencoba mengaitkannya saya terperangah, jika memang kaitan ini dibolehkan, bukankah Allah sudah memberi peringatan sejak Islam turun bahwa kita tidak boleh sembarangan membangun bangunan yang berakibat buruk pada lingkungan. Kita sudah diperingatkan sejak dulu sementara trend arsitektur di dunia saat ini baru mengarah ke arah Green Architecture? Berarti sejak dulu kita sudah diajarkan supaya tidak merusak bumi ini? Berarti pola hidup "green" sesungguhnya adalah pola hidup kaum muslimin? Berarti Green Architecture adalah Arsitektur Islam?

Bagaimana menurut pandangan Pak Andan tentang hal ini?

Benar. Green Architecture adalah Arsitektur Islam. Sebab ia kembali ke alam. Kembali ke fitrah. Allah itu mengikuti fitrah manusia. Saya setuju dengan semua pandangan bapak. Hanya tinggal bagaimana kita mengoptimalkan amal kita. Saya yang di tataran rumah tinggal berusaha membuat rumah hijau yang sejuk. Ada taman di segenap ruang walaupun kecil. Ada sirkulasi hawa yang bagus walaupun lahan terbatas. Cahaya matahari masuk dan ruangan optimum dengan zoning area aurat dan bukan aurat jelas dan tegas.

Bahkan saya bisa berdakwah secara langsung atau tidak langsung dengan keluarga muslim yang menjadi klien saya. Dan Pak Nurseto juga dapat melakukan hal yang sama.Dan peluangnya lebih terbuka karena anda di negri minoritas muslim. Seperti Fahri di Ayat-Ayat Cinta yang berdakwah pada bule Amerika yang mengatakan bahwa qu'ran membolehkan berlaku kasar pada perempuan dalam rumah tangga. Padahal di Surat An-Nisa ada 3 tahapan terhadap wanita yang melanggar komitmen perknikahan. Yang pertama dinasehati, kedua diperingatkan dan yang ketiga boleh dipukul. Itupun tidak boleh di wajah dan tidak boleh berniat menyakiti. Inilah tugas kita meluruskan kesalah pahaman.

Jadi ilmu arsitektur ini adalah ilmu Islam. Ilmu menghitung konstruksi adalah Islam. Membuat pesawat terbang adalah Islam. Karena semua ilmunya Allah. Apalagi jika ilmu itu diterapkan dengan benar seperti green architecture.

Bagaimana pula pandangan Pak Andan tentang konsep-konsep para superstar arsitek yang membuat bangunan setinggi mungkin agar tersisa banyak ruang hijau seperti yang mereka buat di Dubai, dan sekelilingnya? Bukankah hal itu salah satu tanda kiamat? Bukankah semua hal positif dari konsep-konsep arsitektur saat ini adalah konsep arsitektur Islami asalkan berlandaskan prinsip bermanfaat bagi sekelilingnya (alam dan manusia)?

Dalam hal ini saya memandang dari sisi kebermanfaatan. Beberapa tahun yang lalu laptop barang mewah dan konsumtif bagi saya. Namun sekarang dengan 3 laptop bukan menjadikan ini bermegah-megahan. Karena kebutuhan tim di lapangan dan tingkat mobilitas dakwah yang tinggi.

Nah, ketika gedung-gedung itu memiliki tingkat kebermanfaatan yang tinggi maka ia akan menjadi berkah. Bukan justru sebaliknya. Dan kita tidak akan ditanya tentang amal orang lain. Itu prinsip saya. Kita bertanggung jawab pada amal kita sendiri. Walaupun tetap disertai dengan perhatian mendakwahi hal-hal yang kurang berkenan di lingkungan jangkauan kita. Dalam dakwah juga dikenal la iqroha fid din. Jadi tidak ada paksaan dalampenerimaan dakwah itu. Karena yang memberikan hidayah adalah Allah.

Untuk itu sebaiknya kita melakukan ahsanu amala. Amal yang terbaik. Coba lihat di Awal-awal surat Al-Mulk juz 29. Dengan amal terbaik kita akan berkonsentrasi mencari amal gacoan. Bukannya aktsaru amala. Banyak-banyakan amal. Dulu sekali Mies Van der Rohe punya konsep kebanggaan less is more. Sekarang jadi trend dengan istilah minimalis. Arsitek Amerika Paul Rudolph punya karya indah di Jakarta dengan 'Wisma Dharmala'nya. Dan kita para arsitek muslim tentu diharapkan mempunyai karya yang membawa kebermanfaatan yang besar bagi umat ini.

Maaf Pak Andan karena terlalu panjang. Ini adalah hasil akumulasi dari pertanyaan-pertanyaan saya mengenai Arsitektur Islam dan akan terus saya cari walau harus keliling dunia seperti yang dilakukan oleh para shahabat, tabiit, dan tabiit tabiin dalam mencari ilmu. Sekali lagi terima kasih atas tanggapannya.

Selamat mencari ilmu. Semoga anda diberikan lingkungan dan kawan-kawan yang kondusif bagi tempat berseminya benih-benih subur keimanan. Dan semoga Pak Nurseto senantiasa dalam limpahan taufik dan hidayah-Nya. Jika ingin langsung berkomunikasi via email bisa kirim ke arsitek@eramuslim.com dan semoga semangat keIslamannya kian hari kian bertambah. Karena anda berada di negri sekuler dan jauh dari keluarga. Saya bisa merasakannya. Saya baru saja berkumpul dengan keluarga di tanah air tercinta ini. Menanti kelahiran buah hati yang ke - 4.

Buat seluruh netters eramuslim.com terima kasih atas perhatiannya. Mari sama-sama kita sambut maulid Nabi kita tercinta dengan semangat ittiba'ur Rasul. Mengikuti jejak langkah beliau agar kita selamat dunia dan akhirat. Bahagia lahir bathin dengan senyum syukur atas nikmat dan tatapan haru atas kesabaran menghadapi ujian Ilahi.

Wallahu a'lam bishowab. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Karena kami hanya hamba Allah yang memiliki keterbatasan. Akhirul kalam,

Wassalaamu'alaikum wr wb

Ir. Andan Nadiasta - arsitek@eramuslim.com

Konsultasi Sebelumnya

Arsip

Registrasi | Login

Kontak | Redaksi | Iklan
© 2000-2008 eramuslim.com