Renovasi Atap Dengan Konstruksi Baja Ringan Dan Genteng Metal

Anom – Senin, 13 Zulhijjah 1430 H / 30 November 2009 11:53 WIB

Assaamualaikum wr wb.

YTH Pak Aria yang dirahmati Allah SWT,

Sekitar 7 tahun lalu saya membeli rumah bekas di perumahan KPR. Saat itu saya merenovasi dari ukuran 45 m2 menjadi sekitar 60 m2. Saya juga mengganti seluruh rangka kuda-kuda atap yang sudah 40% dimakan rayap. Saat ini kondisinya masih bagus hanya di beberapa bagian ditengarai diserang serangga penggerek kayu (meninggalkan jejak kotoran berupa butiran kecil kayu). Karena bergenteng beton, maka atap kami berbeban berat, kelihatannya sangat bahaya bila ada gempa cukup besar. Oleh karena itu saya berniat mengganti dengan konstruksi baja ringan dan genteng metal. Pertanyaan saya:

1. Apakah ide saya sudah benar? Benarkah rangka tsb lebih ringan daripada kayu kaso dari kamper?
2. Berapa ongkos rata-rata renovasi konstruksi atap baja ringan per m2? Apakah Eramuslim menyediakan jasa konstruksi?
3. Apakah perlu ada tambahan konstruksi/syarat pondasi untuk konstruksi atap baja tsb?
4. Bila terlalu mahal, apakah genteng metal juga bisa dipasang di rangka kayu?
5. Adakah saran lain untuk mengatasi atap yang berat?

Saya mengucapkan Jazakallahu khoiron katsiiro untuk perhatian dan jawaban Bapak, semoga Allah SWT selalu memberkahi dan memberikan kebaikan kepada Pak Aria dan redaksi Eramuslim.

Wassalamualaikum wr wb,

Wa ‘alaikumussalam Wr.Wb.

Pak Anom yang terhormat, Allah maha sempurna dan maha mengetahui semua dibalik penciptaan makhluk-makhluknya sehingga tidak ada satu pun ciptaan Nya yang tidak berguna. Walaupun bagi kita ulah dari makhluk pengerat kayu ini sangat menjengkelkan tapi janganlah sampai kita menyalahkan mengapa Allah menciptakan makhluk ini.

Dibalik kerusakan yang ditimbulkan makhluk ini betapa banyak hikmah yang kita dapatkan dan membuat manusia berfikir keras untuk mengatasinya. Contoh kecil hikmah yang dapat kita pelajari jika makhluk ini tidak ada, tentunya hutan akan habis ditebang karena semua bangunan akan menggunakan material kayu. Dengan adanya makhluk pengerat ini membuat manusia berfikir untuk mengganti material kayu dengan material lain yang lebih tahan dari serangan hama ini seperti rangka baja ringan dan sebagainya sehingga timbullah keseimbangan ekosistem. Contoh lain dengan adanya gangguan si kecil ini juga membuat manusia berfikir untuk memproduksi obat anti rayap dan mendirikan perusahaan pembasmi rayap yang tentunya sangat menjanjikan keuntungan yang besar. Subhanallah, maha benar Allah dengan segala firmannya.

Langkah anda sudah tepat untuk mengganti konstruksi atap kayu dengan material baja ringan dan genteng metal, karena langkah tersebut juga sudah sesuai dengan program pemerintah untuk ‘GO GREEN’ menjadikan rumah kita ramah lingkungan. Dengan mengganti material kayu dengan material alternatif ini berarti anda juga telah membantu menyelamatkan hutan dan mencegah terjadinya bencana alam.

Sesuai dengan namanya, material ini juga sangat ringan, bobotnya per meter persegi hanya sekitar 12 kg dibandingkan dengan rangka kayu yang berbobot sekitar 40 kg/m2.

Walaupun ringan tapi anda tidak perlu khawatir karena material berbahan baku zincalume atau galvalume ini daya tahannya lebih unggul dibandingkan material kayu. Selain itu kecepatan dalam perakitan (20-30 m2/hari) dengan tenaga kerja yang lebih sedikit akan memberikan nilai ekonomis sehingga dapat menekan biaya pembangunan.

Biaya per meter persegi jika ingin merenovasi atap dengan material baja ringan juga sangat tergantung kualitas dan merek dagang material ini di pasaran, kisaran harganya antara 110 ribu – 180 ribu per m2. Jika dibandingkan dengan harga kayu yang tahan rayap tentunya harga baja ringan ini relatif murah karena anda harus mencari kayu dengan kualitas kelas I yang sangat mahal.

Pengerjaan konstruksi atap baja ringan ini membutuhkan keahlian khusus, sehingga praktisnya anda dapat menghubungi beberapa aplikator baja ringan untuk dapat membandingkan harga serta kualitasnya. Anda cukup menyerahkan desain arsitektur dari bangunan anda atau mengundang aplikator tersebut untuk mensurvei bangunan anda dan mereka akan membuat rancangan atap dengan menggunakan software khusus yang hasilnya lebih akurat.

Konstruksi atap baja ringan ini tidak membutuhkan konstruksi tambahan karena bobotnya lebih ringan dari material kayu, sehingga struktur rumah anda sudah cukup kuat untuk menahan beban atap tersebut. Hanya ada sedikit catatan untuk material penutup atap atau genteng yang akan digunakan, karena semakin berat jenis genteng yang digunakan, maka jarak antar rangka kuda-kudanya semakin rapat sehingga beban atap pun akan semakin berat.

Kekurangan lain dari material ini karena sistem rangkanya yang cukup rumit terlihat kurang menarik untuk diekspos tidak seperti halnya kayu. Juga tidak sefleksibel kayu untuk dipotong dan dibentuk profilnya sehingga konstruksi ini jarang digunakan untuk bangunan-bangunan berlanggam tradisional. Selain itu karena kekuatannya merupakan jaringan yang saling mempengaruhi satu sama lain, maka desain, perhitungan dan aplikasinya harus benar-benar akurat karena kelemahan di satu sisi akan mempengaruhi seluruh konstruksi atap.

Jika anda menggunakan genteng metal untuk penutup atap rumah, tentunya material ini sudah sesuai untuk diaplikasikan pada konstruksi baja ringan karena bobot genteng ini juga sangat ringan sekitar 5 kg/m2. Jika ingin mengaplikasikannya pada rangka kayu juga tidak masalah, anda hanya harus menyesuaikan jarak reng yang disyaratkan oleh produsen genteng metal tersebut, karena bentuk dan ukuran genteng metal ini juga bervariasi. Genteng metal ini juga bebas perawatan karena tahan terhadap karat, jamur, pecah serta perubahan warna karena faktor cuaca.

Demikianlah Pak Anom, sedikit masukan yang dapat menjadi acuan dalam merenovasi atap rumah anda, saat ini solusi yang paling tepat untuk mengatasi kontruksi atap yang berat dengan biaya yang terjangkau adalah dengan menggunakan konstruksi atap baja ringan dan penutup atap genteng metal. Di luar negeri sudah ditemukan beberapa alternatif penutup atap yang lebih ringan lagi seperti atap berbahan serat fiber, lateks dan sebagainya tetapi belum berkembang di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, insya Allah akan ditemukan solusi-solusi lain yang lebih tepat guna di masa yang akan datang.

Wallahu a’lam bishowab.
Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Konsultasi Arsitektur Terbaru

blog comments powered by Disqus