Mengatasi Keretakan Pada Dinding dan Lantai Rumah

Dedy Hariady – Rabu, 2 Safar 1430 H / 28 Januari 2009 11:58 WIB

Assalamualaikum.

Saya ingin bertanya bagaimana mengatasi jika rumah 2 tingkat retak (dinding & lantai 2). Saya curiga konsruksinya kurang kuat, karena saya dapat informasi sewaktu membangun tidak sebagaimana mestinya (sepertinya besi yang dipakai dan tiangnya tidak sesuai). Dan kebetulan sewaktu proses pembangunan tersebut saya tidak berada ditempat karena saya percaya kepada kontraktornya. Mohon sekali jawabannya. Jazakumullah.

Wassalamualaikum,


Dear my brother Dedy di Tanjung Pinang, Assalamu ‘alaikum Wr.Wb….

Telah beberapa kali di rubrik ini saya membahas tentang kiat-kiat membangun dan betapa pentingnya kita selalu memberikan kepercayaan pada calon pemborong yang bisa menjalankan amanah dengan baik. Walaupun kita sudah sangat yakin bahwa pelaksana yang kita tunjuk bisa menjalankan kepercayaan yang kita berikan, tetapi sudah menjadi sifat manusia yang dhoif dan mudah alpa selalu terjebak pada dosa dan khilaf karena syaithan tidak pernah mensia-siakan kesempatan apapun untuk menjerumuskan manusia pada kemaksiyatan. Karena itu di tengah-tengah kesibukan yang tiada henti-hentinya sempatkanlah minimal 1 pekan sekali kita hadir dalam proses pembangunan tersebut untuk memberikan efek psikologis bagi pemborong bahwa pekerjaannya selalu dalam pengawasan. Bukankah Allah yang Maha Segalanya pun tetap menugaskan 2 malaikatnya untuk selalu mengawasi dan mencatat setiap gerak langkah hamba-hambanya agar selalu ingat akan pengawasan dan perlindungan Nya sehingga terhindar dari perbuatan maksiyat.

Menilik kasus rumah retak yang anda hadapi, menjadi riskan jika keretakan tersebut terjadi pada keseluruhan bangunan, apalagi rumah anda berlantai dua. Lebih baik anda mempersiapkan untuk melakukan renovasi ulang karena keretakan yang sifatnya struktural sangat membahayakan bagi anda dan keluarga. Tetapi jika hanya retak rambut (keretakan pada dinding saja) atau keretakan sruktur hanya di beberapa titik saja masih ada cara untuk mengatasinya tanpa perlu anda membongkar ulang seluruhnya.

Karena itu langkah pertama yang harus anda lakukan adalah melihat jenis keretakannya tersebut :

Retak rambut, yaitu keretakan yang lebarnya kurang dari 1 mm dan tidak tembus ke sisi dinding lainnya diakibatkan ketidaksempurnaan pada saat finishing dinding, seperti : plesteran dinding yang tidak disiram lebih dulu, komposisi plesteran yang kurang sempurna, plesteran yang belum cukup kering atau kualitas cat dinding yang daya elastisitasnya kurang.

Solusinya :

  • Ketrik atau perlebar bagian retak rambut tersebut untuk mengetahui sejauh mana tingkat keretakannya sehingga pada saat menambal keretakan tersebut masuk sampai kebagian dalam dinding. Kemudian isilah dengan wall filler, amplas setelah benar-benar mengering , lalu lapisi dengan wall sealer sebelum dicat ulang.

Retak Struktur, yaitu keretakan yang lebarnya lebih dari 2 mm dan tembus pada sisi dinding lainnya. Hal ini disebabkan karena :

  • Penurunan atau pergeseran pondasi akibat daya dukung tanah yang kurang baik atau kurang padat. Hal ini bisa dikarenakan kondisi tanah yang kurang baik atau bisa juga karena perubahan karakterisitik tanah akibat kejadian alam seperti banjir, pergerakan tanah atau gempa.
  • Ukuran pondasi yang tidak sesuai dengan beban yang dipikulnya atau kurang sempurnanya pada saat proses pelaksanaan.
  • Kerusakan pada kolom (tiang) dan balok misalnya retak atau bengkok, akibat kurangnya jumlah atau ukuran tulangan besi utama dan besi pengikat (sengkang) serta rendahnya kualitas/mutu beton yang digunakan atau kurang sempurnanya pada saat proses pengerjaan sehingga kekuatan beton terhadap tekanan berkurang.

Solusinya :

  • Untuk pondasi yang turun buatlah pondasi baru di dekatnya dengan mendeteksi keretakan terparah pada dinding di atasnya. Padatkan tanah di bawah pondasi yang baru dan buatlah kolom/tiang baru untuk membantu penyaluran beban dari sloof dan balok lantai di atasnya.
  • Untuk balok yang retak, jika kondisinya memungkinkan perlu ditambahkan kolom/ tiang di bawahnya sehingga penyaluran beban balok menjadi berkurang . Jika tidak memungkinkan maka balok disuntik/digrouting dengan epoxy yaitu cairan kimia khusus yang sifatnya mengikat dan cepat kering kemudian dilakukan pembesaran ukuran balok dengan perkuatan dari luar.
  • Untuk kolom/tiang yang retak, buatlah kolom tambahan di dekat tiang yang retak untuk membagi pembebanan pada kolom yang rusak atau dengan memperkuat kolom dengan menyuntik/ meng -grouting dengan cairan epoxy dan memperlebar ukuran kolom/tiang.
  • Untuk retak-retak kecil pada kolom dan balok, cukup dilakukan penambahan dengan plesteran agar tulangan besi tidak berhubungan dengan udara luar yang dapat menyebabkan karat.

Keretakan Lantai Keretakan lantai terutama pada lantai 2 ditandai dengan pecahnya keramik diakibatkan keretakan lantai beton dibawahnya. Hal ini bisa diakibatkan gempa, atau kualitas/mutu beton yang tidak memenuhi standar atau bisa juga karena kesalahan teknis pada saat pengerjaan lantai beton misalnya kekeliruan susunan anyaman besi beton, posisi sambungan coran beton atau bekisting/cetakan beton yang dilepas sebelum beton benar-benar mengeras.

Solusi :

  • Untuk lantai beton yang retak, terlebih dulu dengan melepas keramik yang pecah kemudian mengikis retakan, menyuntik / meng-grouting dengan cairan epoxy pada retakan menutupnya dengan plesteran dan memasang keramik kembali.

Apabila retak-retak ini merupakan tanda-tanda adanya kerusakan struktur…., ini tidak bisa dianggap remah karena menyangkut nyawa penghuninya. Sebaiknya anda juga berkonsultasi dengan orang yang mengerti struktur bangunan (ahli sipil) untuk menganalisa sejauh mana letak kerusakannya karena semua harus kita kembalikan pada “Ahlinya”…..Mudah-mudahan informasi ini bisa sedikit membantu anda untuk mensikapi kondisi yang sudah terlanjur ini dan sedini mungkin dapat mengatasinya……, mudah-mudahan bermanfaat dan mohon maaf jika ada istilah-istilah yang terlalu teknis.

Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb….

Konsultasi Arsitektur Terbaru

blog comments powered by Disqus