Ir. Zainal Abidin

Klinik Bisnis

Konsultasi Kewirausahaan, Mempersiapkan, Membangun Usaha
bersama Ir. Zainal Abidin

Kirim Pertanyaan

Cari Modal untuk Pengembangan Usaha

Jumat, 6 Okt 06 08:12 WIB

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bapak Zainal yang saya hormati, semoga Allah senantiasa merahmati Bapak dan Keluarga Bapak. Amiin.

Saat ini usia saya memasuki 29 tahun. Saya sudah bekerja lama di sebuah perusahaan sebagai staf IT. Namun sudah setahun terakhir ini saya sudah tidak bekerja lagi sebagai karyawan di tempat tersebut. Karena saya pikir gaji saya tidak seberapa untuk ukuran hidup di kota besar, mungkin hanya cukup untuk diri sendiri. Sementara itu banyak orang di sekitar saya yang ingin sekali saya bantu/buat mereka bahagia, khususnya orang tua saya.

Karena itu saya pikir, cara yang jitu untuk keluar dari masalah ini adalah memiliki usaha sendiri. Sekarang saya sudah memiliki usaha sendiri. Saya membuka warnet + rental + service yang saya tekuni sejak saya mengundurkan diri dari perusahaan. Dan sekarang saya sedang mempersiapkan diri untuk membuka jasa setting/desain percetakan dan video editing. Namun itu semua tentu saja membutuhkan modal yang besar.

Sebenarnya dari usaha saya ini, omsetnya bisa mencapai Rp 6 juta/bulan, namun dipotong biaya operasional dan lain-lainnya + kebutuhan keluarga, ternyata penghasilan sebesar itu boleh dibilang pas-pasan bahkan terkadang kurang.

Pertanyaan saya:

1. Kira-kira langkah apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi persoalan ini?

2. Darimana saya bisa mendapatkan modal/ investor untuk mengembangkan usaha saya ini?

3. Sebenarnya saya punya saudara yang punya kemampuan membantu secara materi, tapi sepertinya beliau keberatan kalau saya punya usaha sebagaimana kebanyakan orang. Beliau menginginkan saya jadi pegawai/karyawan seperti dirinya. Katanya masa depannya lebih terjamin.

4. Warnet saya posisinya di pinggir jalan, tapi di dalam. saya ingin sekali bisa buka cabang di pinggir jalan raya, dengan target 20 komputer.

5. Sebagai catatan terakhir, saya memiliki kemampuan banyak dalam hal instalasi maupun menangani masalah jaringan (trouble shooting) komputer. Tapi untuk jasa ini saya tidak mematok tarif tertentu kepada teman atau siapapun, bahkan saya pernah tidak dibayar karena saya memang tidak minta. Apakah tindakan saya ini dianggap kurang baik dalam etika berbisnis? Kalau ya, sebaiknya saya harus bagaimana?

Mohon sarannya, Terima kasih.

Abidzar

Jawaban

Wa ‘alaikum salaam Wr. Wb.

1. Bung Abidzar. Omset sebesar Rp 6 juta per bulan bagi anda mungkin kecil. Apalagi kalau anda melihat orang lain yang punya penghasilan jauh lebih besar dari nilai itu. Saran saya, coba lihat orang-orang yang punya penghasilan jauh di bawah anda, misalnya para pemulung atau para pedagang asongan, yang untuk mendapatkan omset satu juta per bulan saja harus mengerahkan semua tenaga dan pikiran. Dengan melakukan itu, saya harap anda menjadi lebih bersyukur pada Sang Pemberi Rizki.

Selanjutnya, anda harus membuat daftar berbagai kegiatan yang harus anda biayai, misalnya untuk biaya operasional, gaji karyawan, transport sampai membiayai orang tua. Tentu saja, dengan jumlah biaya yang harus anda keluarkan. Setelah itu, anda harus membuat urut-urutan berbagai kegiatan itu, berdasarkan skala prioritas. Misalnya, prioritas utama membantu orang tua, maka kegiatan itu diberi nomor urut satu. Demikian juga untuk kegiatan lainnya. Dengan cara demikian, saya berharap, anda menggunakan dana yang anda miliki berdasarkan urutan prioritas, dari yang paling penting sampai yang sama sekali tidak penting.

Pada akhirnya, berapa pun dana yang ada pada anda, bisa digunakan dengan sebaik-baiknya, dan tepat guna. Kalau pada suatu saat, anda kekurangan dana untuk mencukupi kebutuhan yang sangat penting, maka anda harus mengurangi jumlah dana yang harus anda keluarkan. Misalnya, kalau biasanya biaya transport anda Rp 500.000,- per bulan, maka anda harus kurangi itu dengan cara mencari moda transportasi yang lebih murah.

2. Bung Abidzar. Investor akan tertarik untuk berinvestasi pada usaha anda kalau ia melihat pribadi anda bisa dipercaya dan ada potensi keuntungan di sana. Tanpa itu, walaupun anda janjikan emas segunung, sangat sulit untuk mendapatkan suntikan modal. Jadi, tugas utama anda sekarang adalah membangun kepercayaan, seperti ketika Rasulullah tercinta membangun citra diri beliau sebagai Al-Amiin. Selain itu, dari keuntungan yang sudah anda peroleh, paksakan untuk menyisihkannya untuk menambah modal. Berat memang, tetapi itu lah caranya kalau anda mau mandiri.

3. Menjadi karyawan atau wirausaha, adalah pilihan hidup. Anda sendirilah yang memutuskan mau jadi karyawan atau wirausaha, dan anda sendiri juga yang akan menjalani dan menikmati pilihan anda. Bagi saya pribadi, menjadi seorang wirausaha, memberikan pilihan hidup lebih banyak, dari menjadi orang paling miskin sampai menjadi orang paling kaya, karena penghasilan sebagai pengusaha berkisar dari nol sampai tidak terhingga, tanpa dibatasi jabatan atau kepangkatan. Sebagai karyawan, pilihan hidupnya tidak terlalu banyak. Apalagi kalau anda punya talenta yang biasa-biasa saja. Gaji anda, paling hanya naik 10 persen setahun, atau menyesuaikan dengan tingkat inflasi. Jarang sekali ada karyawan yang bisa naik gaji sampai 400 persen dalam satu tahun. Lebih pasti dan terjamin? Mungkin ya, tapi bisa juga tidak. Yang pasti, setiap bulan anda pasti dapat gaji, tapi siapa bisa menjamin bahwa tahun depan anda tidak di-PHK?

4. Bung, setiap orang punya keinginan. Tapi hanya segelintir orang yang mau bertindak dan berusaha habis-habisan untuk memperoleh apa yang menjadi keinginannya. Di Guinness Book of New Records, ada rekor dunia yang sampai kini belum dipecahkan orang, yaitu rekor makan sepeda. Benar-benar sepeda. Anda tahu cara orang tersebut makan sepeda? Orang tersebut mempreteli semua onderdil sepeda, dan kemudian membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil seperti kelereng. Dan ’kelereng-kelereng’ itulah yang dimakannya sampai habis dalam waktu kurang dari 3 bulan. Filosofinya, anda bisa mewujudkan keinginan anda, dengan menabung sedikit demi sedikit. Walaupun saya tidak tahu pasti, berapa waktu yang anda butuhkan untuk mewujudkan keinginan itu, tapi saya yakin kalau anda mau menabung, anda bisa melakukannya.

5. Bung Abidzar. Adakalanya kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Tapi tentu tidak selamanya demikian. Terkadang kita pun mau melakukan sesuatu untuk membantu orang lain, tanpa ada kewajiban membayar. Saran saya, bersikaplah sebagai seorang profesional. Kalau ada seseorang meminta jasa anda untuk melakukan sesuatu, sebelum mulai bekerja anda harus menentukan, ini kerja atau amal. Kalau kerja, anda boleh psaang tarif, atau tarif itu diserahkan kepada pemakai jasa. Kalau amal, anda tidak perlu pasang tarif. Kalau diberi, anda boleh menolak. Dan, anda mau bekerja atau beramal, pilihannya ada pada anda. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan etika bisnis.

Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.

Wa ‘alaikum salaam Wr. Wb.
Zainal Abidin

Konsultasi Sebelumnya

Arsip

Registrasi | Login

Kontak | Redaksi | Iklan | Lowongan
© 2000-2008 eramuslim.com