Penggunaan Istilah Asing Dalam Tulisan
Senin, 7 Apr 08 12:30 WIB
“Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada redaktur eramuslim yang kembali rubrik jurnalistik di situs tercinta ini. Sebab saya merasa sangat terbantu dengan adanya ruang konsultasi dalam hal kepenulisan dan jurnalistik ini.
Bang Gaw, dalam kesempatan ini saya ingin bertanya satu hal saja. Yakni tentang kaidah penggunaan kata/istilah asing dalam tulisan. Apakah dibenarkan? Sejauh mana batas penggunaannya? Apakah akan merusak tatanan bahasa Indonesia?
Terima kasih atas jawabannya, semoga rubrik ini makin diminati.
Hasan, di Jakarta Barat
Jawaban
Wa’alaikum salam,
“Saudara Hasan yang baik, terima kasih juga atas pertanyaannya.
Langsung saja ke topik pembahasan mengenai penggunaan istilah asing dalam sebuah tulisan.
Pertama saya akan mengutip pernyataan editor buku Handbook for The Third world Journalist, Albert L. Hester, “Jika pembaca tidak mengerti tulisan Anda, maka buat apa Anda menulis?”
Yang perlu diingat, penulis harus tahu siapa target pembacanya. Jika pembacanya dari kalangan intelektual atau akademisi, sedikit-sedikit menggunakan istilah asing mungkin dibolehkan. Meski pun saya tetap menganjurkan sebaiknya tetap menggunakan bahasa Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan tetap melestarikan bahasa melayu?
Tetapi kalaupun ‘terpaksa’ harus menggunakan istilah asing, sebaiknya pula menyertakan terjemahan bahasa Indonesianya. Harus dimulai ikhtiar untuk menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan. Meski harus diakui pula, perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sector kebudayaan lain. Misalnya, agak sulit mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia istilah-istilah seperti; after-shave lotion, drive-in, technical know-how, smash, slow motion, dan lain-lain, karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita.
Kesimpulannya, bahasa jurnalistik adalah bahasa sederhana yang mudah dimengerti banyak orang. Hindari sedapat mungkin penggunaan istilah asing. Jika terpaksa menggunakannya, maka beri penjelasan agar mudah dimengerti orang awam.
Jika sebuah tulisan sulit dimengerti, berarti penulisnya gagal mengkomunikasikan gagasan atau pemikirannya.
Wassalaamu’alaikum,
Gaw






