Anak di Pesantren

Ade – Rabu, 8 Rajab 1430 H / 1 Juli 2009 07:04 WIB

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ustadzah , anak saya perempuan sulung saat ini kelas 6 SD mempunyai keinginan melanjutkan pendidikan ke pesantren
Alasannya bila ditanya ingin mandiri bersama teman – teman. Tapi saya masih ragu Bu ?

1. Bagaimana cara mengetahui apakah keinginan tersebut sesaat, atau tidak ?
2. Sudah siapkah anak usia 12 th di pesantren ?
3. Apa yang perlu dipersiapkan oleh kami sekeluarga ( anak saya , kami sebagai ortu dan adik2nya )
4. Bagaimana cara menjaga hubungan kami sekeluarga supaya tetap dekat, terutama hubungan kakak adik.

Sebelumnya terima kasih atas jawabannya. Dan Semoga kami diberi kemampuan untuk mendidik anak kami menjadi anak Sholeh.
Terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu

Sdraku Ade yang dirahmati Allah swt.,
Saya bersyukur dan bangga bahwa dalam pertanyaan Anda tersirat kecintaan yang mendalam pada anak-anak. Saya menduga keraguan Anda untuk menuruti keinginan anak, sebenarnya karena khawatir anak akan terabaikan kebutuhannya di pesantren. Memang tugas Anda sebagai orangtua tidak akan dapat tergantikan oleh siapapun termasuk pesantren. Andalah sebagai orangtua yang merupakan pendidik anak yang utama.
Sdraku Ade yang dirahmati Allah swt.,
Anak tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu melalui informasi yang didapat secara indrawi atau sering disebut sebagai stimulus. Tentu diharapkan orangtua mampu memberi stimulasi yang sebaik mungkin pada anak, namun kadang tidak semua orangtua mampu melakukannya. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orangtua, kesempatan yang terbatas karena orangtua sibuk maupun keterbatasan orangtua yang lain. Padahal menurut Abdullah Nashih ’Ulwan anak mempunyai hak mendapat berbagai pendidikan:
1. Pendidikan keimanan
2. Pendidikan akhlak/ moral
3. Pendidikan fisik
4. Pendidikan rasio/ akal
5. Pendidikan kejiwaan
6. Pendidikan sosial
7. Pendidikan seksual
Idealnya hak anak tersebut dapat terpenuhi oleh orangtua; nah… jika orangtua tidak mampu maka untuk mengatasi kekurangan orangtua ini maka tentunya perlu dilakukan kerjasama dengan unsur-unsur pendidik yang lain, seperti sekolah, pesantren maupun lingkungan masyarakat. Sebagai contoh dalam pendidikan keimanan, maka banyak perangkat ilmu yang diperlukan untuk mewujudkan anak yang punya keimanan pada Allah swt dan Rasul termasuk ilmu tentang Al qur’an, As-sunnah, Sirah Nabawiyah maupun sirah shahabat, dsb. Di sinilah pentingnya unsur pendidik yang lain bekerjasama dan berkontribusi untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Pendidikan pesantren adalah salah satu sarana yang bisa ditempuh orangtua, namun tetap dengan daya kritis dan selektif dan mempertimbangkan aspek kesiapan anak.
Subhanallah…ternyata anak anda mempunyai kesiapan masuk pesantren, ini adalah modal awal yang baik. Saya kira usia 12 tahun anak sudah mempunyai kesiapan fisik dan kognitif dan psikologis yang cukup untuk menghadapi keterpisahan dengan figur lekat (orangtua). Perkembangan anak sudah mulai ke lingkungan eksternal, lingkungan, teman sebaya dan dunia yang semakin luas. Anak tidak merasa puas hanya yang didapat dari orangtuanya, dan sudah selayaknya diajarkan kemandirian dan tanggungjawab karena sudah memasuki masa baligh/ sudah mulai terkena taklif atau beban agama.
Sdr. Ade, yang perlu Anda lakukan adalah mematangkan kembali kesiapan anak, serta carilah informasi untuk dapat memilih pesantren yang tepat bagi anak. Kadangkala lingkungan fisik yang tidak memadai atau nutrisi yang buruk dapat mengganggu kesehatan. Bukankah rasulullah saw. menyukai susu dan daging domba? hal ini mengisyaratkan selain halal, maka makanan hendaklah thayyib; bahwa pemenuhan nutrisi yang seimbang juga penting dalam agama islam. Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa tidak makan daging maupun mengkonsumsi susu berarti tidak masuk dalam kriteria gizi yang baik; perlu dipilahkan antara makanan yang mahal dengan makanan yang memenuhi gizi seimbang. Banyak pesantren yang sudah sangat concern pada hal ini, termasuk kebersihan lingkungannya, pembelajarannya yang sudah modern, dll. Saya kira tinggal Anda sebagai orangtua memantapkan dan mengikhlaskan hati melepas ananda nantinya. Ingat bahwa tugas Anda tidak terputus sampai di sini; porsi Anda dalam mendidik anak tetap harus dilanjutkan, begitu juga dengan hubungan dengan keluarga, baik adik maupun kakak yang itu dapat diatasi dengan kunjungan-kunjungan, via telepon, selalu mendoakan ananda agar diberi kemudahan, dsb. Insya Allah pertemuan yang berkualitas meskipun sedikit akan memberi kesan pada diri anak dalam menginternalisasi nilai-nilai yang diberikan oleh orangtua maupun saudaranya.
Sdr. Ade, ajaklah ananda berdialog dari hati ke hati, apakah motivasinya memang sudah terbentuk, dan berilah support dengan sepenuh hati. Social support ditemukan dalam penelitian-penelitian dapat berpengaruh positif bagi individu dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Sebagai orangtua, wajar Anda menginginkan anak yang shalih oleh karena itu mestinya Andalah yang membuat planning lebih konkrit untuk mendapatkan anak shalih tersebut. Allah akan selalu membimbing kita, insya Allah.

Wallahu a’lam bisshawab,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu

Bu Urba

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus