Ayah Over Protektif
Asalamualaikum wr. wb.,
Saya seorang mahasiswi semester 1 dan anak tunggal, saya mempunyai masalah, terkadang ayah lebih suka melarang ketika saya pergi atau melarang kegiatan yang tidak bermanfaat bagi saya menurut ayah saya. Namun mama membolehkan hal-hal tersebut.
Pertanyaan saya, apa yang harus saya lakukan ketika dalam kebimbangan seperti ini. Apakah saya harus mengikuti ayah atau mama yang mengizinkan saya ?
Tolong saran dari ibu, terima kasih sebelumnya,
Wasalammualaikum wr. wb.
hamba ALLAH
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh
Sdri Hamba Allah yang dirahmati Allah,
Dapat dipahami bahwa sebagai remaja Anda merasa perlakuan Ayah berlebihan. Memang wajar Anda merasa bingung terhadap perlakuan Ayah dan Ibu yang berbeda, apalagi sekarang Anda bukan lagi anak kecil yang hanya tergantung kemauan keluarga. Kebutuhan Anda untuk mencari lingkungan lain di luar keluarga sudah mulai muncul. Anda punya kebutuhan lebih mandiri. Oleh karena itu larangan Ayah terhadap beberapa kegiatan Anda tentu tidak nyaman.
Sdri Hamba Allah yang dirahmati Allah,
Pergaulan dan kegiatan Anda di luar rumah tentunya bertujuan, bukan? Anda sedang berproses untuk mematangkan kepribadian melalui interaksi dengan lingkungan. Interaksi yang dinamis antara Anda dan lingkungan akan turut mewarnai bagaimana kepribadian Anda suatu saat terbentuk. Jika lingkungan kondusif tentunya dapat berpengaruh positif terhadap kepribadian Anda, namun jika lingkungan tidak kondusif, dapat mewarnai kepribadian yang negatif . Saat ini kepribadian Anda belum selesai atau belum final menuju pematangan, oleh karena itu inilah saatnya menggoreskan warna seperti apa yang Anda pilih. Oleh karena itu Anda perlu selektif memilih lingkungan. Mungkin inilah yang dikehendaki Ayah Anda agar Anda tetap dalam lingkungan maupun kegiatan yang kondusif. Nampaknya ada perbedaan persepsi antara Anda dan Ayah, Antara Ayah dan Ibu, hal yang Anda dan Ibu anggap positif mungkin dipandang negatif oleh Ayah atau sebaliknya, jadi belum ada kesamaan persepsi. Komunikasi yang tepat akan menjembatani perbedaan tersebut, seperti dengan menjelaskan tujuan dari kegiatan-kegiatan Anda. Selain itu sudahkah ada aturan dan komitmen yang jelas, seperti kriteria teman, kapan Anda harus kembali ke rumah, dsb.
Sdri yang shalihat, Anda adalah anak tunggal, dapat dimengerti jika ada rasa sayang yang lebih pada Anda, namun negatifnya bisa menjadi tindakan protektif yang tidak perlu. Kenalilah kegiatan apa saja yang dikhawatirkan Ayah, mungkin Ayah mempunyai alasan jadi dengarkanlah alasannya. Jadikan mau mendengar, berempati dan didengar ini menjadi kebiasaan yang baik dalam keluarga. Semoga dengan keterbukaan, akan dapat ditemukan kebutuhan masing-masing pihak. Tunjukkan bahwa Anda konsekuen dengan keputusan Anda berkegiatan, dengan berprestasi dalam kegiatan-kegiatan tersebut; sesekali kenalkan atau bawa ke rumah teman-teman Anda agar Ayah berkenalan dengan mereka, dengan begitu Ayah akan lebih nyaman dan memahami seperti apa lingkungan Anda. Jadilah anak yang lebih sholihah, lebih berbakti, jangan hanya sibuk dengan kegiatan di luar dan kurang memberi waktu bagi orangtua bercengkerama dengan Anda yang notabene adalah putri satu-satunya. Teriring do’a semoga Allah swt memberi solusi terbaik.
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Bu Urba
Lainnya (Arsip)
- Cara Tobat dari Zina dan Hukumannya Sekarang
Rabu, 10/02/2010 07:50 WIB - Bukti Allah Ada
Sabtu, 30/01/2010 08:12 WIB - Aku Mencintai Calon Istri Orang
Kamis, 28/01/2010 08:42 WIB - 5 Tahun Menikah Tidak Pernah Berhubungan Badan
Kamis, 28/01/2010 01:36 WIB - Tidak Mau Dinikahi Setelah Berzina
Sabtu, 16/01/2010 08:14 WIB
Konsultasi Keluarga
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




