Bagaimana Menyikapi Jika Isteri Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Susiana Dewi Ratih – Senin, 10 Jumadil Akhir 1428 H / 25 Juni 2007 12:22 WIB

Assalaamu’alaikum wr, wb.

Saya adalah seorang isteri dan ibu dari 3 anak yang masuk usia pubertas. Saya sudah menikah selama 15 tahun. Ada yang merisaukan saya, karena sejak menikah sampai sekarang, alhamdulillah, pendapatan saya jauh lebih tinggi dari suami. Bahkan ada masa selama 7 tahun saya menjadi tulang punggung tunggal bagi keluarga, karena suami tidak punya pekerjaan tetap. Sehingga akhirnya semua pembiayaan baik sehari-hari maupun yang cukup besar menjadi tanggungan saya.

Suami bukannya tidak berusaha, tapi mungkin memang rejekinya seperti itu, sehingga menyebabkan kondisi perekonomian di rumah adalah tanggungan saya. Saya juga sangat mencintainya. Namun terkadang saya berpikir, suami saya seperti terlena dengan keadaan di mana saya bisa mengatasi semua masalah yang ada.

Kadang-kadang timbul ketidak puasan dalam diri saya, karena semua jerih payah saya, selalu untuk keluarga. Sedangkan untuk keperluan saya pribadi harus saya tekan sedalam-dalamnya.

Sampai pernah terpikir oleh saya, bahwa bagaimana jadinya kalau saya tidak ada? Apa yang terjadi pada anak-anak dan keluarga ini?

Bu, bagaimana saya harus bersikap? Supaya saya ikhlas menjalankan ini semua? Sungguh saya lelah dengan beban yang demikian besar ini, saya ingin ridhla menjalaninya, tapi selalu saja ada ketidakpuasan menyertainya.

Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum wr, wb.

Assalamualaikum wr.wb

Laki-laki memang seharusnya menjadi pencari nafkah utama bagi anak-anak dan isterinya. Sementara perempuan, berkewajiban mengurus rumah tangga, anak-anak dan suami. Sementara itu Islam sendiri membolehkan isteri bekerja bila memang kondisinya memungkinkan misalnya untuk membantu perekonomian keluarga atau gaji suami tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sangat sering ditemui justru isteri lah yang justru memiliki penghasilan yang lebih besar dibandingkan suaminya. Hal ini tentu saja menyebabkan isteri lebih banyak berperan dalam menjalankan roda ekonomi keluarga atau dengan kata lain menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.

Kondisi seperti ini memang jelas kurang ideal, apalagi selain bekerja di luar rumah isteri juga sering dituntut untuk menyelesaikan tugasnya mengurus rumah tangga. Akibatnya beban isteri menjadi sangat berat, karena harus menjalankan dua peran sekaligus. Karenanya tidak berlebihan bila ibu merasa terbebani dengan kondisi seperti ini, apalagi kondisi ini ternyata sudah ibu jalani selama 15 tahun, atau sejak awal pernikahan.

Sebagai isteri, dalam hal ini perlu memahami beberapa hal agar dapat menjalankan kedua peran tersebut dengan ikhlas. Salah satunya dengan memahami bahwa Allah ternyata memberikan rezeki yang lebih banyak lewat tangan isteri. Karena yang terpenting, suami tetap berusaha sekuat tenaga mencari nafkah.

Mengenai hasil yang didapat besar atau kecilnya adalah ketentuan Allah. Sehingga apabila ternyata isteri berpenghasilan lebih besar dari suami, keduanya haruslah berlapang dada. Karena apa yang diperoleh adalah untuk kepentingan bersama.

Suami juga harus memahami beban berat isteri yang bekerja, dengan membantu tugas-tugas isteri dirumah. Selain itu suami jangan terlena dan merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Karena dikhawatirkan suami bisa lengah dari tanggung jawabnya sebagai qowwam atau pemimpin dalam keluarga.

Suami wajib terus berusaha mencari nafkah dan tidak terus menerus mengandalkan jerih payah isteri untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi bila isteri merasa tidak ridho karena diperlakukan seperti sapi perahan. Karena tugas utama mencari nafkah bukanlah tugas seorang isteri.

Apabila segala usaha telah dilakukan suami, namun rezeki suami ternyata masih ‘segitu-segitu’ saja. Haruslah dikhlaskan keadaan ini sebagai ketentuan Allah. Keadaan ini justru bisa menjadi ladang amal buat isteri, karena Insya Allah banyak pahala bagi peran ganda perempuan yang membantu suami mencari nafkah sekaligus pahala untuk tugasnya sebagai ibu dan isteri dari suaminya.

Cobalah memahami makna kebersamaan dalam pernikahan, rumah tangga ibarat kapal yang dikayuh oleh dua orang. Ketika yang satu tidak mengayuh dengan baik, maka yang lain harus mengayuh lebih keras. Bila hal ini disadari dengan baik, Insya Allah akan mengurangi perasaan tidak puas dari pihak isteri.

Contohnya adalah Khadijah ra. Isteri Rasullullah saw. yang harta dan status sosialnya berada di atas suami tercintanya. Hingga Berapa banyak harta hasil kerjanya yang dipakai sang suami untuk berdakwah. Namun demikian Khadijah tetap berkhidmat pada suaminya tercinta.

Nah, Ibu Ratih semoga apa yang baru saya sampaikan, bisa mengurangi kerisauan hati ibu.

Wallahua’lam Bishawab.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus