Mendidik Anak yang Gampang Frustasi

Eva Arianty – Sabtu, 5 Sya'ban 1428 H / 18 Agustus 2007 05:30 WIB

Ibu anita saya punya masalah dengan suami dalam hal perbedaan mendidik putra kami. Suami saya tidak suka jika anak saya menangis, jika beliau di rumah dan mendengar anak kami menangis maka dia akan memarahi saya, kemudian meminta saya untuk tidak membuatnya menangis.

Contoh lain adalah ketika anak kami rangkingnya turun, anak kami menangis karena tidak mendapat piala seperti teman-temannya yang masuk 3 besar. Dia merebut rapot yang dipegang oleh saya kemudian dirumah dibantingnya rapot itu sambil jejeritan kepada saya. Kemudian ayahnya datang dan meredakan tangisnya dengan menawarkannya membeli mainan.

Entah mengapa saya merasa tidak cocok dengan cara suami saya bersikap padanya, saya minta tolong masukannya apakah tepat apa yang dilakukan suami saya selama ini?

Wassalammua’alaikum

Ibu eva

Assalammu’alaikum wr. wb.

Bu eva yang dirahmati Allah,

Nampaknya ibu merasa gundah dengan polah asuh yang diterapkan oleh suami kepada anak. Ibu merasa sikap suami yang selalu berusaha membuat anak merasa senang dan tidak membiarkannya merasa sedih tidaklah tepat untuk mendidik putra ibu. Tentu saja memperlakukan anak dengan pola asuh yang berbeda dapat menimbulkan masalah, dan jika tidak diselesaikan dapat menimbulkan kebingungan kepada anak dan justru semakin memperburuk situasi.

Orangtua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya dan mencoba untuk mencurahkan kasih sayangnya setulus mungkin dengan harapan sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan. Namun tanpa disadari seringkali cara orangtua mengungkapkan cinta kepada anak justru merusak pribadi anak tersebut. Misalnya cinta yang berlebihan di mana orangtua selalu jadi pelindung bagi anak untuk terhindar dari emosi yang negatif, justru dapat menghambat pertumbuhan kematangan emosi anak itu sendiri.

Suami ibu nampaknya sangat sayang kepada anak ibu dan buah dari rasa sayangnya adalah mencoba untuk melindungi putra ibu dari merasa sedih, kecewa, kegagalan dan semacamnya. Menghindari anak dari emosi yang negatif akan sangat merugikannya ketika dia beranjak dewasa. Padahal memiliki ketrampilan untuk menguasai emosi sudah harus dilatih sejak dini karena masa kanak-kanak sebenarnya adalah masa persiapan untuk menjalani kehidupan sebagai orang dewasa.

Dalam kehidupan orang dewasa tidak mungkin untuk terhindar dari hal-hal yang membuatnya sedih, kecewa ataupun kegagalan. Perasaan negatif bukanlah hal yang harus dihindarkan karena perasaan tersebut kertika ditangani secara tepat akan jadi bagian dari pertumbuhan emosi yang matang. Ketika anak-anak selalu dihindarkan dari merasakan perasaan negatif dengan cara menolaknya atau mengalihkannya maka mereka tidak akan terlatih bagaimana menanganinya saat dewasa.

Dan biasanya anak-anak yang seperti ini adalah anak-anak yang rentan terhadap kegagalan.Kegagalan kecil bisa mudah membuat mereka frustasi bahkan menghancurkan kehidupannya. Padahal kegagalan adalah unsur penting yang menjadi bagian dari keberhasilan. Dan bisa dibayangkan bagaimana pribadi semacam ini akan berkembang di masa dewasanya.

Dalam hal ini saya menyarankan kepada ibu untuk berbicara dan sering berdiskusi dengan suami tentang metode terbaik dalam mendidik anak. Mungkin ibu bisa mencoba untuk membahas sebuah artikel atau buku yang menghadirkan fakta-fakta penting tentang pola asuh yang merugikan perkembangan emosi anak.

Dalam hal ini sebaiknya tidak perlu menyudutkan dan menyalahkan suami, namun jadikan diskusi itu sebagai sarana untuk sama-sama belajar dan intropeksi diri. Biar bagaimana baik ibu maupun suami adalah orangtua yang mencintai anaknya dan sebaiknya memang tidak cukup puas dengan menjadikan pola pengasuhan berdasarkan pengalaman sendiri, namun mau memiliki pikiran yang terbuka untuk belajar dari sumber-sumber lain. Wallahua’alam bishshawab

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr Anita W.

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus