Suami yang Kurang Perhatian

Wulan Nuhasanah – Senin, 5 Rabiul Awwal 1427 H / 3 April 2006 11:22 WIB

Assalamualaikum wr. wb.

Ibu saya mempunyai masalah dengan diri saya sendiri itu karena suami yang kurang perhatian. Saya sudah menikah dan sekarang hamil 4 jalan 5 bulan. Masalah muncul bila apa yang saya inginkan selalu saja ada alasan dari suami. kadang kalau saya minta suami selalu mengatakan ambil saja sendiri atau jangan malas. Ya, pokoknya membuat saya merasa tidak diperhatikan. Saya bekerja dari jam 8 sampai jam 4 kadang bila saya ingin dijemput selalu saja ada alasan yang berbelit-belit, suami juga kerja tapi tidak tentu kapan kerja dan pulang karena kerja dekat rumahnya.

Saya merasa kesal dan selalu marah-marah, tapi akhirnya saya lagi yang harus mengalah dan memendam semuanya. Kebetulan saya ikut suami numpang di rumah mertua jadi apa yang ingin saya lakukan canggung. suami tidak memikirkan itu karena dia tinggal bersama orangtuanya, tapi tidak memikirkan bagaimana dengan saya. Terkadang kalau berbicara berdua selalu tidak cocok dan akhirnya malah tambah masalah yang tadinya ingin menyelesaikan masalah.

Ibu tolong saya, saya harus bagaimana mengadapi masalah ini terkadang saya selalu terbawa emosi dan takut ada apa-apa dengan kandungan saya. Atas jawabannya terima kasih.

Wassalam,

Assalmmu’alaikum wr.wb.

Ibu WN yang penyabar,

Wah kesal juga ya bu ketika sebagai istri menuntut perhatian lebih dari suami tapi suami justru bersikap tidak peduli. Apalagi di saat hamil di mana biasanya kondisi emosi wanita memang sedang tidak stabil dan kebutuhan untuk mendapatkan perhatian lebih besar. Dan nampaknya perasaan tersebut makin menekan ketika ibu tidak dapat berekspresi karena tinggal bersama mertua.

Perubahan yang sedang terjadi pada wanita hamil memang besar pengaruhnya pada kondisi psikologis wanita tersebut. Hal-hal yang dulu biasa saja bisa menjadi masalah ketika sedang hamil artinya wanita menjadi lebih sensitif dan peka terhadap diri dan sekitarnya. Oleh karena itu juga saat kehamilan sebagian wanita cenderung meminta perhatian lebih dari suaminya dan hal ini merupakan hal yang wajar.

Dan seharusnya suami memang memahami kebutuhan emosi wanita saat hamil. Mengapa? Karena hubungan yang erat antara sang ibu dan calon bayi dalam kandungannya itu maka perubahan suasana hati ibunya akan berpengaruh juga bagi perilaku bayi saat lahir. Penelitian pada ibu hamil yang mengalami depresi maka anaknya cenderung menjadi hiperaktif atau kurang dalam konsentrasi.

Namun beban emosi ibu yang berpengaruh besar pada kondisi bayinya terjadi ketika ibu mengalami stress yang berkepanjangan sampai tingkat depresi. Stress ringan (hal yang wajar dialami orang hidup) kecil kemungkinan pengaruhnya pada perkembangan bayi. Tapi agar tekanan yang dirasakan ibu ini tidak sampai menjadi stress maka memang sebaiknya dibicarakan dengan baik kepada suami.

Menekan saja ketidakpuasan ibu terhadap sikap suami tidak akan membuatnya mengerti keinginan ibu.Kadang emosi yang tertahan keluar dalam bentuk perilaku yang tidak disadari seperti cemberut, marah-marah tidak jelas atau bersikap ketus ketika bicara dengan suami. Jika demikian yang terjadi maka sudah dipastikan hanya akan mengundang pertengkaran dan suami tetap tidak mengerti apa yang diinginkan oleh ibu.

Oleh karena itu bicaralah baik-baik dengan suami ibu dengan menggunakan "pesan Saya." Artinya ungkapan perasaan ibu terhadap sikap suami seperti: "Pak, aku merasa sedih jika bapak selalu menolak jika dimintai bantuan padahal aku dalam kondisi hamil…" atau "Aku senang sekali jika dalam kondisi hamil begini bapak lebih cepat sampai di rumah." Memang ungkapan ini belum tentu juga dapat merubah perilaku suami tapi beban emosi ibu keluar sedikit demi sedikit dan apa yang ibu rasakan sudah diterima oleh suami.

Jika suami tetap tidak berubah maka bersabarlah dan belajar menerima dulu hal ini, mungkin ia butuh waktu untuk berubah. Dan untuk membantu mengurangi perasaan tertekan perbanyak ibadah kepada Allah, lakukan relaksasi dan hibur diri sendiri dengan mengalihkan dengan aktifitas yang menyenangkan untuk ibu. Jadi bu jangan putus asa jika kita sulit merubah lingkungan maka ubahlah diri kita atau cara pandang kita sehingga tetap positif dalam bersikap. Wallahu"alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus