Perceraian
Rabu, 9 Apr 08 05:42 WIB
Ass.Wr.Wb,
Isteri saya minta diceraikan karena dia takut tidak dapat menjalankan kewajiban suami isteri lagi karena rasa cinta dan hormat dia sudah hilang. Daripada dia durhaka terus, dia mengharapkan saya menceraikan dia secara damai.Saya jadi merasa disemena-menakan dengan keputusan sepihak ini.
Ketika saya hubungi orang tuanya, mereka semua kaget dan meminta saya utk tidak mengabulkan permintaan isteri saya yang menurut mereka agak aneh. Namun keputusan isteri saya sudah bulat, dia sudah keluar rumah dan kerja di luar move on melanjutkan hidupnya yang baru tanpa memperdulikan saya lagi.
Dia akan mengajukan gugat cerai segera dan dengan alasan seperti di atas dia yakin akan diterima gugatannya di pengadilan. Karena ada hadist nabi yang menceritakan kisah yang sama, bagi dia rumah tangga kami sudah selesai, karena dalam hadits itu jelas nabi langsung mengizinkan perceraian tanpa harus bertanya panjang lebar alasan sang isteri.
Mohon sarannya sebaiknya apa boleh saya terus mempertahankan RT atau lebih baik mengikhlaskan dia karrna dia bilang tidak mau diganggu gugat lagi keputusannya, tercermin juga dengan sikapnya yang sudah move on.
Wassalam
Hamba Allah
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak yang dirahmati Allah swt.
Bapak merasa tidak memahami keinginan isteri yang minta diceraikan. Sayang Bapak tidak menjelaskan apakah sebelumnya rumah tangga Anda sering/ pernah cekcok. Jika terjadi maka tema-tema apa yang sering dipercekcokkan, atau akhir-akhir ini isteri ada keluhan-keluhan pada Anda sebagai suami, atau ada perilaku yang tidak biasa pada isteri, seperti isteri sering pergi dengan alasan yang tidak jelas, berdandan berlebihan kalau mau pergi, dan sebagainya. Bapak, memahami kemauan pasangan memang tidak mudah. Bukan hanya dengan indra fisik, tetapi juga dengan hati. Mungkin perlu kepekaan-kepekaan dalam melihat gelagat isteri sampai berujung pada minta cerai.
Saran singkat saya adalah Anda segera menyusul isteri, ajak bicara baik-baik. Berkomunikasilah dalam suasana yang kondusif, kepala’dingin’. Biasanya seorang wanita yang sedang emosi kemudian tidak terkontrol permintaannya. Kadang dalam rumah tangga perlu ada pembaruan visi bersama, komitmen ulang, didukung kemauan berubah dari kedua belah pihak.
Nah, Bapak lapangkanlah dada Anda menghadapi sifat wanita, semoga Allah swt mencatatnya sebagai pahala. Didiklah isteri Anda untuk menjadi wanita shalihah karena ini tugas Anda. Lakukan evaluasi, instrospeksi ke dalam, mungkin ada kekurangan diri yang harus dirubah. Kalau isteri mengatakan bahwa rasa hormat dan cinta sudah hilang, apa pemicunya? Ini yang perlu diselidiki lebih jauh. Janganlah keputusan-keputusan seperti perceraian dilakukan dalam kondisi emosional. Ini saja saran saya, semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bissshawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ibu Urba






