Hubungan Suami ISteri
Senin, 30 Jun 08 02:57 WIB
Kasus 1:
Ass. Wr.Wb Bagaimana hukum isteri melayani suami apabila isteri dalam kondisi capek atau sakit? Misalkan dalam kondisi seperti itu suami memaksa untuk meminta berhubungan dan isteri menolak siapakah yang berdosa?
Meindra75
Kasus 2:
Bunda sy mau bertanya apakah kita berdosa jikalau menolak ajakan suami utk berhubungan intim...
Yuli
Kasus 3:
Saya suami dengan 2 anak yang sudah duduk di SMP kelas 1 dan 3, perkawinan kami sudah berumur 15 Tahun, namun dalam soal hubungan suami isteri kami sama sama kurang bisa menikmatinya bahkan dari tahun pertama hingga saat ini. Sampai saat ini kami melakukan 2 bulan atau lebih hanya sekali. Hal ini karena saya selalu merasa lelah bila harus melakukan pemanasan yang terlalu lama padahal isteri bila belum merasasiap.Apakah di agama mengatur tentang bagaimana cara-cara melakukan hubungan. Katanya isteri harus selalu sia[p dan tidak menolak bila diajak hubungan badan bahkan akan dikutuk malaikat hingga pagi harinya. Saya juga melakukan onani bila rasa itu sudah tak tahan lagi. Maaf bahasanya terlalu fulgar. Wassalaamualaikum.
Mb (pertanyaan senada dr Sdr.As-syifa)
Kasus 4:
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya sudah berumah tangga selama 17 tahun. Tapi kenapa disetiap ada permasalahan atau kejengkelan, kecurigaan dan kebohongan suami saya hati saya benci, jengkel merasa tidak butuh dia lagi, maka timbul di hati saya seakan-akan saya tidak butuh melakukan hubungan suami isteri. kalau udah marahan saya tahan tidak melakukan hubungan itu selama hati saya ini belum terobati. Di suatu hari kami udah berbaikan maka suami saya bertanya kenapa kau selama ini tidak melayani ku/ melakukan kewajibanmu sebagai seorang isteri. Saya menjawab bapak kan udah tahu kalau aku ini kurang bergairah untuk itu.
Bu, saya minta pendapatnya
Wati
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh
Ibu Meindra, ibu Yuli, Ibu Wati, Bapak Mb & As-Syifa yang disayang Allah, Subhanallah, syariat Islam itu luar biasa memudahkan ummatnya. Ia juga mengatur banyak hal yang sangat berguna untuk kehidupan keseharian kita dan juga lengkap. Mestinya kita tak jadi bingung karena sumber rujukannya sudah ada dan tersedia. Sayangnya karena pemahaman kita yang belum sampai ke sana, kita jadi mengambil satu hadits dan melupakan hadits yang lainnya.
Hubungan suami isteri di dalam Islam mengandung banyak manfaat. Imam Al-Ghazali, yang disarah oleh Abdul Halim Abu Syuqqoh mengatakan, setidaknya ada lima faedah, yaitu:
1). mendapatkan anak; 2). mengendurkan syahwat termasuk di dalamnya membentengi diri dari godaan setan, menundukkan pAndangan dan memelihara kemaluan; 3). menghibur hati dan menyenangkannya dengan duduk-duduk, saling memAndang dan bermesraan suami isteri sehingga dapat menggembirakan hati dan menyemangati untuk beribadah, menghilangkan kegundahan dan menceriakan hati; 4). mengosongkan hati dari kesibukan mengurusi rumah; 5). mengendalikan nafsu dan melatihnya dengan memelihara dan menguasainya, menunaikan hak isteri dan keluarga, membimbingnya ke jalan agama, berusaha mencari yang halal untuk mereka dan mendidik anak-anak.
Sesungguhnya, syariat sangat memudahkan jalan untuk terlaksananya hubungan intim suami isteri dengan mengatakannya bahwa hal itu sebagai sedekah. Jadi karena amalan itu seseorang (atau dua orang) bisa mendapat pahala, selama mereka ikhlas tentunya...misalnya tidak dengan nggerundel atau terpaksa.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,
”Apabila seorang lelaki mengajak isterinya ke ranjang tetapi si isteri enggan memenuhinya, maka dia dilaknat oleh malaikat hingga pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan: Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
”Tiada seorang lelaki pun yang mengajak isterinya ke ranjang, tetapi si isteri enggan memenuhinya, melainkan yang di langit marah kepadanya hingga suaminya merelakannya.” (HR Muslim)
Mari kita coba memahami hadits ini secara bijaksana. Islam adalah dien yang sangat mementingkan pencegahan dibanding pengobatan. Sengaja redaksi hadits ini dibuat seperti itu, lelaki yang mengajak wanita dan bukan sebaliknya, karena Allah yang membuat syariat tahu persis tabiat makhluk yang diciptakanNya. Allah lebih tahu bahwa kadar keinginan laki-laki terhadap pelepasan nafsu syahwat lebih besar dibanding wanita. Maka bila kebutuhannya sudah mendesak dan tidak segera terpenuhi, yang timbul adalah bahaya yang datangnya terkadang tidak terduga, mulai dari yang berpengaruh terhadap dirinya sendiri seperti onani, menonton VCD porno atau yang lebih berbahaya lagi, yaitu perzinaan. Naudzubillahi min dzalik.
Tak bisa dipungkiri, lelaki dan wanita memang berbeda dalam memAndang hubungan suami isteri ini. Lelaki lebih ke arah pemuasan syahwat, sedangkan wanita memAndang hubungan seksual adalah ekspresi puncak dari cinta kasih yang dimilikinya. Kalau lelaki begitu menginginkannya ia akan mudah saja memenuhinya, tanpa membutuhkan waktu yang panjang. Sedang wanita membutuhkan kondisi, mood, hawa cinta dan ekspresi kasih dari suaminya.Jadi pada wanita untuk mencapai kepuasanwaktunya tak sependek yang dibutuhkan lelaki.
Pemahaman hadits di atastidak semata-mata menggantungkan pada kata ”kutukan malaikat”, tetapiseperti dijelaskan padahadits ke dua, ”hingga suaminya merelakannya’, artinya Bapak dan ibu, menurut syariat tidak ada kutukan malaikat, kalau suami merelakan rasa capek isteri atau sakitnya atau rasa tidak nyamannya. Sekali lagi, masalah ini pada akhirnya, tergantung juga dari kesehatan komunikasi suami isteri. Bila komunikasi di antara mereka lancar, maka, sang suami akan membantu isterinya menemukan mood, membantu isterinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga agar mengurangi rasa capek atau memijitinya atau mengobatinya bila sang isteri sakit. Jadi tak perlulah memperpanjang mendiskusikan ’siapa yang berdosa’, tetapi lebih ke ”siapa yang menginginkan banyak pahala dengan bersedekah, termasuk mencari cara-cara yang akan melancarkanhubungan suami isteri?”
Khusus untuk Bapak Mb & Bp Asyifa, setiap suami, sesungguhnya bisa mengetahui bagaimana cara membahagiakan isterinya dan membuatnya merasakan cintanya. Bapak harus membuat perubahan-perubahan berarti. Mungkin beberapa kiat ini, pada awalnya, terasa lucu dan kaku, tetapi tak apalah, Pak, semoga lama kelamaan isteri Bapak merasakan bahwa Bapak ingin mengubah diri dan ia merindukannya, Bapak bisa mencoba beberapa hal di bawah ini:
1. Antusias menunjukkan kepada isteri bahwa Bapak mencintainya. Beberapa hal bisa Bapak coba, misalnya, menciumnya ketika bangun tidur, mau berangkat bekerja, mau tidur atau di kesempatan lainnya. Mengucapkan selamat ulang tahun, memuji dAndanannya, memberinya hadiah romantis, mengiriminya surat cinta yang tak terduga, mencarinya begitu pulang kerja, membelai rambutnya atau mengelus tangannya. Mandi bersama- sama sebagaimana pernah dilakukan Rasulullah saw bersama isteri beliau. Dan banyak cara lain yang sesuai untuk Bapak dan isteri. Intinya, Bapak harus bisa menunjukkan kepada isteri bahwa Bapak mencintainya. Tidak ada kata terlambat atau sudah tua untuk ini. Bukankah semakin tua semakin matang, Pak?
2. Bapak mengevaluasi diri. Biasanya para wanita tidak akan nyaman kalau ia merasa suaminya egois dan tidak memperhatikan waktu ketika mengajaknya berhubungan. Misalnya saat isteri capek, sakit atau mengantuk sekali. Juga ketika suami enggan dan acuh tak acuh, misalnya enggan memakai wewangian, tak menggosok gigi dlsb.
3. mencobalah duduk berdua dengannya. Bercakaplah dengan hati, beri isteri kesempatan untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, apa yang tak disukainya, program apa yang mesti dilakukan Anda berdua agar masalah ini membaik. Sekali-kali, jangan libatkan emosi marah, memutus pendapatnya atau malah tak menghiraukannya. Semoga komunikasi dengan hati ini bisa memperbarui cinta Anda dan meyakinkan dirinya bahwa ia membutuhkan Anda.
4. perlu juga Bapak berlatih berolah raga, agar keinginan Bapak selaras dengan keinginan isteri. Karena sekali lagi, isteri tak biasa langsung melakukan hubungan sementara Bapak mudah menginginkannya. Jadi Pak, jangan pernah lagi merasa takut atau minder, karena ini juga rangkaian dari ibadah.
5. bila cara-cara yang menyentuh sisi psikisnya sudah Bapak lakukan dengan maksimal dan belum ada perbaikan (karena kebanyakan masalah frigiditas pada wanita disebabkan sisi psikologis), Bapak perlu melibatkan ahli. Mungkin ada sisi-sisi yang perlu penanganan ahli.
Sekian, semoga amal-amal kita dalam berumah tangga dimudahkan Allah. Amin..
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Bu Urba






