CAFTA, Ekonomi China, dan Zionis

Rizal Hanapiah – Rabu, 2 Jumadil Awwal 1432 H / 6 April 2011 12:18 WIB

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin tahu: apakah diberlakukannya CAFTA ada hubungannya dengan kepentingan ekonomi yahudi di asia tenggara?

terima kasih atas jawabannya, wassalamu’alaikum.

Wa’alaykumsalam wr.wb. Jazakallah atas pertanyannya saudara Rizal. Semoga saudara selalu dalam lindungan Allahuta’ala.

CAFTA adalah kependekan dari China ASEAN Free Trade Area, atau Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN, CAFTA ini dimulai diberlakukan pada awal januari 2010, yang mana arti dari kesepakatan ini, maka barang-barang antar negara-negara di China dan ASEAN akan saling bebas masuk dengan pembebasan tarif hingga nol%.

Sebenarnya asal-usul gagasan dibentuknya CAFTA sudah disepakati sejak pada November 2001. Kala itu pada sebuah kesempatan di KTT ASEAN ke-7 di Bandar Sri Begawan-Brunei Darussalam, ASEAN menyepakati pembentukan CAFTA dalam rentang waktu 10 tahun kedepan.

Sebagai keseriusan, kedua belah pihak, hal itu kemudian dirumuskan dalam ASEAN-China Framework Agreement on Economic Cooperation yang disahkan pada KTT ASEAN berikutnya di Phnom Penh, Kamboja, pada November 2002.

Sheng Lijun, seorang peneliti dari Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) di Singapura, menyatakan bahwa isu seputar CAFTA bisa ditarik lebih jauh lagi kebelakang.

Pada tahun 2003, Lijun menulis laporan studi “China-ASEAN Free Trade Area: Origins, Development and strategic Motivations”. Ia menguraikan gagasan China mengenai CAFTA telah direncanakan pada tahun 1995, ketika justru China untuk pertama kalinya mengusulkan suatu zona ekonomi khusus, yang berupa satu kawasan perdagangan bebas (Free Trade Area/FTA) dengan propinsi selatan China.

Selanjutnya perjanjian dagang CAFTA ini ditandatangani menteri-menteri negara Asean dan China pada 2004. Usulan CAFTA ini dimulai dengan proposal yang ditawarkan Hu Jintao (PM CHINA) pada tahun 2001 dan ditandatangani dua tahun kemudian (2004) dalam Asean Summit ke-10 di Vientiane, Lao PDR.

Perdagangan bebas: Bagian dari Sistem Dajjal

Nah terkait tentang pertanyaan saudara, apakah konsep CAFTA ini akan terkait pada misi zionisme? Konsep perdagangan bebas apapun namanya tidak lain adalah alat kapitaslime dimana negara maju menindas negara kecil dengan dalih sebuah kerjasama.

Inilah yang dikatakan Ahmad Thompson dalam bukunya “Dajjal and The Antichrist” sebagai sistem produsen (sebagai pemilik modal) dan konsumen (sebagai yang terjajah oleh pemilik modal) dalam sebuah sistem ekonomi kafir.

Tidak saja berhenti disitu, konsekuensi logis ketika kita menerima sistem ekonomi dajjal seperti ini adalah akan mengeliminir keimanan kita karena ia tidak memakai kaedah syar’i dalam sebuah proses kerjasama.

Sistem ekonomi kapitalisme dilaksanakan bukan dalam tujuan mempertebal iman dan menyejahterakan sesama muslim. Sebab dalam sistem kapitalisme keuntungan bisa didaulat menjadi Tuhan, sedangkan Tuhan yang sebenarnya disingkirkan.

Maka daripada itu, sistem perdagangan bebas tidak mengenal basis Islam sebagai landasannya. Padahal Islam sebagai penunjuk jalan kita di dunia, telah mendelegasikan bahwa jika sebuah sistem dijalankan bukan dalam fondasi ketaaatan kepada hukum Allahuta’ala hasilnya hanya akan berujung kesesatan.

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."(QS Al-Ahzab ayat 36)

Syaikh Abdul Qadim Zallum, seorang Ulama dari Palestina, telah dengan baiknya memberikan garis tegas tentang perdagangan bebas. Liberalisasi perdagangan, menurut beliau tidak lebih adalah sebuah alat negara-negara maju untuk membuka pasar bagi produk-produk manufaktur dan investasi negara-negara maju di negara-negara berkembang.

Kebijakan ini tidak hanya memperlemah perekonomian dalam negeri, akibat tidak bisa bersaingnya produk-produk dalam negeri dengan produk-produk impor, tetapi juga akan melarikan kekayaan negara-negara berkembang ke negara-negara maju (efek dependensia).

Negara-negara berkembang akan terus menjadi konsumen utama dari komoditas dan investasi negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang semakin sulit membangun fondasi ekonomi yang tangguh, akibat ketergantungan yang besar terhadap negara-negara industri. Dengan demikian, negara berkembang tidak akan pernah bergeser menjadi negara industri yang kuat dan berpengaruh sedang kita selalu tertinggal

Oleh karenanya mengacu dari ketidakadilan pada proses ekonomi antara berbagai bangsa ini, seorang Muslim yang mukmin sudah seharusnya menolak untuk campur tangan diperkara yang haram hukumnya.

Konsep pasar bebas yang dipropagandakan oleh Amerika, China, Rusia, dan negara-negara industri Barat juga pasti sangat kental akan misi zionis. Pasalnya, kebijakan pasar bebas akan membuka jalan selebar-lebarnya bagi negara-negara kufur untuk menguasai dan mengontrol perekonomian negeri-negeri Islam. Padahal hal tersebut secara tegas dilarang dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT:

Allah tidak memperkenankan orang-orang kafir menguasai orang-orang Mukmin (QS an-Nisa’ [4]: 141)

Dampak dari CAFTA Bagi Indonesia

Dampak dari pemberlakukan CAFTA tertanggal 1 Januari 2010 ini betul-betul membuat ekonomi di tanah air kalang kabut, terutama mereka-mereka saudara kita pedagang muslim menengah ke bawah.

China, jauh sebelum terjadinya CAFTA telah mengirim ratusan orang untuk meneliti bagaimana produk dagangan di Indonesia. Mereka mengirim tim ahli-ahli produksi untuk menganalisis kelemahan dan keterbatasn produk Indonesia.

China juga lah yang telah memasok ekspor pasar ke Indonesia dalam batas yang mengkhawatirkan. Produk industri China memang sangat murah dibanding produk lokal. Menurut salah seorang penjual, transaksi penjualan batik Cina saat ini rata-rata mencapai Rp 300–Rp 500 juta per hari. Sedangkan penjualan batik Pekalongan rata-rata di bawah Rp 150 juta per hari.

Bahkan Menurut data BPS, impor produk dari Cina sudah sangat melonjak tajam satu tahun sebelum CAFTA diberlakukan. Sejak tahun 2009, produk non migas Cina yang diimport ke Indonesia nilainya mencapai 13,49 milyar dolar AS, melonjak tajam dibandingkan dengan import tahun 2004, yang hanya 3,4 milyar dolar.

Import non migas dari Cina ini mengindikasikan meningkat 300 persen dibandingkan dengan tahun 2004. Import produk non migas Cina waktu itu hanya 3,4 milyar dolar. Nilai ini tak mencapai 10 persen dari total import produk non migas Indonesia yang saat itu mencapai 54,126 milyar dolar AS. (eramuslim.com 9/2/2010)

Bahkan akibat keputusan politik dari pemerintah yang menyetujui diterapkannya perjanjian CAFTA, yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 ini, menurut mantan Ketua Serikat Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Syahganda Nainggolan, mengakibatkan 10 juta buruh akan terkena PHK. (eramuslim.com 9/2/2010)

Nah apa arti dari ini semua? Ini artinya CAFTA hanyalah “formalisasi” penerapan sistem ekonomi dajjal yang seakan-akan baru disahkan pada tanggal 1 Januari 2010. Dan di sinilah kita sebagai umat muslim khawatir jangan-jagan inilah bagian dari strategi besar New World Order dalam menguasai sendi ekonomi dan juga politik. Ketika umat muslim lemah di situlah mereka akan masuk dan datang bagai seorang juru penyelamat. Tidak percaya?

China dan Amerika Serikat: Betulkah Seteru?

Kenapa saya mengatakan demikian bahwa bukan tidak mungkin China akan berada pada kontrol Amerika Serikat (AS) yang kita ketahui berada dalam cengkeraman zionis. Betul memang China adalah seteru Amerika Serikat dalam konstelasi politik global saat ini.

Namun dalam dunia politik, kita harus melihat dengan kaca pembesar dan harus terus update memperhatikan perkembangan ekonomi global saat ini. Tesis Fukuyama dalam The end of History and the Last Man (1989) memang menegaskan suatu hal terkait kemenangan liberal/kapitalisme Amerika Serikat atas Uni Soviet yang komunis, yaitu kemenangan teori liberal/kapitalis terhadap teori komunis dan sosialis yang dianggapnya sudah usang.

Ini terbukti dengan adanya negara-negara yang dulunya menerapkan teori komunisme seperti China sebagai pewaris Uni Soviet telah meliberalisasikan perekonomiannya guna mensejahterakan rakyat mereka, walaupun China mempunyai nama tersendiri untuk liberalisasi ekonominya, yaitu liberal.

Namun kita jangan lupa, dalam kapitalisme tidak ada pesaing dan lawan abadi. Kompromi ekonomi di tengah era pasar bebas saat ini amat mungkin membuat berbagai negara mengendurkan semangat persaingan masing-masing persis dengan maksud Fukuyama, termasuk China.

Dan ini bukan isapan jempol semata, sebab empat bulan lalu, kita menyaksikan pertemuan bersejarah, yaitu kunjungan Presiden China Hu Jintao ke Amerika Serikat, tepatnya pada tanggal 18–21 Januari 2011.

China di satu pihak menginginkan dikembangkannya common ground dan saling percaya di antara kedua negara, sedangkan Amerika Serikat mengharapkan akses lebih luas di bidang perdagangan yang dapat membantu negara adidaya tersebut dari keterperosokan ekonomi. Sikap hangat yang ditunjukkan tuan rumah pada akhirnya berhasil mencairkan kebekuan hubungan di antara China dan Amerika Serikat.

Dalam sebuah artikel yang berjudul The Dating Game, majalah Economist Desember 2010 lalu menceritakan berbagai tebakan yang dilakukan oleh berbagai pihak mengenai kapan tepatnya perekonomian China menjadi perekonomian terbesar di dunia.

Goldman Sachs misalnya pada 2003 sudah memperkirakan bahwa perekonomian China akan melampaui Amerika Serikat pada 2041. Prediksi ini termuat dalam studi Dreaming with the BRIC.

Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo, seorang pengamat Ekonomi, menyatakan bahwa prediksi ini kemudian direvisi oleh lembaga yang sama pada 2007 yang memperkirakan terjadinya pergerakan tektonik perekonomian terbesar tersebut terjadi pada 2007. Ini termuat dalam studi ”N-11: Not Just an Acronym”. Standard Chartered Bank dalam studinya November 2010 lalu memperkirakan, China akan melampaui Amerika Serikat pada 2020.

Bagaimana dengan majalah Economist? Majalah Economist mengatakan, untuk memperkirakan titik perubahan tersebut diperlukan bukan hanya perbandingan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perbedaan tingkat inflasi dan nilai tukar mata uang China, yuan, terhadap dolar AS.

Jadi saya melihat selama kedua negara ini masih menerapkan ideologi persaingan yang bias, bukan tidak mungkin China dan Amerika Serikat akan terus berkompromi untuk memainkan peranannya. Sekali lagi saya ingin tegaskan: tidak ada “persaingan” abadi dalam kapitalisme.

Dan Zionis disini pasti sudah mempersiapkan strategi cantik untuk menaklukan China. Layaknya tipu daya muslihat mereka memperdaya umat muslim. Dan seharusnya Umat muslim jangan ikut-ikutan untuk melihat perdagangan bebas sebagai dewa penolong kesejahteraan umat.

Kita akan mendukung pemerintahan di seluruh dunia dengan sejumlah besar ahli di bidang ekonomi. Itulah sebabnya ilmu pengetahuan Ekonomi merupakan ilmu utama yang diajarkan oleh orang Yahudi. Kita akan dibantu oleh bankir, industrialis, kaum yang bermodal, dan terutama para milyuner yang tak terhitung banyaknya. Karena segala sesuatu diatur dengan angka yang pasti. (Protokol of Zion 21)

Walahua’lam

Di Balik Konspirasi Terbaru

blog comments powered by Disqus