Eagle Eye

Rabu, 19/08/2009 20:25 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Pertanyaan

Assalamu 'alaikum WR. WB.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melindungi kita semua.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat film Eagle Eye.

Yang ingin saya tanyakan, mungkinkah AS atau Israel bisa membuat server komputer semacam itu? Bisa mengendalikan semua perangkat elektronik, mulai tulisan neon box di jalan, mengambil alih crane, menyadap HP meskipun sudah dimatikan, hingga mencuri data-data berupa email, dan yang ada di situs jejaring sosial milik seseorang?

Mohon pencerahannya.

Wassalam

Budi Bayu

Jawaban

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Saya sudah menyimak film itu beberapa kali, tentu saja tidak di bioskop jaringan Amerika, sama sekali tidak mengalirkan rupiah yang saya punya ke kantung Amerika, namun saya tetap bisa menikmati film tersebut dari produk yang asli, bukan bajakan.

Film tersebut diawali dengan pengintaian tiga buah kendaraan di mana kendaraan yang ditengah diduga sebagai komandan jaringan “teroris” di Afghanistan. Pengintaian dilakukan oleh sebuah pesawat tanpa awak atau istilahnya UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang dikendalikan oleh seorang tentara AS dikawal dua sniper dari atas bukit.

UAV ada tiga jenis, yang hanya membawa kamera pengintaian, yang membawa senjata seperti rudal, dan yang merupakan kombinasi dari keduanya. Teknologi militer memang mengenal UAV dan itu benar adanya. Malah BPPT kita tengah menguji coba UAV buatan sendiri untuk nantinya melengkapi alutsista kita.

Dalam tayangan berikutnya, markas komando AS berhasil men-detect musuh, bahkan memotretnya, lewat kamera ponsel si musuh sendiri yang aktif. Teknologi ini pun sudah ada, bahkan sekarang sudah termasuk lawas. Saya masih ingat di tahun 2000-an pernah mengikuti satu pertemuan dengan sejumlah komunitas “underground”. Sebelum pertemuan dimulai, semua ponsel harus dimatikan.

Bahkan bukan itu saja, simcard, battere, dan badan ponsel pun harus dilepaskan. Ini juga berlaku bagi notebook dan gadget sejenis. Lalu pesawat teve plasma layar lebar (mungkin lebih dari 80 inchi) dan juga perangkat home theater diaktifkan, termasuk kran air mancur dan air wudhu yang mengalir masuk ke kolam renang semua dihidupkan. Konon, semua itu dilakukan untuk mengacaukan gelombang elektromagnetik di sekitar jika ada pihak yang berusaha menyadap pertemuan tersebut.

Namun untuk teknologi yang bisa mengambil-alih crane, mengatur neon box di jalan, lampu merah, dan sebagainya, seperti yang ada dalam film Eagle-Eye itu, semua itu sepertinya untuk saat ini belum ada teknologi yang mampu melakukannya dari satu sentral server. Walau semua itu memang memakai komputer. Wallahu’alam.

Tentang situs jejaring sosial, saya sudah mengupasnya dalam rubrik yang sama. Internet diciptakan oleh militer AS. Server pusat internet juga ada pada mereka. Jadi jika kita menulis apa pun, termasuk menulis jawaban konsultasi ini, maka mereka pun bisa membacanya. Di internet, kita ini “telanjang” di mata mereka.

Sebab itu, orang-orang perlawanan yang serius berjuang, biasanya semaksimal mungkin berusaha untuk menghindari penggunaan alat-alat elektronik. Mereka senantiasa menghindari jalan terbuka di mana langit ada di atas mereka, sebab jauh di atas langit itu ada banyak mata-mata Amerika lewat pencitraan satelit mereka yang tersebar mengepung bumi. Kalau pun terpaksa untuk ke jalan atau ke ruang terbuka, maka mereka selalu memakai tutup kepala, apakah itu topi bisball, topi koboi, kacamata hitam, atau pun topi (alm) Mbah Surip, bahkan jika perlu memakai wig atau rambut palsu. Pokoknya segala hal yang bisa mempersulit identifikasi.

Saya percaya Pak Cik Noordin “Memang” Top pun melakukan ini, bahkan jika perlu memakai cadar dan berlagak seolah-olah perempuan. Semua hal sangat mungkin dilakukan sebagai penyamaran.

Salah seorang mujahid HAMAS yang telah syahid, insinyur Yahya Ayyash-pun semasa hidup seringkali memakai kippa, topi orang Yahudi dan bergaya seperti seorang Yahudi saat menyusup ke tengah-tengah perkampungan Yahudi. Saya yakin asy-syahid pun bisa berbahasa ibrani dengan fasih.

By The Way, teknologi film-film Hollywood tidak semuanya benar. Saya yakin jika kedigjayaan teknologi yang diperlihatkan oleh Hollywood itu sengaja dipaparkan untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya. Rambo saja seorang diri bisa menghancurkan satu batalyon pasukan elit Soviet. Padahal dalam kenyataannya, tentara AS tidaklah setangguh dan seberani seperti yang diperlihatkan dalam film. Wallahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Di Balik Konspirasi

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang