Apa Perbedaan Karma, Zhalim Dan Kafir

Rizki – Selasa, 1 Zulqa'dah 1430 H / 20 Oktober 2009 10:07 WIB

Assalamualikum,

Pak ustadz sedikit pertanyaan

1.saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan di luar negeri, dengan perilaku atasan/pemilik perusahaan yang slalu menzhalimi saya, dgn kata-kata kasar maupun perilaku, namun disisi lain saya berfikir semasa di indonesia dulu kadang suka membantah thdp orang tua, apakah ini karma?

2. apa definisi/pengertian orang-orang zhalim dan kafir

3. bagaimana kita menyikapi perilaku orang diatas, sehingga kita dapat terlepas dari belenggu org yg menzhalimi.

wassalam

Saudaraku yang dimuliakan Allah SWT, pengertian karma yang biasa digunakan dalam masyarakat adalah kebaikan akan berbuah kebaikan, keburukan akan dibalas keburukan. Dengan perilaku atasan atau pemilik perusahaan yang selalu menzhalimi, dengan kata-kata kasar maupun perilaku, namun disisi lain berfikir semasa di indonesia dulu kadang suka membantah terhadap orang tua. Hal ini bila dikaitkan dengan perilaku yang membantah orang tua mungkin bisa di anggap karma. Tapi dilihat lebih dalam lagi, orang tua baik ayah maupun ibu pasti tidak akan mendoakan yang buruk untuk anaknya. Mereka akan selalu mendoakan yang terbaik buat anaknya.
Dalam islam kita diperintahkan untuk selalu berbakti kepada orang tua. Seperti yang dijelaskan di dalam Al Qur’an berikut ini:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (Al Isro’: 23).

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (An Nisa: 36)

Oleh karena itu dalam menanggapi perlakuan zhalim dari atasan merupakan akibat dari pribadi seorang atasan bukan karena karma. Tetapi kedepan kita harus menyayangi orang tua, kita tidak boleh membantah dan selalu berusaha menyenangkan orang tua kita selama masih ada kesempatan untuk berbakti.

Sedang zalim adalah lawan dari ‘adil. Zhalim artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Lawannya ‘adil, yang artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang pantas.
Selain dari pada itu zhalim terhadap makhluk lain, terutama terhadap manusia berarti merendahkan derajat manusia yang dizhalimi. Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah tidak boleh direndahkan. Bertindak zhalim sama dengan mendekatkan diri dengan kekufuran, karena denqan tindakan itu pen-zhalim telah menandingi hak Allah sebagai Satu-satunya Yang Berhak bertindak menurut iradah-Nya tanpa perlu menenggang yang lain. Dengan perkataan lain, zhalim pada dasarnya akan mendekatkan diri seseorang kepada syirik.
Ada sebuah hadist yang menerangkan tentang perbuatan zhalim, seperti dijelaskan sebagai berikut:
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah ia menzhaliminya dan membiarkannya. Barangsiapa membantu menutupi kebutuhan saudara seislam, maka Allah akan membantu menutupi kebutuhannya. Barangsiapa membebaskan seoarang muslim dari suatu kesulitan niscaya Allah akan membebaskan seorang musilm dari suatu kesulitan niscaya Allah akan membebaskannya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat," (HR Bukhari [2442] dan Muslim [2580]).
Oleh karena itu menzhalimi sesama saudara muslim dan manusia hukumnya haram. Kita harus selalu berusaha untuk berbuat adil dan semestinya supaya kita mendapat ridho dari Allah SWT.
Untuk pengertian kafir, Allah berfirman :
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali Imran: 19).
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85).
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagi kalian." (Al-Maidah: 3).
Dari penjelasan di atas, agama yang benar dan di ridhoi Allah adalah islam.
Kafir bermakna orang yang ingkar,yang tidak beriman (tidak percaya) atau tidak beragama Islam. Dengan kata lain orang kafir adalah orang yang tidak mahu memperhatikan serta menolak terhadap segala hukum Allah atau hukum Islam disampaikan melalui para Rasul (Muhammad SAW) atau para penyampai dakwah/risalah.
Orang kafir tidak mau menerima peringatan Allah melalui Kitab-kitabNya. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan
atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. 2:6)

Orang kafir tidak percaya terhadap Allah. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian
kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. (QS. 2:28)

Tidak mau tunduk kepada perintah Allah. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:"Sujudlah kamu
kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan
adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. 2:34)
Lalu mengenai cara melepaskan dari belenggu orang yang menzhalimi, maka kita harus tetap mengerjakan pekerjaan kita dengan sebaik mungkin. Kita tetap harus berfokus pada kewajiban kita untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggungan kita didalam pekerjaan. Bila dengan hasil pekerjaan kita yang baik tetapi masih mendapat perlakuan semena-mena dari pihak atasan, kita dapat menyampaikanya secara baik dan sopan kepada atasan atas apa yang dirasa sebagai perlakuan semen-mena itu. Apabila tidak ada respon dari apa yang kita sampaikan, kita dapat mengambil pilihan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Mencoba untuk mencari kesempatan kerja di perusahaan lain yang masih banyak tersedia dan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang membuat kita merasa nyaman dan mendapat perlakuan adil.
Salam Berkah !

(Satria Hadi Lubis)

Mentor Kehidupan

Konsultasi Motivasi Terbaru

blog comments powered by Disqus