Emosi

Ade Sulaeman – Senin, 11 Rabiul Akhir 1430 H / 6 April 2009 15:05 WIB

Assalamu’alaikum War. Wab.

1. Bagaimana cara mengatur emosi. Terkadang tidak terkendali.?

2. Bagaimana cara membentengi hati supaya tidak cepat marah?

Wa’alaikum salam wr. wb.
Saudaraku Ade Sulaiman yang dimuliakan Allah SWT, memang sulit-sulit gampang untuk mengatur emosi dan menahan kemarahan. Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Wujud dari kekecewaan dan cara untuk mempertahankan harga diri. Oleh sebab itu, Islam sebagai agama yang manusiawi tidak mengharamkan kita untuk marah. Islam meminta kita agar menyalurkan kemarahan secara proporsional (pada waktu dan tempat yang tepat). Rasulullah saw sendiri sebagai teladan kita juga pernah marah. Namun kemarahan beliau dibimbing oleh iman, sehingga beliau selalu proporsional dalam marah. Misalnya, beliau marah kepada Washy (seorang mantan budak) yang telah membunuh pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau juga marah ketika mengetahui ada seorang sahabat yang mendapatkan gratifikasi ketika memungut pajak.
Jadi bukan berarti kita tidak boleh marah. Silakan marah, asalkan proporsional dan dibimbing oleh iman, bukan oleh hawa nafsu. Sebagian ulama mengatakan beberapa kategori yang membolehkan kita marah, yaitu :
– Ketika agama dan simbol-simbol agama dihina atau dilecehkan
– Ketika membela diri karena fitnah
– Ketika harga diri dan kehormatan keluarga diinjak-injak
– Ketika mempertahankan harta benda dari perampokan/pencurian
– Ketika kebenaran diputarbalikkan menjadi kesalahan/kedustaan
Ada pun kemarahan yang tidak berdasar dan di luar kategori di atas, maka sebaiknya kita perlu mengendalikannya dengan cara :
1. Menurut sebuah hadist Nabi, jika kita marah dalam keadaan berdiri, maka untuk meredam kemarahan sebaiknya kita duduk. Kalau marah dalam keadaan duduk, maka untuk meredam kemarahan sebaiknya kita berbaring. Jika tetap marah dalam keadaan berbaring, maka sebaiknya kita segera berwudhu (lalu sholat sunnah).
2. Jangan langsung merespon kemarahan. Buat jeda sebentar untuk berpikir apakah kita layak marah atau tidak. Jika masalahnya sepele, sebaiknya tidak perlu kita marah. Jeda tersebut juga berguna untuk membuat strategi marah kita. Misalnya, sejauh mana tingkat intensitas marah kita, argumentasi atau kata-kata yang akan dipilih, kapan waktu berhenti marah, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat marah kita tertata dengan rapi dan tidak hanya sekedar mengumbar emosi.
3. Latih kesabaran dengan memperbanyak syukur dan merenung (muhasabah) tentang banyaknya nikmat Allah kepada kita. Orang yang pemarah seringkali menunjukkan kepribadian yang kurang bersyukur.
4. Lembutkan hati dengan banyak beribadah. Ibadah akan membuat hati lembut dan sabar, sehingga intensitas kemarahan juga akan menurun.
5. Bergaullah dengan orang-orang yang hatinya lembut dan tidak pemarah sebagai tandingan dari lingkungan keras dan pemarah di sekeliling kita. Hal ini akan membuat kebiasaan suka marah kita akan berkurang.
Demikian jawaban saya, semoga kita semua dapat mengendalikan kemarahan. Sebab kemarahan yang tak terkontrol cenderung membuat diri kita stres dan hanya menambah dosa. “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. 42 : 37).
Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

Konsultasi Motivasi Terbaru

blog comments powered by Disqus