Kapur Barus, Berkah yang Hilang dari Nusantara (Bag. II)

Redaksi – Kamis, 4 Rabiul Akhir 1434 H / 14 Februari 2013 20:29 WIB

Kenyataannya kafur telah banyak dikenal berbagai manfaatnya oleh ulama kedokteran Islam di era keemasan Islam. Dalam Thibbun Nabawi, Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwasannya kafur dipergunakan untuk memandikan mayat, seperti yang tertera dalam hadits (riwayat Imam Bukhari).

Dinyatakan juga sifat kafur adalah dingin dan kering pada tingkatan ketiga, dapat menghentikan darah mimisan, menguatkan panca indera, menghentikan libido dan menciumnya dapat membuat terjaga, serta apabila diminum dapat menghentikan diare.

Tak beda jauh dengan Imam Adz-Dzahabi, dalam pembasan mengenai wewangian, Abu Abdillah Al Maqdisi membahas sifat serupa dan dengan tambahan kafur dapat mengatasi sakit kepala yang panas dan sakit mata yang panas. 1/6 dinar (4,25 gram) kafur berguna untuk mengatasi pembengkakan yang panas. 1 dirham (2,975 gram) kafur apabila diracik bersama cuka apel bisa melenyapkan bahaya kalajengking.

Disebutkan juga oleh Al Maqdisi bahwasannya kafur apabila dipergunakan untuk memandikan jenazah bisa membuat jenazah menjadi harum, keras dan dingin sehingga tidak cepat rusak.

Kapur barus memang telah lama dipergunakan untuk mengawetkan mayat, salah satunya ditemui bahwa mumi di zaman Firaun Ramses II juga menggunakan kapur dari daerah tersebut untuk proses pengawetannya.

Kapur barus yang produksinya terbatas telah menembus perdagangan dunia di masa silam. Oleh karenanya harga kafur barus menjadi mahal, walau pulau Borneo ketika itu juga menjadi penghasil kapur.

Harian Kompas memberitakan bahwasannya hingga era kolonial, kapur barus masih menjadi komoditas menarik. Seperti disebut William Marsden, pegawai pemerintah kolonial Inggris di Bengkulu, dalam bukunya, History of Sumatera (1783), kapur barus memiliki peran penting dalam perdagangan di Sumatera.

Menurut catatan Marsden, harga kapur barus saat itu sekitar 6 dollar Spanyol per pon (0,5 kg). Harga ini sama dengan harga emas di Sumatera saat itu. Di pasaran China, harga kapur barus lebih mahal, 9-12 dollar Spanyol per pon.

Marsden menyebutkan, perdagangan kapur barus saat itu dimonopoli orang-orang Aceh yang bermukim di Singkel (Singkil). “Mereka (orang Aceh) menjual kepada orang Batak, selanjutnya dibeli orang China dan Eropa,” tulis Marsden.

Pesona kota Barus mulai meredup ketika terjadi peralihan kekuasaan antara kerajaan Sriwijaya, Samudera Pasai hingga kerajaan Aceh di kemudian hari yang bekonsekuensi terjadinya peralihan pelabuhan pusat perdangangan Internasional. Selain itu akibat mahalnya harga kapur, pada tahun 1700-an orang-otang China dan Jepang mulai membuat tiruannya.

Kapur tiruan dari China diketahui berasal dari pohon Cinnamomum camphora, sementara yang dari Jepang berasal dari pohon Laurus camphora. Selain itu sejak awal tahun 1930-an, dibuat lagi tiruan kapur dari penyulingan zat organik yang dihasilkan pohon cemara lalu menghasilkan senyawa alfa-pinene.

Harga kapur barus benar-benar jatuh hingga tak bernilai lagi setelah ditemukan kamper sintetis berbahan dasar dari pohon-pohon lain tersebut yang harganya relatif murah dan mudah didapat.

Walaupun manfaat dan kualitasnya tak sebanding dengan kafur barus, kamper yang diperdagangkan saat ini masih tidak lagi tergantikan dengan kafur barus. Mengapa hal ini terjadi?

Kenyataannya pohon kapur telah menjadi barang langka, walau di tempat asalnya, yakni kecamatan Barus. Pohon kapur semakin sulit ditemukan di habitatnya, bahkan IUCN Redlist memasukkannya dalam status konservasi Critically Endangered atau Kritis. Status ini merupakan status keterancaman dengan tingkatan paling tinggi sebelum status punah.

Kelangkaan dan terancam punahnya jenis tanaman kapur diakibatkan oleh menebangan yang membabi buta untuk mendapatkan kristal kapur barus di dalamnya. Padahal tidak semua pohon kapur memiliki kandungan kapur yang berlimpah.

Selain itu penebangan pohon kapur untuk digunakan sebagai kayu untuk bangunan berkualis baik, kebakaran hutan dan kerusakan hutan lainnya semakin membuat pohon jenis ini menjadi langka di habitatnya.

Itulah sepenggal kisah kapur dan tanah Barus yang dulu tenar namun kini menjadi daerah tenang dan sunyi dari hingar-bingar modernitas peradaban. Allah telah memberikan berkah atas Nusantara ini, namun manusia sebagai khalifah lah yang menentukan kelestarian dan kemanfaatan alam ini.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Ruum:41). (Berbagai Sumber)

 

Oleh : Joko Rinanto

Thibbun Nabawi Terbaru

blog comments powered by Disqus