Mengundi

Fatahillah – Rabu, 19 Jumadil Akhir 1428 H / 4 Juli 2007 07:36 WIB

Assalamualaikum wr, wb.

Ustadz, bagaimanakah hukumnya melakukan undian untuk menentukan sesuatu? Misal: Melempar uang koin untuk menentukan siapakah yang berhak untuk menempati kamar tertentu.

Apakah kalau kita melakukannya kita tergolong ke dalam perbuatan yang mengandung kefasikan seperti yang tertera dalam surat Al-Maidah. 3.

Terima kasih atas kesediaan Ustadz untuk menjawab pertanyaan saya.

Wassalamualaikum wr, wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,



Kata Al-azlam di dalam terjemahan Al-Quran versi Departemen Agama RI memang diartikan dengan mengundi nasib. Lalu sebagian orang ada yang bertanya seperti apa yang anda tanyakan, bagaiamana hukum undian? Apakah haram dan pelakunya menjadi fasik?

Mari kita cermati ayat 3 surat Al-Maidah yang menjadi titik pertanyaan anda:

وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ

Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. (QS. Al-Maidah: 3)

Al-Azlam diterjemahkan sebagai mengundi nasib dengan anak panah. Sebenarnya yang diharamkan bukan undiannya, melainkan meramal nasib lewat prosesi anak panah yang digamblingkan.

Masyarakat jahilyah sebelum Islam adalah pelaku khurafat dan percaya kepada tahayyul. Setiap ingin melakukan sesuatu yang besar, mereka punya kebiasaan mendatangi dukun dan paranormal untuk bertanya tentang nasib dan peruntungan mereka. Lalu dukun itu akan mengocokbeberapa anak panah dan pasiennya dipersilahkan untuk memilihnya. Hasil ramalan dukun itu ditentukan dari anak panah yang keluar.

Titik keharamannya bukan pada kocokan anak panahnya, melainkan pada kepercayaan atas ramalan nasib dari dukun.

Ada pun undian yang tidak ada kaitannya dengan kepercayaan dan ramalan, tentu hukumnya tidak mengapa. Bahkan Rasulullah SAW pun biasa melakukan undian, khususnya bila ada satu kesempatan berbuat baik yang terbatas namun diperebutkan oleh banyak orang.

Para isteri nabi yang mau ikut peperangan mendampingi beliau SAW, harus ikut undian terlebih dahulu. Yang namanya keluar, dia berhak ikut.

Di masa lalu sebelum era risalah Muhamadiyah, orang-orang saling mengundi untuk menentukan siapa yang berhak untuk menjadi pengasuh Maryam, ibunda nabi Isa ‘alaihissalam. Kejadian itu direkam di dalam ayat Al-Quran:

وما كُنْتَ لَدَيْهِمْ إذْ يُلْقُونَ أقْلامَهُمْ أيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ

Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44)

Ayat ini menggambarkan bahwa mengundi bukan sesuatu yang diharamkan. Bahkan pada syariat umat terdahulu.

Yang diharamkan adalah mempercayai ramalan dukun, yang kebetulan di masa jahiliyah itu para dukun mengeluarkan ramalan lewat mengocok anak panah.

Wallahu a’lam bishsahwab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Fiqh Kontemporer Terbaru

blog comments powered by Disqus