Pemimpin Akhir Zaman

Al Furqan – Senin, 30 Rabiul Awwal 1431 H / 15 Maret 2010 07:43 WIB

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ لَمْ يَبْرَأْ

Akan ada penguasa yang kamu ketahui namun kalian mengingkarinya. Maka barang siapa yang tidak menyukainya dia telah berlepas diri dan barang siapa yang mengingkarinya dia selamat dan barang siapa yang ridha dan mengikutinya maka dia tidak bisa berlepas diri (HR. Muslim dan Abu Daud).

Akhir zaman adalah zaman kelabu dan abu-abu. Banyak orang bersikap dalam kesehariannya juga demikian abu-abu. Tidak lagi jelas sikapnya karena langkah-langkah yang diambil adalah langkah-langkah aman tanpa resiko. Kita kehilangan heroisme dan kejuangan. Sekali lagi heroisme dan kejuangan. Tatkala setiap kita secara kolektif mengambil jalan aman maka tidak akan muncul sosok yang mampu membendung gerakan-gerakan kemungkaran karena apa yang dilakukan oleh kebanyakan manusia sudah dianggap sebagai kebenaran.

Seorang penguasa misalnya yang secara benderang melakukan kesalahan sering kali kita tak mampu untuk memberikan nasehat, kritik, teguran atau peringatan. Kita terbelenggu atau mungkin lebih tepatnya membelenggu diri dengan ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan sendiri.

Sabda Nabi di atas menggambarkan bahwa wilayah kekuasaan adalah wilayah rumit yang jika tidak hati-hati kita akan terseret dan terlilit oleh kerumitan yang sulit diurai. Ada diantara kita yang tahu kemungkaran itu namun kita tak berani bahkan untuk sekedar tidak suka dan benci pada kemungkaran itu agar kita bisa bebas dari dosa kemungkarannya.

Di akhir zaman para pemberani itu menjadi minoritas tidak seperti di zaman sahabat Rasulullah dimana keberanian dan heroisme menjadi sebuah tindakan massif dan gampang disaksikan dalam tindakan dan wacana. Para sahabat adalah generasi paling berani, kritis bahkan terhadap Nabi sekalipun jika apa yang dikatakan Rasulullah merupakan pendapat pribadi yang bisa dipertanyakan atau diberi usulan baru.

Dan Nabipun sering menerima selama hal itu adalah menjadi maslahat. Kasus perang Badar, Uhud dan Khandaq menjadi saksi bagaimana sistem musyawarah dan ruang kritis diberi ruang demikian luas. Demikian pula di zaman Umar. Di zaman Umar gerakan egalitarian (musawat) demikian terasa denyutnya.

Zaman kita adalah zaman remang-remang dimana kebenaran jelas namun tak berani diungkap. Beragam kepentingan berseliweran dalam benak kita sehingga kita sehingga kemandulan ruhani menjadi menu pahit tapi dinikmati dengan terpaksa. Makanya Rasulullah menegaskan barang siapa yang mengingkari kemungkaran yang dilakukan peminpinnya maka dia akan selamat dari siksa Allah di akhirat nanti, dan barang siapa yang menyatakan rasa ketidak sukaannya atau menahan geram ketidak sukaan dalam hatinya maka dia akan terlepas dari dosa-dosa peminpinnya. Sedangkan yang membebek, mengekor membela mati-matian walaupun sudah jelas salah telanjang, maka dia tidak akan lepas dari kesalahan peminpinnya dan dia tidak akan selamat.

Rasulullah pernah bersabda bahwa pathologi social-religius akan muncul di akhir zaman nanti. Dimana keterlambatan shalat para peminpin dianggap wajar bahkan dibenarkan dengan beragam alasan. Karena kesibukan, karena waktu yang padat karena acara tak bisa ditunda dan seterusnya. Rasulullah bersabda dalam hal ini :

كيْفَ بِكُمْ إِذَا أَتَتْ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُصَلُّونَ الصَّلاَةَ لِغَيْرِ مِيقَاتِهَا؟ صَلِّ الصَّلاَةَ لِمِيقَاتِهَا وَاجْعَلْ صَلَاتَكَ مَعَهُمْ سُبْحَةً

Bagaimana sikap kalian jika datang pada kalian para penguasa yang mengakhirkan menunaikan salat bukan di awal waktu? Salatlah kalian tepat waktu dan jadikan salat kalian bersama dengan mereka itu sebagai tasbih (HR. Tirmidzi).

Inilah yang terjadi saat ini, saat para peminpin yang kita ikuti tidak lagi takut pada Sang Khalik, tidak lagi dekat pada Sang Mahaawas. Kita menjadi pengekor bahkan untuk salat tepat waktu saja kita merasa ketakutan dan tidak “enak” pada peminpin kita.

Aroma maksiat kepada Allah menjadi demikian menyengat tatkala hati kita tumpul melihat kemungkaran di depan mata. Kaidah emas yang Rasulullah ajarkan tidak menggedor hati hati untuk direalisasikan di alam nyata. Sabda Rasulullah hanya menjadi hiasan khutbah dan ceramah dan tidak merayap dalam kenyataan.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran,maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka hendaknya mengubahnya dengan lidahnya dan jika tidak mampu juga maka hendaknya dilakukan dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman (HR. Muslim dan Ahmad).

Ketumpulan dan penumpulan nurani ini akan melahirkan berhala-berhala semu bagi kita semua. Ada ketaatan ganda kepada Allah dan pada yang selain Allah namun kita sering kali mencari pembenaran walaupun hati kita merasa sangat tidak nyaman.

Akhir zaman adalah zaman dimana penyelewengan, menurut Rasulullah, menjadi suatu yang massif dilakukan. Manusia tidak lagi peka dan tidak mau peka dari mana mereka mendapatkan harta yang mereka makan, dan untuk apa mereka belanjakan. Apakah harta yang mereka dapatkan itu dari lorong yang halal atau dari jalan yang gulita dan haram ,tak lagi menjadi sebuah pertanyaan.

Ulama-ulama merapat pada umara dengan tujuan hanya memperoleh dinar dan dirham serta kepingan dollar. Daya kritis mandul, daya konstruktif terkubur.

Rasulullah bersabda :

مِنْ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ إِذَا كَثُرَ خُطَبَاءُ مَنَابِرِكُمْ وَرَكَنَ عُلَمَاؤُكُمْ إِلَى وُلاَتِكُمْ فَأَحَلُّوا لَهُمْ الحَرَامَ وَحَرَّمُوا عَلَيْهِمْ الحَلاَلَ فَأَفْتَوْهُمْ بِمَا يَشْتَهُوْنَ وَيُعَلِّمُ عُلَمَاؤُكُمْ لِتُحِلُّوا بِهِ دَنَانِيْرَكُمْ وَدَرَاهِمَكُمْ وَاتَّخَذْتُمْ القُرْآنَ تِجَارَةَ الحَدِيْثِ

Diantara tanda mendekatnya kiamat adalah berjubelnya para khatib di mimbar-mimbar dan banyaknya ulama yang menempel pada penguasa kalian. Lalu mereka menghalalkan yang haram demi penguasa itu dan mengharamkan yang halal demi mereka. Mereka memberi fatwa sesuai dengan syahwatnya. Ulama-ulama kalian mengajar agar mereka mendapatkan dinar dan dirham dan mereka jadikan al-Quran sebagai komoditas pembicaraan mereka (HR. Ad-Dailami).

Itulah kondisi riil kita saat ini. Harta-harta syubhat dianggap halal dengan beragam alasan, dengan beragam hujjah dan argumentasi yang dicari-cari.

Sungguh benarlah sabda Rasulullah :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ

Akan datang suata masa pada manusia dimana dia tidak lagi peduli daripada dia mendatakan harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram (HR. Bukhari).

Para peminpin yang benar pasti ada walaupun dia demikian langka. Selangka keberanian kita untuk menyatakan kebenaran.

المُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ اخْتِلاَفِ أُمَتِي كاَلقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Orang yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnahku saat terjadi perselisihan diantara ummatku laksana orang yang memegang bara api (HR. Hakim)

Semoga Allah mempercepat lahirnya peminpin yang bertanggung jawab untuk kemaslahatan agama dan kejayaan kaum muslimin di masa depan.

Nasihat Ulama Terbaru

blog comments powered by Disqus