Antara Dunia dan Akhirat

Muhammad Nuh – Senin, 16 Jumadil Awwal 1430 H / 11 Mei 2009 11:31 WIB

ما عصى الله كريم و ما اثر الدنيا على الآخرة حكيم

“Orang mulia tidak akan durhaka kepada Allah dan orang bijak tidak akan mengutamakan dunia daripada akhirat.” (Yahya bin Mu’adz*)

Pengutamaan dunia daripada akhirat dan prilaku maksiat adalah dua hal yang saling berhubungan. Kemuliaan dan kebijakan seseorang ditentukan sejauh mana dirinya mampu menghindari pengutamaan dunia atas akhirat dan prilaku kemaksiatan. Sebab, di dalam diri orang yang lebih mengutamakaan kehidupan dunia atas akhirat tumbuh kecenderungan yang kuat untuk merengkuh kenikmatan dunia dan mereguknya sepuas-puasnya tanpa mempedulikan akibat-akibatnya. Pemuasan kenikmatan dunia yang tidak terkendali hanya akan membiakkan kemaksiatan.

Tumbuhnya sikap lebih mengutamakan dunia atas akhirat dalam diri seseorang bermula dari kecintaannya kepada dunia yang tidak proporsional. “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS, al-Fajr [89]: 20).

Akibatnya, di dalam dirinya, terbentuk kecenderungan yang kuat untuk mementingkan urusan duniawi daripada urusan ukhrawi.

Kecenderungan itu kemudian menjadikan jiwanya lelah dikarenakan ia terus-menerus disibukkan oleh dunianya hingga berani meninggalkan kewajiban-kewajiban kemanusiaannya. Bahkan bisa jadi kecenderungannya itu mengkristal hingga membentuk orientasi hidupnya yang sarwa duniawi yang menyebabkan ia dilanda nestapa yang berkepanjangan.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang pada pagi harinya menjadikan dunia ini kepentingannya yang utama, maka Allah akan melazimkan dalam hatinya tiga macam: (1) kerisauan yang tak putus-putusnya untuk selamanya, (2) kesibukan yang tak ada istirahatnya untuk selamanya, dan (3) rasa kefakiran yang tak ada ujungnya untuk selamanya.”(HR, Abu Laits).

Refleksi orientasi duniawi seseorang dapat diamati pada keinginannya yang berkobar-kobar untuk dapat mereguk kenikmatan dunia sepuas-puasnya. Padahal, menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, seperti diungkap kembali dalam kitab Mawa’izh al-Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani, “minuman dan biusan dunia telah memabukkan dan memotong tangan dan kaki orang yang menggandrunginya. Ketika biusnya hilang, barulah ia sadar dan dapat melihat apa yang telah dilakukannya kepada dirinya.”

Demi mereguk kenikmatan dunia sepuas-puasnya manusia menggali dan mengembangkan ilmu pengtetahuan. Penggalain dan pengembangan ilmu pengtetahuan yang dilakukannya antara lain melahirkan teknologi yang dapat dijadikan alat dan sarana untuk merealisasikan kepuasannya dan memudahkan urusan hidupnya.

Seiring dengan kemudahan yang diraihnya, manusia semakin mudah pula melakukan eksploitasi kekayaaan alam hingga dirinya menjadi kaya dalam arti materi dan seolah-olah berkuasa atas dunia akan tetapi sejatinya miskin dan tidak berdaya secara nilai. Secara praktis bahkan ia dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-tekno-ekonomis dan dicengkeram oleh komputerisasi yang diciptakannya sendiri. Dalam banyak kasus hal itu telah meneggelamkan kemuliaan kemanusiaan serta memusnahkan kebajikan dan kebijakannya.

Memang, penggalian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekonologi yang tidak etis akan memuaskan nafsu manusia dalam satu sisi namun di sisi lain menenggelamkan kehidupan dalam lumpur kemaksiatan. Pada kenyataannya, teknologi yang tidak dikendalikan secara etis akan melahirkan kerusakan total terhadap alam dan lingkungan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS, Rum [30]: 41). Selain itu, dan ini yang lebih parah, dapat menghilangkan hakikat manusia itu sendiri, yaitu fithrahnya yang hanif.

Ketika seseorang telah kehilangan martabat dan kemuliaannya, maka kecenderungan melakukan maksiat dan berbuat dosa semakin tidak akan dapat dibendung. Bahkan kemaksiatan akan menjadi arus utamanya yang menyebabkan dirinya, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi ketidakberdayaan dan kemerosotan kemanusiaan. Akibatnya eksistensinya tidak autentik lagi disebabkan telah kehilangan kemuliaan dan kebijakannya. Sayyidina Ali Ra berkata, "Barangsiapa yang menyembah dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat akibat yang buruk".

Untuk mengatasinya setiap diri harus membuka diri bagi suara hatinya yang paling dalam. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelalainnya terhadap dirinya sehingga ia kembali menjadi manusia yang sejatinya.

Allah Swt mengingatkan, "Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi" (QS, al-Najm [53]: 29).

Iman Syafi’i dalam syairnya mengetuk pintu hati manusia agar kembali menyadari hakikat dunia, tempat kita bergumul sementara, “Wahai orang yang gandrung dunia, ingatlah dunia ini tidak kekal. Sore dan pagi dating silih berganti.” Wallahu A’lam.

* Yahya bin Mu’azd, Abu Zakariya (meninggal 258 H) adalah seorang penceramah yang dikenal sangat zuhud yang tidak ada tandingannya di zamannya. Ia penduduk al-Rayy meskipun kemudian ia menetap di Balukh dan meninggal di Naisabur. Banyak kata-kata hikmah yang disusunnya yang berisi penekanan-penekanan tentang pentingnya kezuhu dan dan kewara’an. Selain itu kata-kata hikmah yang disusunnya begitu tajam dan menyentuh hati. Misalnya,

من خان الله فى السر، هـتك الله ستره فى  العلانية

"Barangsiapa yang mengkhianati Allah dalam keadaan tersembunyi, maka Allah akan membukakan tabir pengkhianatannya dalam keadaan terang-terangan."

Nasihat Ulama Terbaru

blog comments powered by Disqus