5 Cara Sadar Ketuhanan di Era Digital

Redaksi – Senin, 7 Jumadil Awwal 1434 H / 18 Maret 2013 08:32 WIB

Oleh: Syaripudin Zuhri

Dunia kata orang mau kiamat, walau ramalam kiamat tanggal 21 Desember 2012 tahun lalu,  jauh panggang dari api.  Lagian mengapa  percaya  ramalan, apalagi ramalan manusia, jangankan di jaman kuno yang jauh dari kebenaran , di jaman modernpun manusia dilarang dengan apapun yang namanya ramalan, terutama ramalan tentang nasib.

Tentang kiamat hanya Allah SWT yang mengetahuinya, jangankan manusia biasa, rosulullahpun tak mengetahui kapan kiamat itu akan terjadi, Beliau hanya diberitahu tentang tanda-tanda datangnya kiamat, tapi mengenai kapannya Rosullah tak mengatahui, juga malaikat tak mengetahui kapan datangnya kiamat. Kiamat benar-benar hanya rahasia Allah SWT, nah kita sebagaimana manusia hanya berikhtiar untuk menghadapinya.

Kalau kiamat kubro atau kiamat besar kita tak mengalaminya, tapi yakinlah kiamat sugro atau kiamat kecil akan kita jumpai, suka atau tak suka, kiamat kecil yaitu kematian kita, akan datang, itu hanya soal waktu saja, ada yang cepat ada yang lambat, dalam arti ada yang pendek umurnya, ada juga yang dipanjangkan umurnya.

Nah untuk menghadapi kiamat kecil itulah, mari kita membersihkan diri kita masing-masing, mari kita siapkan diri kita menghadapi kematian dengan mebersihkan hati kita dari berbagai macam dosa dan kemasiatan diri, dosa yang diketahui manusia atau tidak, namun yang jelas dosa manusia tak pernah lepas dari pengamatan Allah SWT. Nah untuk itu mari kita bahas satu demi satu cara membersihkan hati kita, agar kita selamat bukan hanya di dunia, juga di akherat, selamat di dunia nyata maupun di dunia maya.

Pertama, Istigfar, ini kunci utama pembuka hati, bila sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari  istigfar ini akan terucap spontan, bukan hanya ketika melakukan sesuatu yang ternyata dosa tanpa disadari. Istigfar, mohon ampun kepada Allah SWT, kapan saja, di mana  saja, saat pengucapkan tak ditentukan dan jumlahnyapun bebas.

Bayangkan saja Rosulullah yang mulia saja menucapkan istigfar dalam sehari tak kurang dari 70 kali dalam suatu riwayat, ada juga yang mengatkana 100 kali dalam riwayat yang lain. Nah kalau manusia paripurna ini saja begitu banyak beristigfar, apa lagi kita manusia biasa, manusia yang seringkali melakukan dosa, baik sengaja maupun tidak sengaja, baik ketika di dunia nyata maupun di dunia maya, yang memang godaan tak henti-hentinya, maka wajarlah kalau kita seharusnya lebih banyak istigfar, mohon ampun padaNya sebanyak-banyaknya.

Kedua, membaca Sholawat Nabi, ini sebenarnya ucapan sebagai tanda penghormatan dan memuliakan nabi kita, nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat-sahabat. Ucapan ini mengingkatkan kita akan sejarah perjuangan nabi yang begitu berat, penuh tantangan dan rintangan, yang tak kurang dari 23 tahun sejak Beliau diangkat menjadi rosul, pada usia 40 tahun.

Dengan mengucapkan selawat, kita sebagai penerus perjuangan Beliau, sekecil apapun potensi yang kita miliki, akan terus berusaha, berikhtiar dan berjuang dengan tak mengenal lelah.  Perkara mendapat hinaan, caci maki, hujatan dan sebagainya, itu sesuatu hal yang biasa, karena tak ada pembawa kebenaran yang lepas dari semua itu. Justru saat mendapat hinaan dan lain sebaaginya itulah akan dapat dilihat, apakah akan tetap tabah, sabar dan ikhlas dalam berjuang, sebagaimana dicontohkan oleh rosulullah SAW.

Dengan membaca selawat nabi, akan teringat pesan-pesan nabi, dan yang paling sederhana adalah ungkapan dari hadist Beliau:” sampaikan dariku, walaupun hanya satu ayat”. Ini kalimat singkat, tapi mempunyai pengertian yang sangat luas dan mendalam, tak cukup dijabarkan dalam satu dua lembar halaman.  Namun yang jelas, apapun potensi kita sabagai pengikut Beliau, jangan segan-segan menyampaikan sesuatu, walau hanya seayat, jangan malas berbagi, walau hanya satu kalimat, jangan segan untuk terus menulis walau mungkin hanya satu baris, begitu seterusnya.

Ketiga, Dua Kalimat Syahadat, ini yang pesankan oleh Nabi kepada ummatnya, banyak-banyaklah mengucapkan dua kalimat syahadat ini, baik syahadat tauhid maupun syahadat rosul, “perbaharuan imanmu dengan kalimat tahlil”.  Pesan yang lagi-lagi sederhana, mengapa memperbaharui keimanan dengan kalimat tahlil? Karena kalimat tahlil itu adalah benteng yang membedakan keimanan kekafiran.

Orang bisa saja berkata atau  bicara tentang Tuhan, tapi coba tantang orang di luar Islam, kalau memang mengatakan agama itu sama, Tuhan yang disembahnya sama, coba perintahkan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat” Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan, kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah” ,yakin mereka tidak mau, kecuali yang mendapat hidayah dan kemudian masuk Islam.

Jadi sering-sering membaca dua kalimat syahadat, atau singkatnya membaca tahlil, itu akan membaharui keimanan kita, akan membersihkan hati, yang memang sebagai manusia biasa, keimanan ini sering naik turun, kadang naik, kadang turun. Naik kalau lagi ada di pengajian, mendengar ceramah, khutbah dan lain sebagainya, tapi turun ketika kembali ke masyarakat, atau di kantor di jalan, ketika berselancar di dunia maya, yang karena begitu asiknya sampai lupa waktu sholat, dan lain sebagainya.

Keempat,  membaca Al Qur’an, kitab suci ini memang harus dibaca, bukan hanya di pajang di lemari yang indah sampai berdebu. Mungkin saja ada yang sejak membelinya di baca pada awalnya, karena masih baru, setelah itu di tutup dan dibuka lagi pada saat bulan ramadhan.  Godaan untuk membaca Qur’an memang tidak kecil, apa lagi dunia modern ini sekarang manusia telah dibanjiri begitu banyak bacaan via internet.

Kalau dulu membaca Qur’an dihadapkan dengan Koran, dalam arti orang lebih banyak membaca koran ketimbang Qur’an.  Nah sekarang itu Qur’an dihadapkan pada internet, lebih khusus pada media social FB atau Twitter. Jadi di era digital ini, orang lebih banyak membaca internet ketimbang membaca Qur’an, walaupun Qur’an juga ada dalam bentuk digital dan dalam bentuk online atau offline.

Dan dalam dunia maya atau dunia internet sekarng ini, orang Islam, memang harusnya pakai data, tapi bisa diketahui, dengan melihat timeline di FB, misalnya, orang lebih sering membuka FB atau Twitter ketimbang Qur’an, walaupun sama-sama ada di internet. Diakui atau tidak, silahkan anda buktikan, bahkan ada yang merasakan” sehari saja tak membuka internet atau atau tak membuka FB dan Twitter seperti ada sesuatu yang hilang, tapi coba tanyakan, apakah ada perasaan yang sama, sehari saja tak membaca Qur’an, adakah sesuatu yang hilang di sana?” Saya yakin jawaban biasa saja.

Kelima, Wiridan dan Zikir, ini kalau di pesantren suatu hal yang lazim, terutama setelah sholat magrib atau setelah sholat subuh. Wiridin dan Zikir harian ini benar-benar bisa membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati yang ada di dalamnya. Karena dengan banyak melakukan wirid atau zikir setiap hari, akan membuat kesadaran ketuhanan akan semakin tinggi, merasa selalu diawasi olehNya.

Orang mukmin yang sering melakukan wiridin dengan firman-firmanNya atau melakukan zikir dengan ucapan “Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, dan Lahaula wala kuwwata illabillahil adzim” akan dibersihkan hatinya dari segala macam penyakit hati. Karena zikir dari kalimat tersebut selain bernilai ibadah dan tentu saja berpahala, tapi juga semacam pengakuan diri kepadaNya, yang memang paling berhak dipuji, diibadahi, diakui kemahabesaranNya, Dialah Allah SWT.

Moskow, 17 Maret 2013.

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus