Apabila Makam Keramat Membela Diri

Abdul Mutaqin – Jumat, 16 April 2010 07:48 WIB

Ada kuburan bisa “membela diri” di Tanjung Priok. Ribuan orang yang bernafsu akan menggusur makam keramat terkena tulah. Korban berjatuhan. Luka-luka dan konon korban jiwa tak terelakkan.

Masyarakat dan pengagum sohibul makam tersinggung. Harga diri dan ketakziman pada tokoh yang wafat abad ke 18 itu menggerakkan mereka melakukan perlawanan.

Terlanjur, mereka terlanjur menganggap makam itu keramat, sehingga tidak boleh ada upaya paksa untuk menodai kekeramatannya.

Terlanjur, aparat Satpol PP terlanjur taat pada penguasa, sehingga resiko berhadap-hadapan dengan batu, kayu bahkan clurit dan pedang mereka hadapi. Banyak darah berceceran. Banyak kepala yang bocor dan kulit terluka robek dan lebam.

Banyak mobil dibakar. Yang pasti banyak amarah meluap-luap. Saling menerkam. Saling melempar. Saling memukul dan melukai. Melihat tayangan kerusuhan di televisi itu, terasa begidik. Salah satu pasalnya adalah; kuburan yang dikeramatkan dan putusan pengadilan.

Dari sisi iman, saya percaya bahwa orang rela mati demi keimanannya.

Saya percaya, masih banyak umat Islam yang begitu takzim pada seorang ulama meskipun ketakziman itu berpindah pada kuburannya. Mengingat jasanya yang besar dan kiprahnya bagi kelanggengan dakwah Islam.

Makamnya diziarahi dan do’a dikirimkan. Karena begitu takzimnya, bahkan do’a dan permintaan berbalik arah. Karena anggapan keramatnya, do’a dan permintaan dalam ziarah bukan lagi dipanjatkan untuk kesejahteraan penghuni kubur. Malah mereka yang datang, mereka yang hidup, mereka yang segar bugar, meminta “sesuatu” kepada orang mati. Dan seolah dalam kasus Priok, para pengagum itu bahkan rela mati demi kekeramatan kuburan. Terlanjur, mereka terlanjur menganggapnya keramat.

Bila dicermati, banyak keprihatinan yang menggelikan yang ditunjukkan sekelompok orang Islam di negara kita. Ulama yang masih hidup dan berkhidmat dalam satu lembaga yang memberikan nasehat dari berbagai kerusakan malah disebut (maaf) ”tolol”, ”goblok” hanya karena tidak sejalan dengan fahamnya yang liberal.

Dinasehati bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, lebih banyak mudharatnya, termasuk kategori tabdzir malah diplintir sebagai fatwa mubadzir dan fatwa pesanan pihak asing. Maka, fatwa ulama menjadi bahan tertawaan, ejekan dan dianggap angin lalu oleh sebab ulama memberi nasehat atas perilaku seronok dan porno seperti dalam kasus tayangan televisi atau film.

Tapi kasus makam keramat Mbah Priok, adalah kebalikannya. Tanpa arwah beliau berfatwa apa-apa pun, orang rela berkelahi untuk menjaga muru’ahnya. Terlanjur, mereka terlanjur menganggapnya keramat. Mengapa? Karena mereka menggangapnya kuburan keramat seperti iman atau aqidah.

Pernah satu kali saya diajak tanpa sengaja ikut berkunjung ke makam Mbah Priok. Hanya saja, saya tidak berkenan masuk sebagaimana lazimnya para peziarah. Bukan karena ”anti” ziarah. Bukan.

Tapi karena ada peraturan nomor lima yang harus dipatuhi oleh para peziarah yang terpampang di muka gerbang makam ulama kelahiran Palembang itu. Peraturan nomor lima itu, saya duga akan menodai keyakinan saya apabila saya patuhi. Peraturan nomor lima itu ”mengahantui” iman saya, sebab berbunyi :

”Dilarang mendo’akan sohibul maqam kecuali meminta do’a kepada shohibul maqam. Di sini maqam wali Allah, jangan meminta do’a sembarangan …”

Kepada pengurus makam saya meminta penjelasan sekedar klarifikasi. Apa kira-kira maksudnya, jangan-jangan hanya persepsi saya yang keliru. Dengan cukup fasih, pengurus makam yang masih belia itu menjelaskan:

”Yaa …, kita jangan mendo’akan Mbah Priok. Kita yang harus minta do’a kepadanya”.

”Mengapa begitu?”, saya seolah penasaran.

”Beliau kan wali. Sudah jaminan surga. Tidak pantas dido’akan. Kita lah yang pantas meminta do’a kepadanya sebab kita belum jaminan masuk surga”.

”O, begitu ya. Terima kasih”.

Saya tidak berkenan masuk tetapi tetap melanggar peraturan nomor lima. Saya tetap berdo’a kepada Allah di luar gerbang makam memohonkan kebaikan untuk Mbah Priok semoga ajasa-jasanya menyebarkan Islam di Jakarta bagian utara menjadi catatan amal soleh yang mengantarkannya kelak ke Firdaus.

Saya tidak berkenan meminta apapun kepada arwahnya. Alhamdulillah, saya tidak merasa kualat sampai hari ini. Saya masih sehat dan masih bisa menulis meskipun butir terakhir dari peraturan itu ada berbunyi:

”Demikian. Berhati-hatilah mengenai nazar dan janji-janji kepada pengurus maqam dan patuhilah peraturan-peraturan yang tertera di papan ini (melanggar kualat)”.

Soal kuburan memang soal orang mati. Tetapi justeru banyak orang hidup tergelincir dan terpelanting terpuruk ke dalam kubangan syirik dalam aqidah. Bahkan tragedi di makam Mbah Priok kemarin, sudah menjurus kepada syirik sosial pula berupa anarkhisme dan kesewenang-wenangan. Wajarlah jika Rasulullah sendiri wanti-wanti soal kuburan dan ziarah.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pelakunya (yakni orang-orang yang suka mengagungkan kuburan). Terkadang beliau menyatakan, “Demikian besar murka Allah kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan mereka agar mendapatkan murka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena apa yang mereka perbuat termasuk perbuatan maksiat. Yang demikian ini terdapat di dalam kitab-kitab Shahih.

Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (dengan keras) perbuatan tersebut, terkadang mengutus seseorang untuk menghancurkannya, terkadang menyebutkan bahwa hal itu termasuk dari perbuatan Yahudi dan Nasrani, terkadang beliau menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala.” Terkadang menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat ied.”

Wajarlah pula dalam riwayat Imam Nasa’i, lain waktu Rasulullah pernah menegaskan soal ini, "… (Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) barangsiapa yang ingin berziarah maka berziarahlah dan jangan mengatakan perkataan yang keji."

Ziarah kubur sebagaimana tuntunan Nabi, bermanfaat untuk mengingat mati. Sebab sesungguhnya, rumah masa depan bagi kita hanya seluas 1 x 1 meter persegi. Itulah kubur dengan kematian sebagai pintunya.

Itulah peristirahatan sementara bukan yang terakhir sebelum sampai pada akhirat menuju pintu surga atau neraka. Karenanya jangan sampai soal kubur malah membuat peziarah semakin tidak mungkin masuk surga sebab jatuh ke jurang syirik yang teramat dalam sebab taqdis pada kuburan yang menyimpang.

Huru-hara, korban luka, darah berceceran, manusia menyiksa manusia karena soal persepsi kuburan keramat dan alasan pengadilan telah terbukti menyengsarakan banyak orang di dunia.

Dari sisi nalar sehat, saya tidak percaya hal itu telah terjadi. Saya tidak percaya aparat yang menikmati gaji dari uang rakyat, mementung rakyatnya sendiri. Saya juga tidak percaya, kelompok masyarakat muslim menyerang tanpa memikirkan hati nurani dan akhlak yang diajarkan agamanya.

Mengenang Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Allahuyarham, patutlah kita bermunajat, ”Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ’aafihi wa’fu ’anhu …”. Cukup. Selebihnya adukan segala persoalan dan permintaan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’aala. Wallaahu a’lam.

Ciputat, April 2010

[email protected]

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus