• Senin, 26 Ramadhaan 1431/ 6 September 2010
 
 

Antara Teman Dan Keyakinan

Oleh Abi Sabila

Aku baru saja pulang dari sholat Isya di mushola ketika kulihat putri tunggalku sudah menunggu di depan pintu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dengan semangat dia katakan bahwa Om A tadi datang ke rumah tapi tidak lama, hanya mengantar bingkisan dan langsung pamit pulang karena buru-buru mau ke gereja untuk merayakan malam natal di sana.

Om A adalah teman kantorku, dia bersebelahan meja denganku. Dia seorang keturunan China yang beralih keyakinan dari Budha menjadi seorang nasrani. Sebagai teman kerja, A adalah teman yang ramah, baik hati dan suka membantu. Dia juga memiliki toleransi yang tinggi untuk urusan agama.

Bi, biscuit dari Om A boleh dimakan nda? “ tanya putriku sambil membawa sekaleng besar biscuit.

Boleh

Tapi kan Om A itu orang nasrani “ anakku masih ragu untuk membuka kaleng biscuit di depannya

Nda apa-apa, makanlah “ jawabku mantap

Secara singkat kujelaskan pada putriku bahwa pemberian dari temanku itu boleh dimakan -meski dia seorang nasrani sekalipun - sebab kulihat biscuit yang ia berikan adalah biscuit yang biasa dijual di toko dan sering ada di saat-saat idul fitri. Tak ada unsur haram didalamnya, tak ada kaitan dengan ritual keyakinannya, barangkali dia hanya memanfaatkan momen natalnya untuk berbagi dengan orang lain, termasuk aku sebagai teman kerjanya.

Apa Abi akan menelpon Om A untuk mengucapkan selamat natal ?” tanya putriku sambil membuka kaleng biscuit yang sudah sejak tadi dipangkunya.

Tidak! Kalaupun nanti abi telpon, itu untuk mengucapkan terima kasih karena sudah diberi bingkisan, bukan untuk mengucapkan selamat natal “ jawabku pasti

**
Bukan hanya putriku yang baru berusia sembilan tahun, siang sebelumnya beberapa teman kerjaku yang sudah ‘dewasa’ pun menanyakan hal yang serupa, apakah aku akan mengucapkan selamat natal kepada beberapa teman kerja yang akan merayakannya. Dengan tegas kujawab tidak! Bagiku pertemanan, persahabatan, ataupun hubungan kerja menempati ruang yang berbeda dengan keyakinan.

Tidak pada si A, teman kerjaku. Juga tidak pada si B, atasan di perusahan tempatku bekerja. Tidak pada si C kenalanku di dunia maya. Atau pada si D yang selalu memberiku ucapan selamat saat merayakan Idul Fitri ataupun Idul Adha. Aku memiliki pandangan tersendiri terhadap makna toleransi. Tidak menghalangi, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan apa yang menjadi keyakinannya adalah satu bentuk toleransi yang ‘aman’ ketimbang harus melanggar batas keyakinan untuk sebuah alasan pertemanan.

Begitulah, tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya dan juga untuk tahun-tahun berikutnya, tak ada ucapan selamat natal bagi teman, atasan, ataupun juga kenalan. Ini bukan soal tidak toleran, tapi ini berkaitan dengan keyakinan.

abisabila.blogspot.com
YM: abisabila@ymail.com

Senin, 28/12/2009 14:28 WIB | email | print | share
 
 
 
 

Oase Iman Lainnya

(Arsip) (Ke Atas)

Oase Iman
menggugah dan menyegarkan iman
 
 
 

PELUANG

 
 
 

Simulasi Tabungan Rencana
Menabung adalah bagian dari perencanaan keuangan untuk masa depan. Namun, terkadang dengan segala kebutuhan dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari terkadang menabung adalah ...

Kartu ATM SiAga Syariah
Fasilitas layanan kepada nasabah untuk melakukan transaksi perbankan dengan perangkat mesin ATM (Automated Teller Machine) yang dimiliki atau ditunjuk oleh Bank Bukopin a. Man...

Giro Utama iB
Giro Utama iB, adalah rekening koran wadiah dari Bank Mega Syariah yang memungkinkan Anda mengelola dana dengan nyaman sesuai kebutuhan. Menyimpan dana sesuai syariah dan mend...

BNI Syariah KC Jaktim Sukses Galakkan Tabungan iB Masuk Sekolah
Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Kantor Cabang Jakarta Timur melalui Tabunganku iB yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menggalakkan Tabungan ini ke sekolah-sekolah. Progra...

 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Anak Pemarah

Saya wanita bekerja dengan 4 anak yg masih kecil-kecil paling besar kelas lima SD, saya membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi suami karena suami jauh. Karena saya sendiri kadang-kadang dalam mendidik anak saya terlau emosional.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Pengungsi Sinabung, Logistik Masih Minim

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa hari ini cenderung menurun. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi, seperti meletusnya gunung ini Minggu (29/8) dini hari yang di luar prediksi para ahli.