Antara Teman Dan Keyakinan
Oleh Abi Sabila
Aku baru saja pulang dari sholat Isya di mushola ketika kulihat putri tunggalku sudah menunggu di depan pintu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dengan semangat dia katakan bahwa Om A tadi datang ke rumah tapi tidak lama, hanya mengantar bingkisan dan langsung pamit pulang karena buru-buru mau ke gereja untuk merayakan malam natal di sana.
Om A adalah teman kantorku, dia bersebelahan meja denganku. Dia seorang keturunan China yang beralih keyakinan dari Budha menjadi seorang nasrani. Sebagai teman kerja, A adalah teman yang ramah, baik hati dan suka membantu. Dia juga memiliki toleransi yang tinggi untuk urusan agama.
“ Bi, biscuit dari Om A boleh dimakan nda? “ tanya putriku sambil membawa sekaleng besar biscuit.
“ Boleh “
“ Tapi kan Om A itu orang nasrani “ anakku masih ragu untuk membuka kaleng biscuit di depannya
“ Nda apa-apa, makanlah “ jawabku mantap
Secara singkat kujelaskan pada putriku bahwa pemberian dari temanku itu boleh dimakan -meski dia seorang nasrani sekalipun - sebab kulihat biscuit yang ia berikan adalah biscuit yang biasa dijual di toko dan sering ada di saat-saat idul fitri. Tak ada unsur haram didalamnya, tak ada kaitan dengan ritual keyakinannya, barangkali dia hanya memanfaatkan momen natalnya untuk berbagi dengan orang lain, termasuk aku sebagai teman kerjanya.
“ Apa Abi akan menelpon Om A untuk mengucapkan selamat natal ?” tanya putriku sambil membuka kaleng biscuit yang sudah sejak tadi dipangkunya.
“ Tidak! Kalaupun nanti abi telpon, itu untuk mengucapkan terima kasih karena sudah diberi bingkisan, bukan untuk mengucapkan selamat natal “ jawabku pasti
**
Bukan hanya putriku yang baru berusia sembilan tahun, siang sebelumnya beberapa teman kerjaku yang sudah ‘dewasa’ pun menanyakan hal yang serupa, apakah aku akan mengucapkan selamat natal kepada beberapa teman kerja yang akan merayakannya. Dengan tegas kujawab tidak! Bagiku pertemanan, persahabatan, ataupun hubungan kerja menempati ruang yang berbeda dengan keyakinan.
Tidak pada si A, teman kerjaku. Juga tidak pada si B, atasan di perusahan tempatku bekerja. Tidak pada si C kenalanku di dunia maya. Atau pada si D yang selalu memberiku ucapan selamat saat merayakan Idul Fitri ataupun Idul Adha. Aku memiliki pandangan tersendiri terhadap makna toleransi. Tidak menghalangi, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan apa yang menjadi keyakinannya adalah satu bentuk toleransi yang ‘aman’ ketimbang harus melanggar batas keyakinan untuk sebuah alasan pertemanan.
Begitulah, tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya dan juga untuk tahun-tahun berikutnya, tak ada ucapan selamat natal bagi teman, atasan, ataupun juga kenalan. Ini bukan soal tidak toleran, tapi ini berkaitan dengan keyakinan.
Lainnya (Arsip)
- Tribute To Paman Adung
Rahmatullah Elmusri — Senin, 28/12/2009 09:34 WIB - Ketika Tuhan Diprotes, Dia Tetap Menyayangi HambaNya
Syaripudin Zuhri — Minggu, 27/12/2009 08:15 WIB - Ketika Nasionalisme Dipertanyakan..
Yelvi Levani — Sabtu, 26/12/2009 13:12 WIB - Doa Cinta Kita
Faridah — Sabtu, 26/12/2009 05:27 WIB - Benarkah Kita Sudah Hijrah ?
Syaripudin Zuhri — Jumat, 25/12/2009 14:03 WIB
Oase Iman
Terkait
- Seminar Sejarah Valentines Day
- Jubir Militer Kenya Ancam Serang 10 Kota Somalia Lewat Akun Twitternya
- Rabbi Shas Yahudi Israel Doakan Mubarak Bebas dari Hukuman
- Muslim New York Akan Gelar Aksi Demo Menentang NYPD
- Lia Rojas Saya akan Mati Sebagai Seorang Muslim
- Wilders Kecam dan Tolak Rencana Kunjungan Presiden Turki ke Belanda
- LIbya Kegembiraan Kesedihan dan Harapan
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




