Obama, oh Obama

Selasa, 16/03/2010 00:40 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Ashif Aminulloh Fathnan

Semua orang melihat bom fosfor itu disembur, kuning pekat dengan suhu ribuan derajat menghambur dari perut jet tempur yang terbang rendah. Lalu ratusan manusia di puing-puing bangunan di bawahnya menjerit kesakitan, dengan luka bakar ganjil yang tak bisa dijelaskan dengan akal-budi. Anak-anak menjerit, ibu-ibu kesakitan, bangunan roboh berpuing-puing, pohon-pohon tandas begitu saja.

Kita semua tidak akan lupa dengan kejadian setahun lalu, saat Israel dengan beringasnya menghancur-luluh-lantakkan Gaza, dengan cara yang paling memalukan –tentu saja cara pengecut. Tak sedikit manusia yang lalu tumpah ke jalanan, menunjukkan simpati, mengutuk PBB dan dunia yang bungkam. Mungkin kita juga melakukannya, dan memekikkan lagu Michael Heart dengan lirik semangatnya. Itu semua terjadi tepat sepekan sebelum upacara pelantikan Obama sebagai presiden AS terjadi.

Di sudut yang lain, di kepulauan terpencil, dekat dengan Kuba –tapi mungkin kita semua tak pernah kesana, sebuah pulau kecil bernama Guantanamo. Di tengah pulau itu di lorong-lorong yang berjeruji layaknya penjara, jerit dan tangis menggaung seperti tak kenal waktu. Mungkin ada yang pernah membaca penyiksaan di penjara teroris: itulah yang terjadi disana. Tapi tentu, tak ada dari sekalian pembaca yang benar-benar merasakannya –merasai kengeriannya: disetrum, diinjak, disuruh mengepel dengan lidah, dicabut kuku kaki dengan tang, untuk sebuah kata “pemeriksaan”. Kebanyakan tahanan adalah para suspect teroris dan warga muslim. Teringat pula janji Obama yang berkehendak membubarkan penjara itu sekiranya benar menjadi presiden Amerika, namun kenyataannya sekarang ia masih tegak berdiri.

Kita semua mungkin sekilas mengingatnya, dari surat kabar dan jaringan maya. Namun, kebanyakan dari kita terlindung dari pelbagai horor di dunia yang menyenangkan ini. Kebanyakan kita tak tahu akan kengerian di tanah kering Gaza, kengerian di ruang-ruang interogasi Guantanamo. Kebanyakan dari kita bangun tidur, bekerja, atau cari kerja, atau ke kampus dan jajan, bercanda, nonton bioskop dan kemudian pulang untuk tidur lagi tanpa tahu bahwa nun di balik hidup rutin kita yang tak terganggu itu, ada orang-orang yang disiksa atas nama keamanan –disiksa atas nama keadilan dan perdamaian.

Kebanyakan dari kita bisa berjam-jam merasa nyaman –dengan setumpuk keluhan jika sedikit saja kenyamanan itu berkurang. Kebanyakan kita lupa, ada yang tidak adil, dan ada yang membiarkan ketidak-adilan itu terjadi.

Maka kondisi kita sebenarnya tak ubah seperti kumbang kekenyangan; meski bunga mekar berlimpah, kita tak pernah merasai kenikmatannya. Dengan setumpuk pengetahuan yang kita punya, tak ada apa yang bisa kita perbuat, apa yang kita lakukan setelahnya? Kita hanya terbuai dengan nasib baik, dengan keamanan negara, kondisi politik yang menguntungkan. Tapi sadarkah? Ada segelintir orang yang mengetahui dan memegang kunci-kunci peristiwa itu, yang seharusnya bisa berbuat adil, namun dengan demikian saja membiarkan ketidak-adilan itu terjadi.

Barangkali, inilah saat dimana kita seharusnya melakukan pekerjaan para pahlawan: keluar dari kenyamanan dan berteriak melawan. Tepatnya itulah pekerjaan orang-orang yang dengan sengaja merasai, menjiwai, merabai ketidakadilan itu, lalu bertindak, mengusahakan sesuatu untuk terjadinya perubahan.

Maka, mari kami tunjuki kawan: Ada saat dimana seorang Obama menjadi baik dan kawan bermain yang menyenangkan bagi teman-teman SD-nya di Menteng Jakarta, ada saat dimana seorang Obama kecil bercanda dengan ibunya –dan ayah tirinya yang seorang berdarah Jawa, ada saat dimana Obama berlibur ke rumah budhe-nya di perumahan Bulaksumur –di selatan Sardjito itu, tapi ada saat-saat yang jauh berbeda dari itu, kawan. Saat Amerika mengirim pasukan ke Afghanistan, saat Amerika mendirikan Guantanamo, saat Amerika mendukung perusahaannya menambangi emas Irian, saat Amerika tutup kuping ketika Israel menindas Palestina. Itulah saat yang seharusnya (juga) tidak kita lupakan.

Sungguh, untuk semua ingatan itu, kita seharusnya menjadi tidak sabar menanti tanggal 20 Maret. Obama, oh Obama, ingin rasanya bicara kata per kata, seperti sahabat lama, namun senjata-senjata itu, mesin-mesin tambang itu, mengatakan bahasa yang tak kami pahami. Maka sebaiknya kami melakukan pekerjaan para pahlawan!

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang