Bahagia Kami Pagi Ini

Selasa, 04/11/2008 07:45 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Eko Prasetyo

Hidup di zaman sekarang benar-benar harus kuat iman. Pasalnya, apa-apa serba duit. Mau buang air kecil saja harus bayar. Ketika saya belanja ke Pasar Keputran, Surabaya, uang Rp 10 ribu cuma dapat tempe, tahu, plus minyak goreng setengah kilo. Meski demikian, saya bersyukur bahwa dini hari nanti punya persiapan sahur dengan lauk istimewa: Tempe! Alhamdulillah. Karena masih bujangan, mungkin saya masih bisa mengirit pengeluaran. Saya tak bisa membayangkan bahwa banyak orang miskin yang tak mampu beli beras.

Saya punya langganan bakul cabai di Pasar Keputran. Si penjual sudah sepuh, sepantaran nenek saya. Dulu sebelum kena stroke, nenek sayalah yang belanja ke pasar tersebut. Tiap belanja, nenek tak pernah absen beli cabai di ibu bakul lombok itu. Witing akrab jalaran soko kulina. Karena sering bersua, mereka menjadi layaknya sahabat karib. Stroke telah membuat kakek dan nenek saya tak mampu berjalan sempurna seperti dulu. Kini sayalah yang mengalih alih tugas belanja. Si mbah penjual lombok tadi sebenarnya tidak menjual cabai segar. Dia mengaku, tiap pukul dua pagi ada truk pengangkut cabai dari daerah lain untuk dibawa ke Surabaya. Nah, tiap ada cabai yang jatuh dari truk tersebut, cabai itulah yang dijarah oleh sebagian penjual, termasuk si mbah tadi, untuk dijual kembali. "Nek tuku larang (Kalau beli, mahal)," tuturnya.

Karena hidup bertiga dengan penghasilan saya plus pensiunan kakek, jelas kami harus benar-benar hemat. Lha piye wong semua harga kebutuhan pokok serba mahal. Karena itu, saya sangat prihatin melihat kenyataan bahwa banyak orang yang membelanjakan uangnya untuk hal yang salah seperti membeli ijazah instan. Saya mafhum, mungkin mereka belum pernah merasakan sulitnya mencari seperti kami dan rakyat kecil lainnya.

Saat membaca berita cover story di salah satu surat kabar edisi 18 dan 19 September lalu, saya terkesiap. Betapa tidak, tak perlu susah-susah kuliah, orang bisa dengan mudah mendapatkan ijazah instan seharga Rp 8 juta.

Dengan minimal Rp 8 juta, titel apa saja bisa Anda dapatkan. Tinggal pilih mau sarjana ekonomi, hukum, atau psikologi. Tak perlu duduk di dalam kelas selama empat tahun. Bahkan sehari pun tak perlu. Proposal skripsi dan skripsi sudah ada yang mengerjakan. Pokoknya tinggal bayar. Dalam waktu sekitar sebulan, semuanya beres (Metropolis Jawa Pos, 18/9/08).

Bahkan, si konsumen ijazah instan akan mendapatkan indeks prestasi 3,01. Nilai yang lumayan, karena nilai itu diperoleh tanpa harus mengikuti kuliah sama sekali. Peminat ijazah instan tersebut pun tidak sedikit. Disebutkan tim Jawa Pos bahwa segmen pasar terbesar ijazah instan adalah instansi pemerintahan (PNS dan guru) serta lembaga negara non-pemerintah (legislatif). Mahasiswa putus kuliah masih kalah besar. Masya Allah.

Ah, saya sedikit menggerutu dalam hati. Untuk mencapai sarjana, saya pernah harus jualan kopi di Jl Basuki Rahmat hingga jadi cleaning service di Gramedia. Mereka yang punya duit dengan mudahnya mendapatkan ijazah sarjana tanpa harus kuliah dan susah payah. Duit kini bak dewa, dipuja dan berkuasa. Jika ada uang, urusan lancar. Jika tak punya uang, jangan pernah ngimpi jadi sarjana di sini! Masya Allah.

Subuh sudah melambaikan tangannya. Mata ini begitu lelah dan mengantuk. Sesampai rumah, saya tengok kamar kakek nenek saya. Mereka masih terlelap. Saya lantas mendesah. Hari ini saya hanya berhasil belanja tempe lagi. Beli dua ribu rupiah sudah bisa dimakan bertiga. Sambil menggoreng tempe tanpa garam buat mbah berdua, saya membayangkan punya uang Rp 8 juta seperti mereka yang membeli ijazah instan. Tentu saja saya menginginkan sekali-sekali di meja makan kami tersaji sayur segar dengan lauk daging atau apalah selain tempe. Tentu itu akan sangat membahagiakan kami bertiga ketimbang beli ijazah yang tak banyak menolong perut kami ketika lapar. Ya Allah.

[email protected]

www.samuderaislam.blogspot.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang