Belum Jadian (kok) Sudah Bilang Putus

Rabu, 01/07/2009 05:46 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Fiyan Arjun

Cerita ini berawal dari sebuah pesan singkat yang saya terima dari ponsel. Pesan singkat itu datang ternyata di kirim dari seorang wanita yang saya kenal melaui di dunia maya. Lagi-lagi hanya melalui via on-line. Sama sekali kami berdua belum bertatap muka secara live baik saya maupun wanita itu.

Mungkin. Ya, mungkin ia sudah sudah kenal saya. Tahu tampang saya (yang menurut keponakan-keponakan saya—yang mungkin matanya sedang kelilipan debu bilang saya ini tampang mirip aktor Bollywood. Sutralah!). Rupa saya. Bentuk saya. Maupun senyum close-up saya. Tapi bukan hati saya…Senyumlah untuk semua orang tapi hatimu jangan…1*) Ia bisa mengetahui saya seperti apa!

Dan lagi-lagi itu semua hanya dilihat dari fasilitas tekhnologi moden bernama dunia maya. (Ingat, bukan dunia Luna Maya!). Entah, bisa itu fasilitas via facebook, blog maupun chat Yahoo Messenger.

Pun dengan saya melihat dirinya melalui fasilitas itu pula. Jadi kami berdua benar-benar hanya kenal melalui via dunia maya. Mungkin karena kami berdua menjalani sistem “silaturahmi” memakai fasilita ini adem ayem saja. Bahkan sampai via SMS pun kami berdua juga melakukannya pula. Benar-benar tak seorang pun yang mengetahui hal itu. Memang saya akui hubungan seperti ini tak baik. Mungkin saya bisa terjangkit virus yang tidak ada obatnya. Obatnya hanya satu dan tak bisa dijual di apotik apalagi di warung kelontong. Tak lain menjaga izzah dan azzam itulah obatnya. Obat yang bisa melawan dan menghalau virus yang bernama virus merah jambu agar tidak sampai menjalar ke seluruh pembuluh darah saya. Bisa berabe nantinya memproteks-nya!

Mungkin. Ya, mungkin karena menurut saya hubungan ini tak baik dan Tuhan masih sayang maka dalam hubungan ini saya diberi cobaan. Cobaan itu adalah dalam bentuk kesalahpahaman kami berdua hingga mengakibatkan efek yang sangat besar. Hingga akhirnya kami berdua memutuskan tak akan menyapa lagi—saat itu.

Saya kira kami berdua satu sama lain cocok dan saling mengisi jiwa-jiwa yang kosong ini. Ternyata itu hanya mimpi. Jiwa-jiwa kami tak bisa disatukan. Ada partikel-partikel negatif yang menyelubungi tubuh kami berdua. Hingga jiwa-jiwa kami tak bersih.

Mungkin garis tangan Tuhan menggariskan saya bahwa dirinya bukan jodoh saya dan takdir mengatakan lain. Kami berdaua memang sudah tak lagi cocok. Baik sifat, kepribadian maupun prinsip. Dan hingga saya menulis kisah sentimentil ini saya sudah tak berhubungan lagi. Baik memakai fasilitas dunia maya maupun ber-sms-an ria saling memberikan support maupun attention. Kini kami berdua benar-benar tak bisa seperti yang dahulu lagi. Kami benar-benar tak berhubungan lagi.

Begitu dosakah sampai tidak memaafkan saya…Sudah kalau begitu saya pamit…Bye.

Itulah kurang lebih pesan singkat yang saya terima dari ponsel. Cukup membuat saya terkejut bahkan tak percaya bahwa ia mengirimkan pesan singkat seperti itu kepada saya. Tapi saya tak membalas pesan singkat itu langsung melainkan saya merenungi apa yang saya lakuakn selama ini. Terlebih saat itu ponsel saya tak bernyawa. Tak ada pulsa! Padahal kami berdua tak ikatan sakral apalagi janji sehidup-semati.

Saya lagi-lagi hanya bisa tawwakal dan berpositif thinking saja tentang pesan singkat yang saya terima dari ponsel yang dikirim wanita itu. Nothing to lose sajalah. Atau, jangan-jangan ia hanya mengetes kesetiaan saya? Atau, juga mungkin ini sifat wanita ketika sedang bete dan sedang kedatangan tamu. Entahlah. Tapi apakah saya patut menerima itu semua? Jadian juga belum kok sudah seperti itu. Wanita-wanita sungguh engkau makluk yang susah dimengerti!(fy)

Ciputat—Tangerang, Penghujung Juni 2009


Masih tetap di kost kawan di temani tembang Jangan Pernah Berubahnya—ST12 bukan eSTeh Maniez 12 Gelas!

Teruntuk seseorang yang merasa dan dirasa. Jangan Pernah Berubah. Tetaplah engkau seperti melati harum semerbak. Karena melati tak akan pernah berubah menjadi mawar berduri tajam.

Note:

*) Lirik lagu Dangdut “Senyum dan Hatimu”-nya Ikke Nurjanah

Penulis adalah penulis buku Bela Diri for Muslimah: Permpuan Bukan Maklhuk Yang Lemah. Ingin silaturahim kunjungi: fb/imel:[email protected]/ http://sebuahrisalah.multiply.com.

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang