Belajar Hikmah dari Roti
Oleh bidadari_Azzam
Kuperhatikan sosok bulat itu, Roti. Lega dan puas saat menyaksikan Suami dan Anak-anak menyantap roti daging sapi itu. Enam bulan lebih kami tidak menikmati daging, sebab di Krakow tak ada daging yang dipotong secara syar’i.
Alhamdulillah, seminggu lalu Allah SWT mempertemukanku dengan Muslimah yang Suaminya pengusaha daging halal~daging yang dijualnya adalah daging Sapi halal, yang disembelih sesuai syariah Islam di Warszawa, lalu dikirimi ke kedai-kedai Kebab berbagai Kota di Poland ini. Sungguh luar biasa, hikmahNYA selalu indah. Kini kutatap dengan bahagia piring-piring yang telah kosong~roti daging sudah habis disantap “para pelanggan setiaku”. Alhamdulillah…
Masih kuingat “alam pikiranku” bermain-main saat membuat roti tadi. Dengan basmalah kumulai membuatnya, di dapur miniku yang sangat menyenangkan. Ada rasa tak tega saat mengocok-ngocok telur, mengaduk-aduk tepung dan mentega, lalu mencampur dengan ragi, gula, garam, dan bahan-bahan lain…
Lalu saat adonan telah tercampur, bahan roti itu harus kuuleni hingga kalis, kutekan-tekan, kupukulkan pada telenan, lalu diuleni lagi, lalu dipukul-pukulkan lagi, uleni lagi, dan terus diuleni hingga kalis. Dalam hatiku, kalau roti ini bisa bicara, pasti dia menjerit, “Awww, sakiiit!”
Apalagi saat telah kalis, harus ditutup di baskom atau wadah yang rapat (sambil ditutupi handuk/serbet), aku masih sibuk berpikir, kalau saja dia bisa bicara, pasti dia menangis, “Duh, huaaa…huaaa… gelapnya…!”
Kemudian setelah dua jam-an, kubuka, bahan rotiku telah mengembang, senangnya hati ini, walhamdulillah. Kemudian ia kucubit kecil-kecil, kubuat bulatan, lalu kupipihkan, kuvariasikan “isinya”, isi daging, keju, coklat, selai kacang, lalu kuletakkan dengan rapi di atas wajan pemanggang yang sudah kuolesi mentega dan taburan sedikit tepung.
Roti-roti kuolesi dengan telur di bagian atasnya. Kulanjutkan dengan memasukkan roti-roti itu ke dalam oven~pemanggang. Kunyalakan, lebih kurang lima belas menit.Saat kubuka, sebentar kuperiksa dengan garpu, karena masih ragu tingkat kematangannya, beberapa roti besar kutusukkan dengan garpu, lalu kupanaskan lagi dua menit.
Akhirnya setelah oven kumatikan, kutata mereka di atas piring, Suamiku memotretnya beberapa saat. Roti-roti itu cantik sekali…
Alhamdulillah, selain “pelajaran” membuat roti ini telah berhasil dengan baik, aku pun memperoleh hikmah tambahan. Roti-roti itu telah mengajarkan arti kesabaran… Kita hidup di Dunia selalu harus melalui onak dan duri, jalan terjal, segala macam peristiwa yang mungkin menyenangkan, mungkin menyakitkan.
Kesabaran baginda Rosulullah SAW pun pernah dilukiskan dalam sebuah kisah mengharukan saat beliau memasuki Kota Thaif untuk berdakwah, kiranya dapat kita ambil sebagai teladan dari kesabaran Rasulullah SAW. Di kota tersebut, siksaan yang Rasulullah terima sangat hebat. Sepanjang jalan, Rasulullah dilempari kotoran.Tidak hanya itu, tubuhnya pun dilempari batu hingga wajah beliau berdarah-darah.Namun, tindakan biadab tersebut tidak menjadikan Rasulullah kendur dalam mendakwahkan Islam. Bahkan, Malaikat Jibril pun menawari Rasulullah SAW untuk membalas perlakuan kaum kafir yang sudah di luar batas kemanusiaan itu.
Namun apa jawab Nabi? "Mereka (kaum kafir itu) berbuat demikian karena mereka tidak tahu," kata baginda Rasulullah. Beliau bahkan mendo'akan kaum kafir tersebut agar diberi hidayah oleh Allah SWT. Sungguh indah tindakan Nabi. Dalam diri beliau begitu tertanam cinta kasih yang luar biasa. Keburukan dibalas dengan kebaikan. Perlakuan tidak menyenangkan dibalas dengan mendo'akan untuk kebaikan. Penganiayaan yang beliau terima tidak dibalas dengan emosi. sungguh baginda super sabar yah…
Subhanalloh…
Beberapa tahun lalu seorang Adindaku menangis-nangis saat masa kuliah berjalan dengan melelahkan, sungguh ia sedih dan sangat kecapekan ditambah dengan kegiatan lain yang seabrek, “kayak mau ancur nih badan…”, keluhnya… Tapi hari ini ia tersenyum, Alhamdulillah punya kenangan “masa lelah dan badan hampir hancur kala kuliah”, sekarang ia sangat menikmati hari-hari di kursi kerja yang merupakan perusahaan pribadi yang ia bangun mengandalkan keilmuan yang didapat.
Beberapa tahun lalu Si Abang kecilku juga sering menangis karena ingin bisa main sebuah “game computer” yang dirasanya sangat sulit, tapi ia ingin dan ingin sekali bisa main game tersebut. Suamiku mengatakan, Abang harus bisa baca dulu, baru nanti tahu dan paham petunjuk main game tersebut. Dan sekarang saat Si Abang memang sudah pandai membaca-menulis, ia tersenyum senang dan berujar, “Ah… ternyata game ini mudah banget, juara deh!”.
Beberapa tahun lalu seorang Saudara menangisi hancurnya rumah karena sering banjir, namun hari ini ia tersenyum sumringah, karena sejak pindah rumah di tempat yang lebih strategis, ia memiliki bisnis yang makin maju dan hingga kini makin berkembang. Banyak sahabat yang sukses dalam wirausahanya, padahal modal dana hanya sedikit, serta minimnya laba, bahkan usaha tersebut mulai muncul di kala keadaan hidup mereka sedang terhimpit banyak problema, di saat kebingungan dipecat dari pekerjaan misalnya.
Juga ada teman yang sukses buka usaha warung makan padahal dulunya ia uring-uringan mengeluh tidak ada keterampilan, tidak bisa masak, tapi ingin memiliki pekerjaan, akhirnya pelan-pelan belajar masak dan hingga kini malah makin terampil di dunia kuliner.
Kembali kuselami Si Roti. Kalaulah Si Roti bisa bergerak sendiri, mungkin ia matikan oven panas itu, padahal ia belum matang, dan tentu tidak ada Roti cantik di atas meja makan. Juga jika aku malas menguleni hingga kalis, pastilah adonan tidak mengembang, dan sore ini tidak ada rezeki camilan Si Roti cantik buat Suami dan Anak-anakku.
Saudara-saudariku, begitu pun kita… di saat ini, kita ada yang sedang kehilangan senyum, “ditonjok”, “dicubit”, “ditekan”, “diuleni”, kita “dibakar”, “dimatangkan” dengan berbagai peristiwa hidup, “dirapikan” dan dihiasiNYA dengan alur serta skenario Sang Rahman yang selalu penuh dengan misteri dan akhir yang indah. Dalam Qur’an Surat Ar Rahman,"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Allah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk- (Nya), di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing… (QS. Ar-Rahman [55] : 1-20)
Subhanalloh…
Allah SWT ternyata melimpahkan segala peristiwa dalam perjalanan hidup kita (yang mungkin bagi kita terasa berat, terasa sakit, terasa sedih, terasa tidak enak…dll) ternyata untuk kehadiran Cantik Lahir Batin diri kita saat pertemuan denganNYA, insyaAllah… Kita “dipanggang bolak-balik”, ditaburi berbagai ujian untuk keindahan dan kedewasaan serta keteguhan iman ini.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa salam bersabda, “Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhari)
Mungkin Si Roti berbisik padaku jika ia bisa berkata, “Ummi kamu lucu, sambil memasak koq mengajak kami bicara…” Dan aku tetap mencerna hikmah dari bulatan roti itu, “Terima kasih ya Roti, sudah mau diuleni, dipanggang, dimakan pula, semoga berkah Allah SWT mengiringi setiap gigitan rezeki yang kami telan ini,” aamiin ya Robb.
(bidadariazzam.blogspot.com/Krakow, 17 Mei 2010)
Lainnya (Arsip)
- Apa Yang Selayaknya Di Dalam Dada (Hati)?
Dinar Zul Akbar — Rabu, 23/11/2011 12:34 WIB - Musim Hujan, Musin Ujian. Apa Kabar Status Facebook?
Septiani DW — Rabu, 23/11/2011 04:53 WIB - Elegi 'Pasangan Cahaya'
Mukti Amini — Selasa, 22/11/2011 15:57 WIB - Silaturrahim Di Mata Remaja
Abi Sabila — Selasa, 22/11/2011 07:13 WIB - Masih Haruskah Berpacaran?
Kiptiah — Senin, 21/11/2011 13:10 WIB
Oase Iman
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
Satrio Selamat dari Jantung Bocor
Dari semenjak lahir Satrio, 21 bulan, sudah menderita jantung bocor. Tubuhnya semakin membiru, bapaknya terkendala administrasi untuk mengurus Jamkesmas. Melalui bantuan LKC Dompet Dhuafa dan PT PPA…



