Berani Memaksa Allah?
Oleh bidadari_Azzam
Setahun lalu ada teman menyapa di dunia maya, teman sekolah yang usianya setahun lebih tua dariku. Ia merupakan teman yang tak terlalu dekat, tak pernah sekelas, hanya beberapa kali bertepatan jalan ke arah sekolah bersama-sama, apalagi dulu di kompleks perumahanku ada berbagai hal yang jadi rahasia umum namun tidak enak didengar mengenai keadaan keluarganya.
Setelah saling tanya kabar, saya lumayan kaget dengan kalimatnya, “Waaah, kamu itu belum sempurna dong sebagai Ibu?!” Saya kira dia bercanda, namun pada kenyataannya memang tak ada manusia yang sempurna, maka saya hanya tersenyum.
Lalu dia melanjutkan, “Yang namanya ibu itu harus punya anak laki-laki dan perempuan dong, kamu cepetan tambah lagi, biar dapet anak cewek, saya juga setiap hari minta dikasih anak cewek nih sama Yang Di atas…” kalimat konyolnya.
Saya menyadari bahwa lawan bicara yang satu ini memang belum sampai kepada pendalaman ‘ilmu-Nya’, belum paham akan makna kesyukuran, dan sejenisnya, namun saya tergelitik untuk menyangkalnya, dari pada kalimat itu dianggap baik kemudian ditujukan kepada sohib-sohib saya yang lain, kan kasian dong sohib lain akan sakit hati. “Lho… Ibu yang sempurna itu yang bagaimana menurut kamu? Kalau orang yang melahirkannya dengan operasi cesar juga kamu anggap gak sempurna sebagai Ibu? Idih, ada-ada aja…”, ujarku. Ternyata dia bilang, “Iya, kalau melahirkan normal, anaknya cewek dan cowok, komplet deh, sempurna jadi Ibu! Saya minta supaya Allah ngasih anak cewek buat kami, tolong do’ain yah…”, katanya.
“Hmmm, saya do’ain semoga Allah memberikan yang terbaik atas segala rencanamu itu…aamiin. Temanku, berbahagialah kita yang sudah menjalani peranan sebagai wanita dengan sehat wal’afiat, bisa menstruasi lancar, bersuami yang baik, bisa hamil, melahirkan, menyusui dan sehat wal’afiat dalam mendidik anak-anak.Kalau urusan kelahiran normal atau operasi cesar, dlsb, juga urusan jenis kelamin anaknya cewek atau cowok, itu terlalu memaksakan kehendak kepada Allah ta’ala. Kalau Saya dan Suami, Alhamdulillah sudah sekata-sejiwa menyadari bahwa semuanya adalah amanah Allah ta’ala. Kami tidak meminta sedetail-detail itu kalau berdo’a karena kami yakin bahwa Allah ta’ala akan mengamanahkan segala sesuatu sesuai kesanggupan hamba-Nya, kami takut memaksa-maksa dalam berdo’a seolah memerintah ini-itu kepada Tuhan-Sang Pencipta kita, padahal Dia-lah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat kita… dan kita di Dunia ini cuma dititipi amanah githu lho…”, panjang deh jadi penjelasanku.
Si ngeyel malah seolah ngeledek, ”Nanti sempurna jadi Ibu, kalau kamu punya anak cewek, hahaha.” Padahal rumah tangganya baru sesaat dibangun, belum stabil, dll, namun sedemikian menajamkan kalimat persepsi sejahat itu.
Okelah, yang waras harus selalu mengalah. Biasanya tentu kami tersenyum menghadapi teman yang seperti ini, senyum kesyukuran. Sungguh bersyukur bahwa diri ini tidak memiliki pemahaman sedangkal itu dan amat bersyukur bahwa Allah SWT selalu menambahkan ilmu pengetahuan setiap hari.
Satu lagi yang mirip dengan Si Ngeyel ini, Fulanah, dia ngotot minta kasih tips-tips akurat supaya bisa hamil dan mendapat anak cowok. Banyak jurnal dan artikel dibacanya demi mempersiapkan kehamilan anak cowok, tanya-jawab tentang hal mendetail agar bisa hamil dengan jenis kelamin bayi cowok, pokoknya malah jadi tidak nyaman berbincang dengannya karena menanyakan hal yang terlalu privasi.
Setahun berjalan, dua teman ini belum juga “gol” do’a minta rezeki kehamilannya. Di kabar on-line pun, tiap hari menggerutu “Kapaaan Ya Allah, kenapa belum juga dikasih rezeki hamil…?” dan kalimat sejenis itu.
Yah, kan sudah saya bilang, Allah ta’ala pasti akan memberikan yang terbaik, di waktu yang tepat, kita ini sebagai hamba-Nya yang sudah dicurahi kehidupan di muka bumi, alangkah ‘kurang-ajarnya’ kita kalau maksa-maksa Sang Pencipta yang selalu melimpahi kasih sayang-Nya sepanjang usia?!
Pagi tadi pun tetanggaku yang biasa menemani bayinya na spacer (berjalan-jalan) berekspresi terkejut, “Haaa? Madame, jadi anakmu tiga, laki-laki semua yah? Great! Saya malah perempuan semua…hahaha, aneh yah…”, ujarnya, biasanya kami bersapa sekedarnya.
Namun pagi tadi berbarengan keluar gerbang, sehingga ada beberapa menit waktu mengobrol sesaat. “Saya rasa tidak aneh, hehehe, sisters-ku pun banyak yang punya anak perempuan semua, yah mungkin saja suatu hari nanti anak-anak itu berjodoh dengan putra-putraku, kan, hahaha…”, serius dan santai pula jawabanku.
Duhai sahabatku, para Ibu, para Bapak, teman yang ngeyel, atau Fulanah tadi, bukankah Akhirat adalah kehidupan dambaan kita, mengapa hal sepele itu masih bisa jadi perenggang silaturrahim antara kita?
Kalau kita membeli boneka di etalase toko, kita bisa milih boneka cowok atau boneka cewek, tapi anak-anak bukanlah boneka, ya toh? Dan kalimat hinaan kepada Si Ibu mungkin tak terlalu dirisaukan, namun jika kalimat itu didengar anak-anaknya, terpikirkah mengenai sakit hati bagi Si Bocah?
Anak laki-laki atau anak perempuan adalah sama-sama anugerah terindah-Nya, sama-sama berat menjaga amanah-Nya, sama besar kesempatan kita dalam mendidiknya: Akankah mereka mengantarkan kita menuju Jannah, ataukah malah ke Neraka? Mari bercermin, sudahkah kita mensyukuri kesempatan hidup bersama mereka?
Mungkin dua teman ini memang lupa bahwa bayi perempuanku telah mendahului ke Surga semasa dalam kandungan pada kehamilan kedua. Mungkin teman ini juga lupa bahwa masih ribuan teman lainnya yang menanti kehidupan Suami-Istri, belum juga dipinang, belum bertemu dengan teman sejati pemimpin bahtera rumah tangga.
Mungkin juga lupa bahwa masih ribuan pasangan yang sudah rela menerima ketetapan-Nya untuk tidak bisa hamil dan melahirkan seumur hidup mereka, bahkan ada yang rela berkali-kali mengusahakan proses bayi tabung karena ragam permasalahan pada alat reproduksinya, bahkan ada yang baru menimang bayi setelah belasan tahun menikah. Mungkin mereka lupa bahwa sifat manusia memang cenderung ‘merisaukan hal yang tidak ada, dan lupa mensyukuri apa yang ada’.
"Tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar), melainkan hanya Engkau semata. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (HR. at-Tirmidzi)
Sungguh hamba takut akan adzab-Mu yaa Robbi. Saya ingat zaman sekolah, ada tetangga Ibuku, Mak Dunggi namanya. Ia memang memberi nasehat yang bagus buatku, katanya begini, “Nak, Mak yakin bahwa jalan hidupmu amat baik dan indah. Banyaklah bersyukur yah… Jangan maksa-maksa Allah kalau berdo’a, kayak Mak dulu…”, seraya berurai air mata.
Mak Dunggi memang punya anak banyak, tiga belas, dan kedua belas anaknya adalah laki-laki, yang bungsu adalah perempuan. Mak Dunggi menuturkan bahwa suaminya memaksakan agar terus hamil dan hamil lagi supaya dapat anak cewek. Segala cara dicoba, do’a dibumbui mantera berujung syirik, ia ke dukun dan menggunakan terapi-terapi Si Dukun.
Hingga anak yang ketiga belas itu adalah cewek, kami panggil dia Mbak Rose. Keadaan mbak Rose amat memprihatinkan, ia mengalami cacat pada jasmani dan otaknya tak berkembang. Jadi, seumur hidupnya, (maaf) mbak Rose ini baru bisa jalan sejak usia 30-tahunan dan jalannya seperti bebek.
Sejak bayi sampai akhirnya meninggal di usia empat puluhan, mbak Rose tetap bagaikan bayi bagi Mak Dunggi dan abang-abangnya, mandinya-harus dimandikan, dibaju-i, disuapi, dan seterusnya. Makanya Mak Dunggi berkali-kali bilang, “Mungkin memang hal ini amat wajar sebagai hukuman buat saya, sudah maksa-maksa melulu sama Allah... Padahal harusnya sudah bersyukur bisa hamil dan melahirkan berkali-kali dengan selamat, eeeh, malah menuntut-Nya minta lebih dan lebih…”
Naudzubillahi mindzaliik. Nasehat beliau pun saya resapi mendalam hingga nikmat kesehatan keluarga memang selalu kami syukuri, sama dengan ‘penyesalan’ Nini Esti, dia bilang, “Nak, kamu beruntung punya putra-putra sehat… Nini jadi ngiri, atuh… Nini dulu selalu maksa-maksa do’a ‘Duh Gusti, minta anak cewek yang geulis, lucu…’dll, eeeh, pas udah dikasih anak-anak cewek, malah udah pada dewasa usia lima puluh tahun-an, belum juga menikah, kasian bibi’-bibi’mu eta…”, anak-anak gadis beliau memang belum juga menikah di usia yang sudah kepala lima hingga kini, sebagai ibu tentu Nini Esti amat sedih, apalagi di usianya yang makin menua, belum juga bisa menimang cucu.
Para Tante-Om, Budhe-Pakdhe (yang katanya pas naik haji sampai khusus berdo’a detail buat kami) dan teman-teman kami, terima kasih atas do’a tersebut, namun harap stop berdo’a konyol yang saya ingat kalimat di antara kalian begini, “Semoga kamu hamil lagi dan pasti dapat anak cewek yah…”, please deh, Tolong diubah saja do’a tersebut, begini kan lebih indah: “Barokalloh, semoga kamu selalu meraih hal yang terbaik,” aamiin.
Saya serahkan pada-Nya, segala skenario-Nya selalu indah dalam hidup hamba, kalau suatu hari nanti ternyata punya anak laki-laki sepuluh, so what, githu lho… Itu amanah-Nya, Alhamdulillah. Kalau kemudian sudah tak bertemu masa hamil dan melahirkan kembali, yah tetap Alhamdulillah sudah ada tiga mujahid cilik-Nya dalam tim bahtera ini. Kalau ada yang mau komplain atas prinsip kami dalam menyukuri amanah-amanah-Nya, silakan langsung komplain sama Sang Pencipta—jika memang tidak malu.
Semoga kita makin istiqomah dalam mensyukuri segala ketetapan-Nya, bersabar dalam perjuangan meraih bekal akhirat, dan senantiasa ikhlas dalam beramal sholeh. Mari kita nikmati hari—komplet dengan bumbu senyum, tawa, tangis, sedih maupun luka, semua itu anugerah-Nya.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berwasiat, "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam), dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa), ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku.
Aku memohon kepadamu dengan segala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.
"Maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadi-kan al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, dan pelipur kesedihanku, serta penghilang dari kesusahanku." (HR. Ahmad)
Wallahu’alam bisshowab.
(bidadari_Azzam, Salam ukhuwah dari Krakow, malam 7 Muharram 1433 H)
Penulis adalah koordinator muslimah-Islamic Centre Krakow, Poland.
Lainnya (Arsip)
- Suami Hanya Pencari Rejeki
Halimah — Kamis, 01/12/2011 12:12 WIB - Pacaran Lagi
Kiptiah — Rabu, 30/11/2011 12:49 WIB - Belajar Agama Dan Kemiskinan
Anung Umar — Rabu, 30/11/2011 05:38 WIB - Lakukan Saja!
Kiptiah — Selasa, 29/11/2011 13:19 WIB - Merunduk di Malam Hijrah
Syaripudin Zuhri — Selasa, 29/11/2011 06:40 WIB
Oase Iman
Terkait
- Apakah Kaum LIberal Pakistan Bisa Selamat
- Penentang Gaya Hidup Hedonis Dikucilkan KPK
- Partai Salafi An Nur Mesir Tegaskan Hukum Allah Satu Satunya Sumber Hukum
- Taliban Mengklaim Berhasil Tembak Jatuh Helikopter AS
- Pasukan Israel Menculik 10 Warga Palestina dalam Serangan Dini Hari
- Masih Adakah Mimpi Itu
- Dua Kali Dipaksa Sedekah
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
Satrio Selamat dari Jantung Bocor
Dari semenjak lahir Satrio, 21 bulan, sudah menderita jantung bocor. Tubuhnya semakin membiru, bapaknya terkendala administrasi untuk mengurus Jamkesmas. Melalui bantuan LKC Dompet Dhuafa dan PT PPA…



