Di Tengah Salju Hati Bisa Memanas

"… Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang- orang yang tidak berpengetahuan?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar [39] : 9)

Tidak pernah usai potongan peristiwa kita alami sehari-hari, tak ada senyum atau cemberut dan tangis yang abadi. Justru setiap saat, emosi dan gerak tata hati kita diuji, kadang kala kita sedang bersiram gelak tawa bahagia, lalu tiba-tiba menit selanjutnya terluka dan senyum itu sirna, atau yang tadinya kesal dan penuh kemarahan, lalu tiba-tiba ada peristiwa indah yang mengukir senyuman. Yah, di balik mimik wajah dan penataan emosi dalam setiap menghadapi segala permasalahan, Allah SWT memang mengirimkan milyaran ilmu-NYA, tak pernah habis kita mengupasnya. Menatap bumiNya yang memiliki jutaan sisi-sisi dan ciri tempat berbeda, tadabur alam yang pada akhirnya selalu merasa sangat kecil dan lemah di hadapanNYA, serta menyemangati diri agar kita terus menggali hikmah-Nya, semoga hal tersebut dapat menambah erat hubungan cinta seorang hamba kepada Rabbnya. Bahkan ayat indah-Nya yang mengukir betapa Maha Hebat Sang Ilahi Robbi,

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Luqman [31] : 27)

Awal musim dingin tahun ini pun ternyata lebih mengejutkan dibanding tahun lalu. Orang-orang kafir yang masih meremehkan kebesaranNYA tetap “percaya penuh” dengan keakuratan ramalan cuaca. Toh, ternyata “gigit jari juga”, ramalan cuaca kebanyakan tetap saja tidak tepat, “prediksi” seringkali hanya beda-tipis maknanya dengan “menebak-nebak”. Sejak musim gugur berakhir, suhu yang berubah-ubah mendadak membuat banyak orang mengalami gangguan kesehatan akibat merosotnya daya tahan tubuh. Namun pihak-pihak iklan “travelling” dan banyak penduduk lokal tetap saja “menyelubungi iklan wisatanya dengan kebohongan”, terutama masalah keadaan cuaca. Di forum-forum malah berdebat, merasa suhu udara yang diprediksi “adalah mutlak benar”, naudzubillah…

Alangkah beruntungnya kita sebagai muslim yang mengenal Allah SWT, kita menyadari bahwa ilmu manusia hanya setitik kecil saja jika dibandingkan dengan Dia, Sang Pencipta semesta.

Di Krakow, “si ahli” di–link-link info wisata berprediksi bahwa awal musim dingin tahun ini, suhu masih stabil di atas nol, paling dingin adalah -7 (minus tujuh) derajat celcius saja (padahal “kejutan-kejutan” sudah sering terjadi di setiap tahunnya). Dan pada kenyataannya, “kun fayakun”, hari pertama salju turun, suhu langsung merosot -10 (minus sepuluh), tiga hari diguyur salju—jalanan, jalur kereta, dsb langsung tertimbun si putih salju serta angin kencang melanda, dingin menusuk tulang, dan -20 (minus dua puluh) derajat celsius, naik turun belasan derajat.

Dan korban-korban berjatuhan, rumah sakit pemerintah dan swasta “kebanjiran pasien”. Serta di tengah dingin dan bekunya raga, ternyata hati bisa memanas. Subhanalloh… Contohnya peristiwa antrian di rumah sakit. Memang seringkali para manula (terutama yang dulu hidupnya di zaman komunis) “tidak mau teratur” antri menunggu giliran. Jadi pada saat ada seseorang yang sudah sangat kelelahan menunggu giliran, tentu prihal ulah orang yang malas antri itu, bisa jadi tempat pelampiasan emosi. Si fulan sudah mengingatkan, “pak…bu… antriannya paling belakang di ujung sana…”, namun yg ditegur malah bersikap cuek dan tetap berdiri di tempat terdepan. Tak disangka, ada fulan yang lain dengan muka bertambah merah langsung meninju “yang cuek itu”. Gemuruh kecil terjadi di ruang itu, disorot CCTV pula, kami yang menonton jadi geleng-geleng kepala, “pertarungan sengit” terjadi beberapa menit sebelum akhirnya dilerai petugas keamanan.

Juga peristiwa yang kualami sendiri, gara-gara bertumpuknya salju, jalur kereta api dan bus jadi berubah rute, banyak jadwal perjalanan tertunda. Sehingga calon penumpang harus menanti di tengah kedinginan yang menusuk tulang. Begitu pun saat pulang dari kota tetangga, mengunjungi salah satu sahabatku, dua jam dari Krakow. Kami yang sudah pertama kalinya menanti di tempat paling depan, datang pun paling awal, langsung kecewa saat kereta terlambat, hingga setengah jam berlalu. Sendi-sendi terasa ngilu, apalagi saat setengah jam selanjutnya ternyata kereta baru datang dan orang-orang di belakangku malah berebut-rebut menyerobot, waduuuh… (jadi toh dimana-mana sama, tak hanya di Indonesia yang ada “serobot-serobotan, hehe).

Dan ternyata pemanas di kereta mati, lampu jalan juga mati, jadi perjalanan hanya lambat-pelan, yang tadinya hanya dua jam, malah berubah menjadi tiga setengah jam. Ya Allah… ujian yang lumayan, berjam-jam menahan dingin, semoga hal ini menjadi penggugur dosa kami, harapku dalam hati. Di dalam kereta, aliran air WC-nya mati pula, padahal antrian sudah panjang, semua orang ingin ke kamar kecil. Dan setiba di Krakow kembali, kami langsung ingin menghangatkan badan dengan membeli cappuccino di sebuah kafe, sebelum menuju appartemen. Ternyata di kafe itu, kasir yang sekaligus pelayannya sedang tidak konsentrasi atau memang dia lupa pelajaran berhitung, pembayaran minuman hangat lima puluh kurang tiga puluh zloty seharusnya dua puluh, dia malah mengembalikan 5 grozy (sen) dengan gaya “ngotot”pula. Karena dia “ngotot”, Saya minta panggilkan manajernya, dalam hati, “wah… nyebelin banget nih, bisa ada pelampiasan emosi juga nih, dari tadi gue udah nyabar-nyabarin diri…”, astaghfirulloh… namun karena mungkin si pelayan memang karayawati baru dan segan dengan manajer, dia langsung buru-buru mengembalikan dua puluh zloty-ku. Dan karena sehabis itu dia langsung berlari dari meja kasir, dia lupa memberiku gula dan tisu serta saos yang seharusnya disiapkan. Tentu saja bibirku makin kaku untuk bisa tersenyum.

Untunglah di sisiku ada kekasih nan sholeh, “udahlah mi…ikhlaskan saja. Capek-lelah dan kesalnya menjalani hari ini adalah salah satu potongan kecil ujian kesabaran. Kita masih harus banyak bersyukur, kondisi sehat dan anak-anak bisa tersenyum. Keluarga di Yogya yang kemarin menjadi pengungsi pun, mereka masih dapat tersenyum, masa’ kita tidak? Pengemis di jalanan yang beberapa temannya sudah mati kedinginan—dia masih bisa tersenyum menjalani harinya, masa’ kita tidak bisa…? Hayooo, mi… senyum dan tenanglah… kita pulang ke appartemen yang hangat dengan hati yang nyaman,” benar-benar menenangkan nurani, meredakan amarah dan menjernihkan suasana.

Jangan disangka hanya banjir dan macetnya ibu kota yang menyebabkan panasnya hati, salju dingin dan kebekuan menusuk tulang pun, ternyata dapat menyulut amarah. Sungguh kita hanyalah hamba-Nya yang dhoif, penuh kekhilafan diri dan selalu haus akan didikanNYA. Ampuni kami, ya Allah… Semoga kita senantiasa makin bersabar menjalani hari-hari, dan matahari-bulan-salju-hujan-semuanya adalah anugrah-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang muslim (baik sesuatu itu berupa) kelelahan, penyakit, kegundahan, kesedihan, atau sesuatu yang menyakitkannya sampai duri yang menimpanya kecuali Allah SWT menggugurkan sebagian dosa-dosanya karena musibah tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallohu’alam.
(bidadari_Azzam, Krakow, 6 desember 2010)