Usah Merisaukan Rezeki (1)
Oleh bidadari_Azzam
Tamuku datang dari luar kota, dua jam mengendarai mobil ke Krakow. Sebelum ke appartemen kami, dia dan istrinya menginap di appartemen temanku lainnya, tepat di centrum Krakow, mobil mereka diparkir disana.
Mister X sebut saja begitu, ia adalah orang yang serba bisa, usianya di atas empat puluh lima tahun. Zaman sekolah di Poland kala komunis masih berkuasa, anak-anak lelaki harus bisa menjahit baju dan memasak serta membersihkan rumah. Anak perempuan pun harus bisa menambal ban, mengecat rumah, dan memegang alat pertukangan. Mister X baru setahun menikah dengan seorang wanita Indonesia, ia bilang pada suamiku bahwa wanita Poland biasanya amat materialistis, makanya ia amat bahagia bisa menikahi wanita Indonesia. Padahal di Indonesia juga banyak kok ‘pria atau wanita matre’ alias materialistis akibat budaya kian konsumtif, dan tuntunan hidup yang jauh dari aturan-Nya.
Mister X pandai membuat selai buah sendiri, sayur yang dilembutkan sebagaimana tradisi di Poland, bahkan bisa membuat kue-kue sendiri. Ia ajarkan kreativitas itu kepada istrinya, dan mereka bawa hasil kreasi itu saat mengunjungi kami.
Singkat cerita hari itu, Mister X mengobrol dengan bahasa Inggris yang tak terlalu lancar karena dialek yang berbeda (karena ia lebih ahli bahasa Jerman sebagaimana kebanyakan orang tua di Poland), mengomentari makanan yang disajikan banyak sekali, ia bilang, “Kami tidak mau sering-sering ke Krakow, takut nanti mengganggu kalian…”. Saya dan temanku bilang, “Lhooo, mengganggu kenapa? Kami amat senang jika kalian datang. Kami malah bahagia kalau kamu sering datang ke Krakow….”.
“Nanti uang kalian habis buat beli makanan, bikin masakan buat kami, kasian dong mengganggu badjet.”, serius dan datar suaranya. Sebenarnya budaya orang asia, membicarakan hal ini adalah “rahasia perusahaan” alias urusan Rumah tangga masing-masing, namun mungkin bagi Mister X hal itu sudah biasa diungkapkan di depan temannya yang lain. Maka temanku tentu menjelaskan panjang lebar, “Oooh, tidak, mister. Kami semua amat senang kalau kalian berkunjung ke Krakow. Saya udah biasa menerima tamu dari negara atau kota lain, menginap di tempatku, dan memasak sebisaku, kami senang menjamu teman-teman. Kami tidak hitung-hitungan soal makanan, dan sebagainya, jangan risau, mister….”, saya dan teman lainnya pun tersenyum.
Si mister geleng-geleng kepala, katanya, “Ini makanan banyak-banyak di meja, mahal, bagaimana sih kamu bisa mencukupi makanan dan kebutuhan lainnya, anak kalian kan banyak?!”, lucu juga kalimatnya. Padahal jagoan kami baru tiga---belum selusin atau dua puluh anak seperti tetangga ibuku di tanah air, hehehe, begitulah di Eropa, kebanyakan orang sini menganggap anak-anak sebagai beban, tujuan hidup di dunia untuk bersenang-senang, maka kalau ‘beban anak-anak’ mengganggu kesenangan, tujuan hidup itu tak tercapai.
Saya sempat menceritakan bahwa sore kemarin saat membeli bunga di kedai bunga langgananku, pelayan-pelayan (mereka sudah kenal dengan bayiku yang selalu terlelap dalam kereta bayinya usai menyusui) menyapa bayiku, memainkan hidungnya sesaat seraya memberikan hadiah boneka gajah. Hihihi, biasanya kami membeli beberapa tangkai bunga hanya dengan beberapa recehan zloty (itu pun sering didiskon), sehingga rezeki boneka gajah lucu seharga 10Euro-an itu plus perhatian yang diberikan oleh mereka amat berkesan di hati. Siapakah yang menggerakkan hati pemilik kedai untuk memberikan hadiah tersebut? Subhanalloh!
Saya tak mau berpanjang lebar menjawab si Mister, pondasi iman kita saja sudah berbeda, cahaya islam ada di hatiku, tidak di hatinya, maka tentu saja Saya harus memilah-milah kalimat yang paling mudah dicerna kalau menjelaskan tentang “Rezeki-Nya Maha Luas” hingga tak dapat dituliskan dalam lembaran kertas, jua tak dapat diucapkan dalam runutan kata-kata.
Saya berucap sedikit serius, “Saya sekeluarga tak pernah menghitung detail urusan dana, mister, apalagi buat makanan. Kalau Saya siapkan banyak masakan, apalagi di musim dingin, itu lumrah, sebab Saya yakin ini masakan adalah kesukaan keluarga, jadi pasti habis, yang penting kami di rumah punya komitmen untuk tidak boleh membuang makanan. Hitungan badjet sih ada, namun hitungan dari Tuhanku yang paling sempurna. Coba saja mister hitung, usia empat puluh tahunan anda bisa beli rumah setelah banting tulang dan berhemat ketat, menabung dua puluh tahun lebih. Namun Saya yang ibu rumah tangga sekaligus berkuliah, waktu itu bisa beli rumah juga di usia dua puluh dua tahun, gimana cara hitung badjetnya, kira-kira?”, si mister sedang tidak konsen, hanya “Ohhh”, yang keluar dari lisannya sambil berkerut dahi.
Teman kami lainnya pun bilang, “Orang Indonesia amat senang berbagi, mister. Kami suka berkumpul bersama, temu kangen, dan masak makanan Indonesia biar gak stress kalau lagi rindu kampung halaman… Bagi kami, apa-apa yang diberikan pada orang lain, justru merupakan keberkahan, lho….”, si mister masih ber-Oooh saja, nampaknya dia tak sepakat.
Usai menikmati cemilan dan makan siang di appartemenku itu, teman-teman tersebut barengan denganku menaiki bus ke arah sekolah Azzam karena Saya harus menjemput sulungku pulang sekolah. Kami berpisah di halte bus berlainan.
Setiba di rumah kembali usai menjemput Azzam sekolah, ponselku berdering, temanku yang di centrum itu menelepon, “Yah, halo…say?”, sapaku. Katanya, “Aduh, ada masalah nih….”, bisik-bisiknya. “Lho, kenapa-kenapa nih…?” Teman itu menjelaskan, “Mobil si mister hilang, kan dari kemarin diparkirnya tidak di depan rumahku, dia ngotot mau parkir di ujung jalan…Nah, pas baru mau pulang, eeeh…. Gak ada di parkiran! Sepertinya diangkut petugas dan ditilang, karena letak parkir yang salah. Kamu ada teman Poland yang bisa bantuin gak nih…?”, ujarnya. Suami temanku itu sedang ada rapat penting, demikian pula suamiku, hpnya dimatikan karena sedang meeting.
Saya hanya mencoba bertanya ke seorang teman yang bisa mengangkat teleponku sore itu, biasanya yah kalau ditilang, bisa diambil dengan membayar denda, itu infonya.
Kalau di kota lain, kadang-kadang kami lihat mobil yang ditilang (karena parkirnya di tempat yang salah) hanya dikasih surat tilang yang wajib dibayar. Atau dikunci bannya, lalu jika denda sudah dibayar, ada petugas yang akan membuka kunci tersebut. Namun entahlah dengan mobil si mister, petugas langsung mengangkut mobilnya. Sewaktu temanku menelepon ke petugas berwenang, katanya si mister parkirnya amat fatal, seluruh badan trotoar tertutup mobilnya, jadi mengganggu pejalan kaki dan pemilik rumah di ujung jalan itu, maka mobil itu langsung dibawa petugas.
Si mister paniknya luar biasa---seperti agak stress, temanku menyesalkan kejadian itu, “Sebenarnya masalah sepele, kan…tapi mister X panik banget sampai gak mau duduk dan mondar-mandir kayak setrikaan aja. Mister ngoceh dan ngomel-ngomel tanpa memandang bahwa kita ini teman-temannya, omelannya diulang-ulang ‘yaaa ampun, mahal banget dendanya, Saya gak mau ke Krakow lagi….gak mau lagi! Rugi saya! Rugiiiii! Gila ini…’, yah jelas aja bikin yang lain juga gak enakan…urat-uratnya kelihatan, mukanya merah, seram, Saya juga jadi deg-degan…”, temanku menceritakan hal itu setelah masalahnya selesai. Sore itu menjelang malam, suami teman yang di centrum itu harus segera berangkat projek ke negara tetangga. Jadi yang menemani mister adalah teman kami yang lain, istri si mister menunggu di centrum, sambil bilang “Yaaah, gak apa-apa, dia kan susah dibilangin bahwa harus banyak sedekah…Anggap aja sedekah…”, kalimat yang malah tambah membuat suasana tegang di saat mister ngomel-ngomel.
Ternyata saat teman lain menemani mister X menuju kantor petugas yang menilang itu, sepanjang jalan mister X tidak berhenti mengomel di dalam taksi, sungguh deg-degan hati si teman ini. Omelan mister adalah hal yang sama, dia diberi info oleh petugas bahwa ia harus membayar denda kira-kira dua ratus euro.
Nah, yang diributkannya adalah uang dua ratus euro itu. Padahal, kami tawari bantuan dana, malah ditolaknya. “Rugiii saya! Rugi! Berapa jam itu jatah saya kerja mengumpulkan dua ratus euro, koq terbuang buat bayar tilang!
Padahal parkir kayak gitu kalau di kota saya, boleh koq… bla…bla…bla…”, alhasil setelah mobil bisa diambil kembali, cara menyetir jadi lebih brutal akibat masih emosi dan panik, teman kami mencoba bersabar dan menahan nafas saat mister beberapa kali hampir menabrak mobil lain di jalan raya.
Selalu saja tak berhenti ‘ngedumel’, “ah! My 200 euro, Oh! It’s mafia, it’s bad, Oooh 200 euro…Arrrrgh!”, bagaikan 200 euro itu sudah membuat jiwanya melayang, ia bilang bahwa dirinya pusing sekali, tapi terus saja menyetir dengan mengomeli polisi yang mengambil denda si ‘200 euro’-nya.
Duhai Mister X, semoga Allah ta’ala melimpahkan cahaya islam di hatimu, dengan terangnya cahaya itu, engkau akan memahami bahwa setiap ujian yang datang dari-Nya, pasti diiringi solusi dan rezeki-Nya nan berlipat ganda, kami tak sangsi akan janji-Nya.
Insya Allah bersambung…
(bidadari_Azzam, Salam ukhuwah dari Krakow, jelang subuh 8 Muharram 1433 H)
Lainnya (Arsip)
- Menempuh Hidup Baru
Mamah Hikmatussa'adah — Jumat, 09/12/2011 08:25 WIB - Blame Culture
Syaifoel Hardy — Kamis, 08/12/2011 13:49 WIB - Kasihmu Untukku
Silvani — Kamis, 08/12/2011 07:50 WIB - Coba Bandingkan
Dinar Zul Akbar — Rabu, 07/12/2011 13:18 WIB - Tak Ingin Menggugat Allah
Kiptiah — Rabu, 07/12/2011 06:16 WIB
Oase Iman
Terkait
- Serangan Bom Kembali Guncang Ibukota Irak 14 Orang Tewas
- Tolak Larangan Mengemudi Wanita Saudi Alami Kecelakaan Mobil Fatal
- Bom Mobil Tewaskan 8 Orang di Irak utara
- Test Drive Sertakan Wanita Berjilbab Distributor BMW Turki Batalkan Kerjasama
- Serangan Bom Mobil di Irak Menewaskan 15 Orang
- Usah Merisaukan Rezeki 2
- Turki Mulai Beri Sanksi Terhadap Perancis Batalkan Pembelian 130 Mobil Renault
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
Satrio Selamat dari Jantung Bocor
Dari semenjak lahir Satrio, 21 bulan, sudah menderita jantung bocor. Tubuhnya semakin membiru, bapaknya terkendala administrasi untuk mengurus Jamkesmas. Melalui bantuan LKC Dompet Dhuafa dan PT PPA…



