Usah Merisaukan Rezeki (2)

Sabtu, 10/12/2011 10:09 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh bidadari_Azzam

Setelah urusan administrasi mobil tersebut beres, Mister menjemput Istrinya di Centrum, dan mereka berpamitan dengan situasi yang kurang mengenakkan. “Padahal, Suamiku itu mau beli celana baru di Krakow, tapi milihnya lama banget, karena memang belum menemukan celana yang diinginkannya. Eh, uangnya malah lenyap disuruh bayar tilang. Kelamaan sih nyimpennya yah, hehehe,” ujar teman yang merupakan Istri dari Si Mister.

Kami yang jauh lebih muda darinya hanya bisa berucap bahwa pembelajaran diri dan penataan emosi ternyata tak pandang usia, “Perhitungan rezeki-Nya amat sempurna. Dua teman kita lainnya malah dapat celana dan kaos baru gratis karena dapat oleh-oleh dari Si Fulan. Sedangkan Mister yang cermat perhitungan badjetnya, malah gak jadi deh dapat celana baru. Sebenarnya kami pernah berada dalam kondisi lebih sulit dari itu, jeng. Sewaktu kami akan pindah dari Bangkok dan sudah check-out appartemen, ternyata bayiku meninggal di rahim, maka Saya harus tinggal di rumah sakit, bayangkanlah… urusan dua ratus Euro bukanlah masalah besar kalau dibandingkan dengan kejadian itu kan?” ujarku. Lagi pula, masih amat beruntung cuma ditilang (dan memang karena kesalahan memarkir sendiri), bukan dibakar atau dirampok orang lain sebagaimana pengalaman brother kita dari Afrika Selatan.

Temanku menimpali, “Yah sama, kan aku pernah cerita bahwa Suamiku pernah batal terbang gara-gara ada badai salju, lalu harus menginap di Bandara, trus pernah pula sudah sampai ke Indonesia, malah bagasinya masih di Jerman, bayangkanlah cuma punya baju di badan…Kita sudah sering punya masalah yang lebih besar dari itu, makanya kemarin kita ajak dia supaya tenang, sabar, eeeh…malah dia menularkan kepanikan sampai situasi jadi amat menegangkan…” dan teman kami yang Istri Si Mister memang cukup bijak, “Makanya Tuhan belum ngasih anak buat kami yah. Berarti belum siap buat menghadapi masalah yang lebih besar lagi, hehehe…” katanya. Dan ia memang wanita yang sabar, masih setia dengan Sang Mister meski amat berbeda bahasa, pemikiran dan tradisi lainnya.

Kami teringat tukang jual buku di dekat kampus dulu yang tak lain adalah senior di kala kuliah. Dengan mendistribusikan buku dan majalah, kerja multitalenta lainnya di tengah padatnya jadwal kuliah serta menerima secuil bea siswa, ia bisa lulus dengan baik bahkan turut membantu menyekolahkan adik-adiknya di desa. Malah dengan keuntungan dagang yang tak seberapa, ia merupakan donatur rutin musholla di dekat kos-kosannya. Allah SWT Sang Pemberi Kecukupan Rezeki baginya.

Saya teringat akan dua sahabatku di Negeri Jiran, yang satu usai melalui masa kritis karena terapi leukemia bagi bayinya, yang satu lagi terpisah dengan Suami hingga sepuluh tahun lamanya akibat tuduhan terorisme maka ia harus menjadi single-parent bagi kelima buah hatinya. Bahkan ketika anak sulungnya baru lulus sekolah, ujian kesabaran datang lagi, Allah ta’ala mengambil kembali sang amanah tersebut.

Allah ta’ala mengingatkan kita, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 1-3)

Pernah ada teman yang menanyakan kepadanya, “Bagaimana Ummu bisa membayar ratusan juta rupiah untuk kimoterapi ini padahal gaji Suamimu tak seberapa?” Juga kepada sohib yang satu lagi, “Bagaimana kamu menafkahi anak-anakmu hanya dengan menjadi Guru mengaji di Pesantren, hingga mereka bisa bersekolah, koq bisa sih?” dan pertanyaan ‘reseh’ sejenis itu.

Dan kedua Ibu Sholihat itu punya jawaban sama, “Allah Maha Kaya, Dia-lah yang mencukupkan rezeki kami. Allah Sang Pemberi solusi atas semua problema yang kami hadapi, maka kami bersyukur bahwa Allah ta’ala selalu menjaga keluarga kami untuk menegakkan kalimat tauhid di bumi-Nya ini…” Subhanalloh… hitungan rezeki tak bisa diotak-atik dengan kalkulator manusia, tak dapat dianalisa dengan mata kita, namun Allah ta’ala punya perhitungan-Nya sendiri, mata hati kita-lah yang mengakui kehebatan hitungan-Nya, insya Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Seorang Mukmin meskipun hidupnya penuh ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat, dan musibah yang ada terasa amat nikmat karena ia tahu bahwa Allah ta’ala selalu melimpahkan solusi pendamping problema, dan memberikan rezeki berlipat ganda di kala cobaan datang tak terduga.

Sering pula Allah ta’ala menyelamatkan kita dari makan rezeki yang tidak halal. Misalnya kejadian tumpahnya sup oleh anak dari Sisterku, sup tersebut diberi oleh tetangga mereka yang non Muslim. Ternyata isi sup adalah daging angsa bercampur pork-cincang, tetangganya menginfokan hal tersebut ketika berjumpa keesokan harinya. Dan sang Sister malah bersyukur, “Alhamdulillah ya Allah… untung kami tak memakan sup itu, Alhamdulillah sup itu malah tumpah”.

Atau malah bisa saja rezeki yang tadinya sudah akan masuk ke tenggorokan, ternyata bukan hak kita. Saya pernah menyiapkan nasi panas lengkap dengan lauk-pauk dan sambal favorit kangmasku. Namun ketika ia pulang dari kantor, badannya lemas, demam dan merasa harus segera berbaring. Ternyata nasi panas komplet memang bukan rezekinya malam itu, ia tak dapat menikmatinya, lidah pahit dan amat lemas. Maka ia meminta dibuatkan minuman jahe dan susu hangat, kemudian segera tidur agar cepat sembuh.

Demikian pula kejadian sore tadi, pak tua di halte bus sedang mabuk, seraya membeli roti bundar. Dalam keadaan mabuk, ia pegang rotinya, lalu berpapasan dengan temannya. Si Teman Pak tua membawa anjing yang sangat kumal, anjing itu berjongkok. Saya perhatikan momen tersebut, tentu saya rekam dalam ingatan, ketika Pak Tua mengobrol dengan temannya sambil ingin menggigit rotinya, tiba-tiba ia tersedak, rotinya jatuh tanpa plastik. Lebih malang lagi, anjing temannya pas sedang pipis di atas roti yang jatuh itu. (masih untung petugas penilang tidak memergoki Si Anjing, tuh…) Pak Tua pun malah mengomeli hewan tersebut. Mungkin bagi orang lain di sekitar halte, kejadian ini menjijikkan. Mereka menjauhi Pak Tua dan temannya. Dan bagi diriku, peristiwa itu pasti ada hikmah-Nya. Allah SWT sedang mendidikku dan menambahkan pemahaman bahwa rezeki itu selalu diatur-Nya dengan apik dan indah.

Masih ingat pula akan pengalaman Mak Salamah, ketika anaknya sudah empat, kemudian hamil lagi yang kelima dan keenam. Sebetulnya, ia pernah menangis, air mata kebingungan karena merisaukan pembiayaan hidup anak-anaknya. Kemudian Ayah dan Pamannya yang bijak menasehati, “Kamu pikir bahwa suamimu dan dirimu yah yang memberi rezeki? Ya tentu saja tak cukup! Berpikirlah bahwa Allah ta’ala yang mengatur segala urusan, bahwa rezeki, musibah, jodoh dan maut berada dalam genggaman-Nya. Kenapa khawatir, semuanya ada jaminan dari Allah ta’ala!” nasehat itu ternyata menambah keimanan pada dirinya. Mak Salamah pun makin doyan bersedekah, meski ketika urusan finansial menyempit, karena ceramah yang ia dengar, “Bantulah saudaramu, maka Allah SWT selalu membantumu,” ia camkan dalam hati bahwa jika memudahkan urusan saudara, maka Allah ta’ala akan memberikan kemudahan baginya pula, dan hal itu memang terbukti. Sekian tahun ketika anak-anaknya sudah dewasa, ternyata selalu ada solusi atas problema hidup rumah tangga mereka.

Keenam anaknya tak kekurangan makan, plus susu setiap sarapan malah, bisa les tambahan kalau usai jam sekolah pula. Kalau anak-anaknya menerima hadiah atas prestasi di sekolah, itu bonus tambahan kebahagiaan bagi Mak dan suaminya. Hingga anak yang kelima mengajak orang tuanya berjalan-jalan ke ibu kota, ke pulau lain, bahkan ke luar negeri sebagai hadiah saat Mak dan suaminya menikmati masa pensiun. Siapakah yang Maha Mengatur rezeki berlimpah itu? Allahu Akbar! Mak Salamah masih sering menangis dalam sujudnya, “Ya Allah… ternyata Engkau memang Maha Penjamin rezeki, ampuni hamba yang dahulu pernah meragukan pertolongan-Mu…”

Mari menjaga diri untuk tetap optimis, saudaraku. Apapun keadaan kita sekarang, inilah rezeki-Nya yang harus disyukuri. Ber-azzam dan berniat menggapai target yang lebih banyak tentu harus kita barengi dengan ikhtiar yang optimal, namun selanjutnya kita tidak perlu gundah pun risau akan hasil akhir, Allah ta’ala adalah sebaik-baik pemberi ganjaran.

Wallahu’alam bisshowab.

(bidadari_Azzam, Salam ukhuwah dari Krakow, jelang Subuh 9 Muharram 1433 H)
Penulis adalah koordinator muslimah-Islamic Centre Krakow, Poland.

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

Satrio Selamat dari Jantung Bocor

Dari semenjak lahir Satrio, 21 bulan, sudah menderita jantung bocor. Tubuhnya semakin membiru, bapaknya terkendala administrasi untuk mengurus Jamkesmas. Melalui bantuan LKC Dompet Dhuafa dan PT PPA…


Wah Sarung Abak Bicara IB
Tentu sudah penasaran kita melihat  Aksi para bocah Sahibul Menar Beraksi yang ikut andil dalam membedah  langsung perbankan syariah. Hanya tinggal menunggu hari rasa penasa...

Wow, iB Hadir di Film Negeri 5 Menara
Film Negeri 5 Menara merupakan karya anak bangsa yang akan mulai tayang di bioskop-bioskop tanah air mulai 1 Maret 2012 mendatang. Film yang diproduksi oleh KG Production ini ...

BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...


Peluang