Cara Mati

Ashif Aminulloh Fathnan – Rabu, 24 Jumadil Akhir 1430 H / 17 Juni 2009 05:30 WIB

Adakah cara mati seseorang berbeda dengan orang kebanyakan? Adakah cara mati yang diluar nalar manusia. Misalkan mati tanpa menghembuskan nafas terakhir, atau mati dengan nafas tetap berhembus. Atau mungkin ada orang yang mati namun ia masih berbincang-bincang. Adakah persepsi kita tentang mati berbeda-beda?

Saya tidak hendak bicara tentang tahayul, bahkan ini adalah realita. Pada dasarnya pandangan kita tentang mati adalah sama, orang mati ya tidak bernafas, tidak bergerak dan tidak pula bicara. Setiap orang mati dalam keadaan yang sama, meninggalkan kegetiran dalam sebentuk jasad, dan onggokan daging yang tak lagi memiliki ciri kehidupan. Itulah mati, algoritmanya tidak berubah sepanjang masa, tua muda, kaya miskin, aktifis atau pengangguran, semua mengalami kematian dalam urutan yang sama.

Secara kedokteran tradisional mati dapat didefinisikan dengan sederhana yaitu berhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan : sistem syaraf pusat, jantung dan paru, secara permanent (permanent cessation of life). Ini yang disebut sebagai mati klinis atau mati somatis. Seorang yang mati dengan seluruh sistem pernafasan dan jantung berhenti belum dinamakan mati secara final, selama sistem syaraf pusatnya masih bekerja.

Saya sedikit meringis ketika mengetahui betapa peristiwa yang sebenarnya sudah biasa dan sering kita temui, ternyata begitu kompleks dan rumit. Pada dasarnya saya, anda dan orang kebanyakan berfikir bahwa mati adalah hilangnya nyawa dari jasad. Begitulah, nyawa menjadi kambing hitam akan keberadaan hidup manusia, namun dimana dan seperti apa nyawa adalah belum pernah terbukti secara ilmiah. Fakta yang sungguh menyakitkan. Sejauh dan sehebat ilmu pengetahuan teknologi modern manusia hari ini, ternyata belum bisa memformulasikan nyawa.

Mungkin sudah ratusan penelitian yang dilakukan untuk menemukan ”bentuk’ nyawa sesungguhnya. Namun, hingga hari ini tetap tak ada claim dan paten tentang siapa penemu nyawa. Mungkin berbagai detektor gelombang dan sensor sinyal telah dibuat tetap saja roh dan nyawa menjadi onggokan kata dalam sampah metafisika.

Namun, marilah kita renungkan sejenak, pada dasarnya kita memang memiliki definisi yang sama tentang kematian. Ketika mengetahui seorang dalam kondisi mati, kita akan berfikir tentang kondisi tidak bergerak, tidak bernafas, tidak berpikir, tidak menanggapi, yang semua ini merupakan kondisi akhir dari hidup manusia. Inilah pandangan fundamental manusia tentang mati. Bukan mati otak, mati somatic atau mati klinis.

Kita bisa buktikan ini di sekitar kita. Seorang mahasiswa dengan kendaraan bermotor mengalami kecelakaan dan terluka di bagian kepala akhirnya mati karena kehabisan darah. Seorang pengusaha kaya sekarat di atas ranjang rumah sakit mewah akhirnya mati karena kanker ganas menggerogoti paru-parunya. Seorang ibu muda melepaskan seluruh kekuatannya saat melahirkan anak pertamanya akhirnya mati karena pendarahan hebat. Saat membaca ketiga kondisi mati ini kita akan terfikir tentang mati yang sama. Hingga kini dan selanjutnya, definisi mati pada diri kita tak pernah berubah, pada siapa saja dimana saja, mati merupakan kondisi tidak bergerak, tidak bernafas, tidak berpikir, tidak menanggapi, yang semua ini merupakan kondisi akhir dari hidup manusia.

Tak ada lagi manusia bicara setelah mati, tak ada lagi manusia bergerak, bernafas, semua ciri kehidupan telah usai setelah mati. Jasad utuh tiada guna, meski seorang mati dalam keadaan segar bugar, misalkan mati terkena racun, atau mati karena kehabisan nafas. Seluruh bagian tubuh yang masih segar menjadi tanpa arti, jantung, paru-paru, mata, karena hilangnya satu komponen : nyawa, maka mereka tak lagi berarti. Meskipun sel-sel tubuh masih hidup, untuk beberapa jam, bahkan sel-sel hati masih hidup hingga beberapa hari, adalah sia-sia karena kondisi mati sudah ‘on’.

Mati memutus cerita indah dunia, meski mahasiswa itu baru saja mendapat cumlaude, meski pengusaha itu baru memenangkan sebuah transaksi besar, meski ibu muda itu mendapatkan cinta tulus seorang lelaki idaman, tetap saja, mati adalah akhir cerita hidup. Siapapun, dimanapun, ia tetap sama. Algoritmanya tidak berubah sepanjang masa.

Setelah mati, jasad dikubur, keluarga meminta maaf, harta warisan dibagi dan habislah perkara. Setiap orang, tak melihat apakah dia pejabat, rakyat, aktifis mahasiswa atau pengangguran, semua mengalami kondisi mati dalam runtun yang sama.

Jika memang demikian, lalu apa yang membedakan manusia? Apakah gerangan yang membedakan cara mati kita dengan orang lain?

Satu hal yang membedakan cara mati manusia, adalah cara hidupnya. Waktu manusia menyusun cerita, itulah hidup. Saat nafas, gerak, ucapan, pikiran masih berfungsi, itulah waktu yang diberikan pada kita. Cara hidup inilah yang menentukan cara mati kita. Bagaimana kita menggunakan nafas, gerak, ucapan, pikiran, saat semua itu berfungsi, akan menentukan cara mati kita, apakah baik atau buruk.

Mahasiswa itu mungkin mati dalam kondisi baik, karena setelah mati ia dikunjungi ratusan teman, sahabat, keluarga yang ingin melayat di rumahnya. Ia kecelakaan saat pulang pengajian dan baru saja mengakhiri amanah sebagai ketua lembaga dakwah kampus dengan predikat sangat baik. Joni sang pengusaha, layatannya sepi pengunjung, setelah kematiannya hartanya jadi rebutan, ada pula komite yang menduga korupsi di perusahaannya, belum lagi tanggungan utang yang ternyata ia simpan diam-diam. Sementara Rani, ibu muda itu meninggal dengan tersenyum. Senyumnya ditangisi oleh suami yang tabah dan bayi perempuan yang cantik rupawan.

Syeikh Ahmad Yasin, diantar ribuan orang saat jasadnya dibawa ke tanah peraduan. Namanya dikenang, jasanya dihargai, dan hidupnya menjadi inspirasi banyak orang. Hasan Al-Banna, meski meninggal dengan sangat cepat dan mengagetkan, banyak orang yang turut menangis di sela sholat ghoibnya. Namanya tak pernah dilupakan, pemikirannya terus mengalir, dan banyak pula manusia yang berubah dengan membaca buku dan mengikuti pemikirannya. Dan Muhammad, seorang nabi paling sabar, meninggal dengan mengingat umatnya, ‘ummati… ummati…’ Shalawat dan salam bagi Muhammad, nabi yang tak pernah merasakan enaknya tidur dengan bantal dan kasur.

Kamal AtTaturk, Ariel Sharon, Lenin, mereka meninggal dengan kehinaan. Banyak cacian dan makian selama hidup mereka, dan saat mati, lebih banyak lagi yang bersyukur dan berdoa supaya orang-orang seperti mereka tidak hidup kembali.

Bukankah cara mati kita ternyata berbeda-beda. Cara mati mana yang anda pilih? Jika anda mulai berfikir tentang cara mati, mulai sekarang, berfikirlah tentang cara hidup. Sebuah hadist Nabi cukup untuk mengingatkan kita bersama.

“Orang yang cerdas adalah orang yang menjaga dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah mati”

Wallahua’lam bisshowwab

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus