Di Balik Sorban dan Jubah

Suatu saat selepas perang, seperti biasa Rasululloh mengumpulkan ‘bala tentaranya’. Beliau duduk di depan barisan para mujahidin dan ditemani seorang panglima perang yang berdiri gagah di sampingnya. Sejurus kemudian, sang panglima mengumumkan para pejuang yang gugur di medan laga.

“Fulan bin Fulan, ” seru panglima.

“Syahid, ” jawab Rasululloh.

“Allohu Akbar, ” gema mujahidin.

Beberapa sahabat telah disebutkan. Giliran berikutnya,

“Fulan bin Fulan, ” lengking sang panglima.

“Tidak syahid, ” ketus Baginda.

“Kenapa begitu wahai Kekasih Alloh. Aku melihat sendiri dengan jelas bahwa si Fulan gugur tertembus pedang musuh di medan laga, ” bela seorang pejuang agama Alloh.

“Betul. Dia memang menemui ajalnya saat berperang. Tapi tahukah kalian bahwa dia mati dengan mengutil baju perang hasil rampasan. Tidak ada surga bagi seseorang yang berbuat curang, ” jelas Nabi SAW.

Pengumuman dilanjutkan,

“Fulan bin Fulan, ” teriak panglima.

“Tidak syahid, ” ujar Al-Amin.

“Apa kami tidak salah dengar ya, Rasul. Dia tertembus pedang musuh saat berhadapan. Dan dia tidak membawa harta rampasan seperti yang menimpa sahabat yang lain, ” protes para mujahid.

“Itulah yang kalian tahu. Dia memang tertembus pedang dan gugur. Tapi tahukah kalian bahwa dia secara sengaja menghunuskan badannya ke hadapan mata pedang musuh yang siap menghujam dadanya. Jadi, dia mati sebab ulahnya sendiri karena tiada kesabaran dalam menahan rasa sakit, ” papar Rasululloh.

***

Suatu waktu di zaman tabi’in, hiduplah seorang syeikh dengan karisma yang begitu digandrungi oleh penduduk negeri tersebut. Jubahnya tebal lagi panjang. Sorbannya hampir menyentuh tanah. Jenggotnya menandakan kesalehan yang tinggi dalam dirinya.

Semua orang yang menemuinya tidak akan melewatkan telapak tangannya. Bahkan saking berjubelnya penduduk yang berebut untuk menjamahnya, banyak yang rela meski hanya kebagian kaki sang syeikh.

Persitiwa-peristiwa tersebut tidak luput dari pantauan pemuda ‘alim yang kelak menjadi seorang imam. Terpesona dengan hiruk-pikuk warga yang selalu menyambut setiap kehadiran sang syeokh, ia pun mulai melancarkan strategi guna mencari tahu ibadah macam apa yang telah dikerjakan sang syeikh hingga semua orang mengelu-elukannya.

Suatu siang bolong, pemuda ‘alim menguntit perjalanan sang syeikh, tentunya tanpa sepengetahuaan sang syeikh. Setelah sekian lama mengikuti perjalanan yang diharapkannya akan mendapatkan ilmu yang sangat berharga, tibala sang syeikh di sebuah toko roti yang didapati tiada seorang pun yang menjaganya. Setelah melihat situasi dan memastikannya aman, sang syeikh mengambil sebuah roti ukuran besar kemudian memasukkan ke dalam jubahnya tanpa meninggalkan sepeser uang pun di kedai roti tersebut. Si calon imam terperanjat mengetahui gerak-gerik sang syeikh. “Jelas itu merupakan tindak pidana dengan modus mencuri, ” jeritnya dalam hati. Penasaran dengan sikap sang syeikh, pemuda ‘alim kembali mengekor di belakangnya dengan tanda tanya besar di kepala.

Menyusuri lorong-lorong perumahan yang sempit lagi kumuh, sampailah sang syeikh di suatu perkampungan padat penduduk. Mengetahui sang idola muncul, serta merta berbondong-bondong warga mengerumuninya. Pemuda ‘alim masih memantau dari kejauhan tanpa mengedip sekalipun. Terperangahlah si pemuda ‘alim melihat sang syeikh membagi-bagikan roti hasil curiannya kepada para warga yang berdatangan meminta ‘berkah’ kepadanya tanpa disisakan untuk dirinya sendiri. “Ini tidak bisa dibenarkan, ” gumam pemuda ‘alim.

Dengan mengumpulkan keberanian, pemuda ‘alim mendekati sang syeikh dan melancarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal hatinya.

“Wahai Syeikh, aku melihat dirimu mencuri roti yang kemudian kau bagikan hasil curianmu itu kepada wakyat yang tiada mengetahuinya, ” hardik pemuda ‘alim.

“Ketahuilah hai pemuda, Alloh hanya membalas perbuatan buruk sebanyak ia melakukan perbuatan buruk tersebut. Sementara Dia akan membalas sepuluh kali lipat setiap perbuatan baik yang kita kerjakan. Aku mencuri roti hanya sekali, maka Alloh akan membalasku hanya sekali pula. Kemudian aku berbuat kebaikan dengan membagikannya, maka aku mendapat sepuluh kebaikan. Jadi, aku masih punya sembilan kebaikan, bukan?” jelas sang syeikh.

Pemuda ‘alim hanya bisa mengernyitkan dahi mendengar penjelasan sang syeikh sementara dalam dadanya bergemuruh atas penyesalannya yang telah memberi cap orang itu memiliki kesalehan yang tinggi padahal sangat tidak pantas.

***

Di kampungku hiduplah seorang yang sangat dimuliakan oleh sebagian besar penduduk karena penampilannya yang menggambarkan seorang yang alim. Berbaju taqwa, berkopiah putih, berkain sarung serta berselempang sorban di pundaknya. Tak jarang kumelihatnya menenteng kitab dengan takzim di dadanya. Masyarakat selau memanggilnya Ustadz Asrul (nama samaran).

Setiap kali sholat berjamaah, dia selalu menempati posisi yang diperuntukkan bagi imam. Semua itu atas persetujuan sebagian jamaah. Harus kuakui, di musholla kampungku mengalami ‘krisis’ pemimpin sholat berjamaah yang sekaligus bisa memimpin zikir setelah sholat dengan keras. Sebaik dan setinggi apa pun pemahaman seseorang terhadap agama tapi jika ‘tidak bisa’ memimpin zikir dengan keras selesai sholat, maka ia bukan pilihan utama.

Jamaah lebih memilih sang ustadz yang berpembawaan kalem dan nampak saleh ini ketimbang pemuda yang nyata-nyata hafal beberapa juz Al-Quran. Awalnya, aku percaya dengan pilihan para jamaah yang didominasi kaum tua. Namun, begitu mengetahui kualitas bacaan dan hafalan yang dimiliki sang ustadz, aku dan semua teman seangkatanku merasa ‘ilfeel’.

“Di mana letak keustadzan ini orang? Kok, bisa sih, warga memercayai dia sebagai imam? Apa yang telah dia lakukan sehingga orang-orang begitu mengagungkannya?” serang temanku.

“Wah, rasanya baru kemarin orangtuaku ditipu olehnya ketika menikahkan kakak perempuanku. Rasanya semua anak-anaknya tidak ada yang berperilaku mencerminkan keIslaman. Bahkan anak lelaki satu-satunya mati akibat OD dan seorang anak perempuannya menikah dini karena perutnya terlihat buncit lebih dulu, ” kesal temanku yang lain.

“Lantas kenapa sekarang dia bisa seperti ini? Menjadi imam sholat berjamaah, menyembelih hewan kurban dan seabrek kegiatan agama lain. Kalau saja bacaan Al-Quran-nya benar dan bagus serta hafalannya lumayan banyak, aku masih bisa menerima. Tapi ini…….???? Di mana otak para jamaah itu?” keluh kawanku satunya.

***

“Kita begitu mudah tertipu dengan kemasan, ” ungkap seorang ustadz bergelar doktor dalam ceramahnya.

Di cerita pertama, bahkan para sahabat pun bisa tertipu dengan kematian dua orang yang oleh Nabi SAW tidak diberikan gelar syahid. Tertipu dengan penampilannya di medan jihad.

Dicerita kedua, penduduk negeri itu mudah ‘ditaklukkan’ mata hatinya dengan kebaikan semu yang diberikan oleh sang syeikh. Padahal jelas-jelas tidak ada dalam aturan Islam yang membolehkan perbuatan baik dilakukan atas dasar perbuatan jahat terlebih dahulu. Tidak ada cerita Robin Hood dalam ajaran Islam. Tidak benar kisah Sunan Kali Jaga yang mencuri gudang makanan ayahnya untuk dibagikan kepada rakyat Demak. Bohong besar jika pahlawan Betawi Si Pitung mencuri barang kaum etnis Tionghoa kemudian membagikannya kepada rakyat jelata. Dalam Islam, jika ingin berbuat baik maka jalannya harus baik. Titik.

Dicerita ketiga, lagi-lagi penampilan seseorang mampu menyihir warga yang melihatnya. Berbekal kain sarung, baju taqwa, kopiah putih dan kitab yang selalu di dadanya, serta merta orang-orang memanggilnya ustadz. Meskipun bacaan Al-Qurannya kacau balau, tajwid yang tidak jelas, huruf yang entah keluar dari bagian mulut sebelah mana dan hafalan yang setara dengan anak-anak SDIT tingkat I. Belum lagi pengetahuan lain tentang Islam.

Pertanyaannya, salah siapakah ini? Kita yang bodoh atau orang-orang itu yang pandai melihat peluang?

“Tiada jalan lain kecuali selalu mengaji dan mengaji agar kemurnian agama ini terjaga hingga terselamatkanlah masyarakat, ” demikian kata sang doktor menutup kajiannya.

=Aris Hendarwan=