Gunung Meletus dan Al-Qur’an

Fatimah Ali Salsabila – Senin, 25 Zulqa'dah 1431 H / 1 November 2010 07:36 WIB

Masih segar dalam ingatan kita tentang meletusnya kembali gunung merapi di Jogjakarta. Dan bahkan sampai saat ini gunung merapi masih memuntahkan awan panasnya. Astaghfirullah…korban yang berjatuhan pun tak sedikit jumlahnya. Ditambah lagi kisah mbah maridjan yang turut menjadi korban awan panas tersebut. Tercatat sekitar 30-an jumlah korban Merapi di Kinahrejo, termasuk editor senior VIVAnews.com Yuniawan Wahyu Nugroho dan relawan PMI Sleman.

Penulis tidak akan membahas kisah mbah Maridjan ataupun kematiannya. Hal yang penulis sempat terpikir akan kejadian gunung merapi meletus ini adalah Al-Qur’an. Penulis teringat untaian kalimat yang pernah di dengar bahwa jika sekiranya Al-Qur’an diturunkan kepada gunung maka gunung tersebut tak sanggup memikul amanah tersebut, dan Al-Qur’an pun diamanahkan pada yang namanya manusia, makhluk Alloh yang sempurna bahkan setan pun disuruh bersujud pada nabi Adam walau akhirnya membangkangnya dan masuklah setan kedalam neraka.

Ya Alloh ya Rabbi…penulis membayangkan kejadian di Jogjakarta, ya Alloh…gunung itu baru “batuk” belum meletus apalagi terpecah belah. Begitu mulianya Al-Qur’an bahkan saking mulianya, gunung pun tak sanggup dengan amanah tersebut. Subhanalloh…sungguh beruntung yang namanya manusia, diberi amanah Al-Qur’an ini…

Ternyata penulis tak sengaja temukan, untaian kalimat tersebut berasal dari Al-Qur’an. Ada dalam Al-Qur’an surat Al Hasyr ayat 21.

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir .

Teringat perkataan seorang ustadzah, Al-Qur’an merupakan kitab suci yang paling mulia maka sudah seharusnya lah manusia yang membacanya harus memakai adab-adab dalam membaca Al-Qur’an, jangan disamakan seperti membaca koran, majalah dan buku-buku lainnya yang kadang bisa dibaca sambil tiduran atau makan cemilan.

Membaca Al-Qur’an dalam keadaan sempurna, suci dari najis dan duduk dengan sopan dan tenang. Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan "Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu akan menjadi syafa’at di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya)." (HR. Muslim).

Subhanalloh…sungguh sangat luar biasa, maka sudah sepantasnyalah kita manusia yang diberi amanah ini berusaha dengan sungguh-sungguh mentadabburi Al-Qur’an, setahap demi setahap. Jika belum bisa membaca Al-Qur’an belajarlah, jika belum lancar perbanyaklah membaca Al-Qur’an, bukankah kebiasaan baik itu memang harus dibiasakan. Sebagaimana sabda Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: "Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).

Al-Qur’an memberi petunjuk kepada umat manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya. Seperti yang saya kutip dalam buku bersama kereta dakwah dinyatakan bahwa ada tiga pilar perjalanan agar manusia selamat dalam hidupnya dunia dan akhirat, salah satunya adalah memiliki pedoman atau petunjuk atau peta perjalanan itu yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah…subhanalloh…

"Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu akan menjadi syafa’at di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya)." (HR. Muslim).

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus