Hati-hati Menjaga Lisan

Rahmi – Senin, 20 Zulhijjah 1430 H / 7 Desember 2009 08:37 WIB

Ada satu masalah yang mendera sebuah keluarga. Masalah yang kemudian diketahui oleh keluarga besar mereka. Tahun berganti masalah dalam keluarga tersebut belum terpecahkan.

Suatu ketika salah satu saudara mereka menikahkan anaknya. Kemudian ibu dan anak dari keluarga itu pergi menghadiri undangan tersebut bersama dengan saudara-saudara mereka yang lain. Sang anak terpisah dari ibunya, karena ibunya berada di mobil yang berbeda dengannya.

Di tengah perjalanan, sang anak mendapat cercaan dari sepupunya. Secara tidak langsung si sepupu mengatakan hal-hal yang menjelek-jelekkan keluarganya. Mengatakan ini dan itu yang menurut si anak tidak seharusnya dikatakan. Sang anak merasa sangat terpukul mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sepupunya. Ia merasa tanpa dikatakan pun keluarga besar mereka tahu permasalahan keluarganya, janganlah pula ditambah-tambahi dengan komentar-komentar yang cukup menyakitkan.
Setitik airmatanya mengalir. Ingin rasanya dia pergi, tapi sekarang ia sedang dalam perjalanan, dan itu tak mungkin. Saat itu lirih hatinya berkata:

“Ya Allah, Engkau tahu bagaimana terlukanya hati ini mendengar komentar-komentarnya. Andai saja Ya Alllah, andai saja ia merasakan apa yang aku dan keluargaku rasakan. Andai ia mengalami masalah yang sama dengan keluargaku, Ya Allah… Mungkin ia tidak akan berkata seperti itu”

Kemudian ia hapus airmatanya, yang walaupun ia mencoba menahannya tetap saja keluar. Ia tak ingin jika Sang Ibu melihatnya menangis. Tak mau menambah lagi beban Ibunya. Sepanjang perjalanan ia mencoba menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar kata-kata sepupunya. Peristiwa dalam perjalanan itu ia simpan sendiri.

Tahun berganti, si anak telah lupa kejadian itu. Sepupunya pun sekarang telah berkeluarga. Hingga satu ketika ia kedatangan sepupunya yang lain, yang tak lain adalah adik dari sepupunya tersebut. Ia mengeluhkan pada si anak kelakuan kakaknya yang dinilainya terlalu kelewat batas. Ternyata saat ini sang sepupu mendapat masalah yang sama dengan masalah yang dialami keluarganya bertahun-tahun yang lalu.

Si anak teringat akan kejadian beberapa tahun silam. Ia pun teringat kembali jeritan hatinya saat itu. Ia merenung, apakah masalah yang menimpa sepupunya adalah karena doanya waktu itu? Doa yang tak sengaja terlantun dari bibirnya…

“Ya Allah, aku tidak benar-benar menginginkan masalah yang ada pada keluargaku dialami juga oleh saudara-saudaraku yang lain. Aku tidak benar-benar berniat mendoakan sepupuku seperti itu, sama sekali tidak Ya Allah… Saat itu aku hanya menyuarakan jerit hatiku. Dan sama sekali tak menginginkan hal itu akan terwujud…” ucap si anak lirih.

* * *

Mungkin kita telah lupa apa yang pernah kita lakukan dan apa yang pernah kita ucapkan. Mungkin perbuatan kita beberapa waktu yang lalu telah melukai banyak pihak. Mungkin saja diluar sana ada banyak “hati” yang begitu jelas merekam setiap kebaikan dan keburukan yang kita lakukan.

Cobalah bertanya pada hati masing-masing, berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan? Berapa banyak pula keburukan yang telah kita lakukan? Bahkan mungkin saja keburukan yang kita lakukan lebih banyak dari kebaikan yang telah kita lakukan. Hingga saking banyaknya kita tak bisa menghitung berapa hati yang telah kita lukai. Boleh jadi masalah atau musibah yang menimpa kita adalah karena doa dari saudara-saudara kita yang pernah kita zalimi.

Doa orang yang terzalimi cepat diijabah Allah. Cepat dikabulkan. Begitu sering kita mendengar kata-kata itu. Rasulullah pernah mengingatkan untuk berhati-hati menjaga lisan. Karena lisan jauh, jauh lebih tajam dibandingkan pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar. Sedangkan luka karena lisan akan terus terkenang. Dan benarlah Rasulllah, bahwa banyak orang yang akan celaka karena tak bisa menjaga lisannya.
Keselamatan seseorang terletak dalam pemeliharaan lidahnya.

Semoga kita mampu menjaga lisan-lisan kita, agar tak menyakiti orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat menjaga lisan-lisan ini agar tidak melukai saudaranya sendiri.

“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, “ Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Al Fushilat : 33)

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus