Homo Homo Ni Lupus

Kamis, 04/02/2010 07:34 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Dian Sianturi

Homo homo ni lupus. Sebuah ungkapan yang begitu akrab ditelinga saya. Sewaktu SMA begitu seringnya guru PPKn saya menyebutkan istilah itu. Hingga lama-kelamaan telah menjadi salah satu ungkapan favorit saya. Karena bahasanya yang unik begitu juga dengan artinya.

Homo homo ni lupus. Sebuah ungkapan yang berasal  dari bahasa Yunani yang memiliki arti bahwa  manusia adalah harimau  bagi manusia yang lain. Kala itu yang ada didalam pikiran saya adalah sebuah ungkapan yang menurut saya terlalu memaksakan maknanya. Bagaimana mungkin manusia telah menjadi harimau bagi manusia lain. Bukankah manusia diciptakan Tuhan dengan nurani kemanusiaannya yang lembut. Bukankah manusia diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya. Dengan segala jiwa kepimpinannya. Makhluk yang telah membuat iblis begitu berang dengan segala  keistimewaan yang di anugerahkan Tuhan kepadanya. Bayangkan tak ada satupun makhluk yang mau memikul tanggung jawab besar menjadi pemimpin di muka bumi ini, selain kita manusia.

Namun, entah mengapa otak saya kemudian kembali mengenang ungkapan yang  telah saya lupakan itu. Tiba-tiba saja entah mengapa saya begitu menyetujui ungkapan yang sederhana namun bermakna dalam itu. Ini bukan bentuk pengaminan yang frontal tanpa alasan yang kabur. Namun, sebuah pembenaran yang saya simpulkan dari kejadian-kejadian yang telah saya lihat, dengar, dan saya rasakan dengan mata, telinga dan hati saya.

Menyaksikan berita-berita di media massa negeri ini. Maka ada semacam streotif bahwa tindakan kriminal dan asusila adalah hal wajib ada dalam setiap penerbitan surat kabar dan penayangan berita di media elektronik. Sadar atau tidak sadar, hari-hari kita telah diisi dengan kejutan – kejutan tindakan amoral yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Hari ini media akan mengabarkan seorang ayah yang telah begitu bernafsu menanamkan benihnya ke dalam rahim anak kandungya sendiri. Dan sang  isteri hanya menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Besok harinya kita akan mendengar berita seorang kakek yang telah lanjut usia menghamili cucunya yang masih duduk disekolah dasar. Keesokannya lagi kita mendengar bahwa ada seorang wanita di bunuh oleh  kekasihnya karena tidak mau menggugurkan benih hasil perzinahan mereka.

Keesokannya lagi kita mendengar seorang suami yang membunuh isterinya sendiri  karena dianggap telah beselingkuh dengan kawan dekatnya. Keesokannya lagi kita mendengar seorang pembantu yang membunuh majikannya dengan cara memotong-mamotong tubuhnya. Begitu terus – menerus. Hingga tanpa kita sadari, mata dan pikiran yang ada didalam otak kita telah terbiasa melihat dan mendengar hal-hal keji itu   dan menganggap itu semua hanyalah hal yang  wajar dan biasa saja .

Ingatan saya kembali tertuju pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Sebuah berita pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pekerja pabrik yang beruntun dan yang paling menggemparkan orang-orang yang ada dinegeri ini adalah ketiadakwajaran yang dilakukannya dengan memakan daging mayat korban-korbanya seperti memakan daging binatang yang layak untuk dimakan. Nauzubillah bin zhalik.

Entahlah. Saya bingung untuk menjawab semua fenomena yang tejadi disekitar saya. Dimana tindakan kriminal dan asusila telah menjadi bagian kehidupan yang seakan tak bisa dipisahkan lagi. Telah menjadi matahari yang menyinari bumi disiang hari. Jadi wajarlah bila kemudia bila saya menarik sebuah kesimpulan bahwa manusia memang telah menjadi manusia  bagi manusia yang lain. Meskipun itu adalah sebuah kesimpulan yang begitu menyakitkan telinga dan hati saya.

Manusia telah saling menjatuhkan untuk memperoleh kepuasan nafsu dunia yang semu. Untuk menggapai ambisi fatamorgana yang ditawarkan oleh dunia yang fana.  Tetapi  kesimpulan sepihak itu lama-kelamaan saya tarik dari frame berpikir saya. Toh saya masih percaya diantara puluhan juta jiwa-jiwa  yang ada di bumi ini. Tidak menjadikan manusia-manusia lain menjadi harimau  bagi manusia lainnya. Namun lebih menjadikan pasangan jiwanya, yang selalu setia menemani setiap kegelisahannya dalam mengarungi kehidupan ini dengan segala kekuatan yang dimilikinya.

Homo homo ni lupus. Adalah sebuah ungapan Yunani  yang benar hipotesisnya bagi orang-orang yang telah kehilangan nuraninya. Hingga dengan mudahnya melakukan perbuatan yang tak pernah terpikirkanpun akan dilakukan oleh binatang yang hanya dilengakapi insting. Namun saya yakin bahwa masih banyak orang-orang bernurani  yang memiliki hati yang tulus untuk menjadikan manusia sebagai sahabatnya  dalam mengarungi kehidupan ini. Dan saya  selalu berdoa, diri saya masuk kedalam hitungan orang-orang itu. Amin Allahumma Amin.

 Tamyiz-Layo 16:52.290607                   

Ditengah tangisan duka yang cengeng

 

 

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang