Oleh Dian Sianturi
Homo homo ni lupus. Sebuah ungkapan yang begitu akrab ditelinga saya. Sewaktu SMA begitu seringnya guru PPKn saya menyebutkan istilah itu. Hingga lama-kelamaan telah menjadi salah satu ungkapan favorit saya. Karena bahasanya yang unik begitu juga dengan artinya.
Homo homo ni lupus. Sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti bahwa manusia adalah harimau bagi manusia yang lain. Kala itu yang ada didalam pikiran saya adalah sebuah ungkapan yang menurut saya terlalu memaksakan maknanya. Bagaimana mungkin manusia telah menjadi harimau bagi manusia lain. Bukankah manusia diciptakan Tuhan dengan nurani kemanusiaannya yang lembut. Bukankah manusia diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya. Dengan segala jiwa kepimpinannya. Makhluk yang telah membuat iblis begitu berang dengan segala keistimewaan yang di anugerahkan Tuhan kepadanya. Bayangkan tak ada satupun makhluk yang mau memikul tanggung jawab besar menjadi pemimpin di muka bumi ini, selain kita manusia.
Namun, entah mengapa otak saya kemudian kembali mengenang ungkapan yang telah saya lupakan itu. Tiba-tiba saja entah mengapa saya begitu menyetujui ungkapan yang sederhana namun bermakna dalam itu. Ini bukan bentuk pengaminan yang frontal tanpa alasan yang kabur. Namun, sebuah pembenaran yang saya simpulkan dari kejadian-kejadian yang telah saya lihat, dengar, dan saya rasakan dengan mata, telinga dan hati saya.
Menyaksikan berita-berita di media massa negeri ini. Maka ada semacam streotif bahwa tindakan kriminal dan asusila adalah hal wajib ada dalam setiap penerbitan surat kabar dan penayangan berita di media elektronik. Sadar atau tidak sadar, hari-hari kita telah diisi dengan kejutan – kejutan tindakan amoral yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Hari ini media akan mengabarkan seorang ayah yang telah begitu bernafsu menanamkan benihnya ke dalam rahim anak kandungya sendiri. Dan sang isteri hanya menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Besok harinya kita akan mendengar berita seorang kakek yang telah lanjut usia menghamili cucunya yang masih duduk disekolah dasar. Keesokannya lagi kita mendengar bahwa ada seorang wanita di bunuh oleh kekasihnya karena tidak mau menggugurkan benih hasil perzinahan mereka.
Keesokannya lagi kita mendengar seorang suami yang membunuh isterinya sendiri karena dianggap telah beselingkuh dengan kawan dekatnya. Keesokannya lagi kita mendengar seorang pembantu yang membunuh majikannya dengan cara memotong-mamotong tubuhnya. Begitu terus – menerus. Hingga tanpa kita sadari, mata dan pikiran yang ada didalam otak kita telah terbiasa melihat dan mendengar hal-hal keji itu dan menganggap itu semua hanyalah hal yang wajar dan biasa saja .
Ingatan saya kembali tertuju pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Sebuah berita pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pekerja pabrik yang beruntun dan yang paling menggemparkan orang-orang yang ada dinegeri ini adalah ketiadakwajaran yang dilakukannya dengan memakan daging mayat korban-korbanya seperti memakan daging binatang yang layak untuk dimakan. Nauzubillah bin zhalik.
Entahlah. Saya bingung untuk menjawab semua fenomena yang tejadi disekitar saya. Dimana tindakan kriminal dan asusila telah menjadi bagian kehidupan yang seakan tak bisa dipisahkan lagi. Telah menjadi matahari yang menyinari bumi disiang hari. Jadi wajarlah bila kemudia bila saya menarik sebuah kesimpulan bahwa manusia memang telah menjadi manusia bagi manusia yang lain. Meskipun itu adalah sebuah kesimpulan yang begitu menyakitkan telinga dan hati saya.
Manusia telah saling menjatuhkan untuk memperoleh kepuasan nafsu dunia yang semu. Untuk menggapai ambisi fatamorgana yang ditawarkan oleh dunia yang fana. Tetapi kesimpulan sepihak itu lama-kelamaan saya tarik dari frame berpikir saya. Toh saya masih percaya diantara puluhan juta jiwa-jiwa yang ada di bumi ini. Tidak menjadikan manusia-manusia lain menjadi harimau bagi manusia lainnya. Namun lebih menjadikan pasangan jiwanya, yang selalu setia menemani setiap kegelisahannya dalam mengarungi kehidupan ini dengan segala kekuatan yang dimilikinya.
Homo homo ni lupus. Adalah sebuah ungapan Yunani yang benar hipotesisnya bagi orang-orang yang telah kehilangan nuraninya. Hingga dengan mudahnya melakukan perbuatan yang tak pernah terpikirkanpun akan dilakukan oleh binatang yang hanya dilengakapi insting. Namun saya yakin bahwa masih banyak orang-orang bernurani yang memiliki hati yang tulus untuk menjadikan manusia sebagai sahabatnya dalam mengarungi kehidupan ini. Dan saya selalu berdoa, diri saya masuk kedalam hitungan orang-orang itu. Amin Allahumma Amin.
Tamyiz-Layo 16:52.290607
Ditengah tangisan duka yang cengeng
Dengan adanya perbankkan syariah pertumbuhan ekonomi akan semakin terjamin dari kehalalnya. Karena produk-produk yang di tawarkan oleh perbankan syariah adalah sebuah produk yang mana berlandaskan dengan hukum-hukum syariah yang telah Allah berikan dan diolah sedemikian mungkin sehingga masyarakat luas menjadi tahu.
Pengamat dan konsultan bisnis syariah terkemuka Indonesia, Adiwarman Karim, berani memproyeksi angka Rp101,1 triliun total aset perbankan syariah di 2010. Perhitungan itu hasil dari pertimbangan modal dan data historis pertumbuhan bank-bank syariah baru di 2010.
Ibarat rumah, perbankan syariah memiliki pondasi, pilar dan atap. Pondasi inilah yang menjadi dasar pembangunan bank syariah. Pembangunan pondasi harus kuat karena pondasi yang rapuh akan membuat bangunan perbankan syariah ikut rapuh.
Pendidikan, mencakup pengajaran, pembentukan moral, penelitian dan pengembangan, serta segala makna yang mungkin dikandung kata pendidikan, adalah isu yang sangat perlu diperhatikan di sektor perbankan syariah. Tidak bisa dipungkiri, teori dan praktek perbankan syariah saat ini banyak berangkat dari teori dan praktek perbankan konvensional.
Karena ingin mengajukan pinjaman untuk membeli kendaraan, akhirnya aku mendatangi bank-bank yang dekat dengan rumahku. Kebetulan di ruko dekat rumahku cukup lengkap banknya mulai dari yang konvensional sampai yang syariah.
Bill menuai sukses di bisnisnya saat menjual program DOS kepada IBM. Ajaibnya saat Bill menawarkan program DOS ke IBM, BIll bersama rekannya, Paul dan Steve sama sekali belum memiliki program itu dan lebih gilanya lagi..
KANGEN sekali saya dengan suasana seperti ini. Rendy, Putri, Shalma Alexa, Ahad Rifaldo dan teman-teman sebayanya tampak duduk lesehan dengan tertib di lantai mushalla. Wajah mereka terlihat ceria.