If I'am Boring

oleh Halimah Sabtu, 11/07/2009 05:38 WIB Cetak |  Kirim |  RSS

Sebuah ibadah yang rutin kita lakoni pasti punya batas jenuh. Seperti ibadah dalam mengurus rumah-tangga, yang saat ini aku alami. Aku seringkali jenuh bila saat anak-anak sakit, kemudian suami juga sangat sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Hal itulah yang membuatnya tak mungkin diberi job untuk merasakan kecemasan anak yang sakit.. Jika dipaksakan, aku mengkhawatirkan kesehatannya, karena seringkali dia pulang hingga saat semua orang telah dibuai mimpi.

Kejenuhan dalam urusan kesehariaan memang sebuah kewajaran. Kadang aku sedikit berpikir nakal :”Jika aku masih berkarier, mungkin aku setiap paginya sudah rapi dan cantik, harum lagi!.” Pikiran yang selalu berandai-andai tentu saja tidak dianjurkan oleh Rasulullah, panutan kita. Tapi pikiran yang tidak-tidak tentu saja sering hinggap di kepala, namanya juga I am BORING.

Saat jenuh, kadang datang seorang tamu, dan menceritakan permasalahan yang di hadapinya. Walaupun suntuk, tapi kedatangan tamu ini, tentu saja membuat irama kerjaku bernada lain.. Masalahnya dia datang disaat-saat jam sibuk. Maklum masih pagi hari. Sebagai tuan rumah yang baik, aku berusaha menjadi pendengar yang setia. Hatiku hanya setengah untuknya, yang setengahnya memikirkan jurus apa yang akan aku lakukan, agar sang tamu tidak terlalu berputar-putar pembahasannya

Tapi kedatangan tamu yang sebenarnya belum aku kehendaki, ternyata membawa hikmah tersendiri bagiku. Seperti saat pagi ini, sebelum aku menghadiri ta’lim rutin mingguanku.
“Assalamu’alaikum. Maaf aku mengganggumu. Aku ada perlu sedikit” Ternyata dia seorang ibu yang merupakan tetangga dekatku. Kelihatannya malu-malu untuk bicara padaku. Mungkin dia tahu, hari ini aku punya jadwal keluar pagi.

“Masuk aja bu. Maaf masih berantakan.” Aku pun memersilahkannya duduk di ruang tengah. Dia pun mulai cerita tentang bagaimana situasi rumah-tangganya saat ini. Bagaimana dia merasakan hatinya berserakan, karena sang kekasih memberinya teman sebanding, yang tak pernah di bicarakan sebelumnya, padahal ekonomi mereka masih ngos-ngos untuk memenuhi kebutuhan dapur mereka. Suaminya telah meminang gadis usia belia, yang merupakan pacarnya.

Aku jadi membayangkan diriku. Seandainya aku mengalami hal itu, tentu saja aku akan marah dan aku bergidik, apa yang akan aku lakukan sesuai selintasan pikiranku saat ini. Naudzubillah Mindzalik!

Ujung-ujungnya sih, pinjam uang. Maklum saja, gajiannya untuk dua keluarga. Padahal saat satu keluarga saja, mereka sering kelimpungan. Tentu saja aku memaklumi situasinya. Setelah dia pulang aku sempat duduk dan merenung sejenak.
“Betapa beruntungnya aku. Suami hanya kerja seharian, jarang sekali keluar rumah. Keluar rumahpun bila ada “bisnis”. Maklum dia punya usaha luaran.

Padahal seringkali hati ini tidak bisa menerima, bila suami pulang ditemani kilau gemintang, dan hanya bisa meluruskan punggung setibanya di rumah. Padahal kami, sebagai pasukannya telah menyediakan hidangan untuk di santap bersama. Kerja yang dilakoninya seakan tak pernah berujung. Memang sih sebenarnya untuk memenuhi semua kebutuhan ( mungkin sebagian hanya keinginan ). Tentu saja berdampak pada perasaanku, yang merasa tak punya kawan berbagi. Karena kadang banyak yang ingin aku sampaikan, tapi suami sudah menarik gulingnya. Aku jenuh!

Tapi aku sangat bersyukur pada Yang maha Tahu, karena tahu apa yang sebenarnya aku butuhkan pada saat situasi itu datang. Karena pada saat aku merasa jenuh pada kegiatan rutin yang sepertinya tak ada habisnya, selalu ada saja seseorang yang dikirim oleh Allah Swt untuk datang kepadaku. Tentu saja mereka datang dengan semua keluhannya. Keluhan yang dilontarkan kepadaku ternyata membuatku ‘sadar”. Sadar untuk men-charge energi yang melemah. Sadar untuk tidak menjenuhkan diri. Karena keadaanku ternyata lebih beruntung di banding mereka. Rasa syukur yang seperti tergantung di balik hati, ternyata perlu di pindah ke relung hati.

Sengata, 8 Juni 2009

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

halimahtaslima@gmail.com


(Arsip Oase Iman)

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.

BPRS Harta Insan Karimah, Bersama dalam Usaha dan Ibadah

Tak banyak bank syariah seperti BPRS Harta Insan Karimah. Meski tak sebesar bank umum syariah, BPRS HIK mampu menerapkan manajemen perbankan yang baik dan akuntabel serta mampu memelihara ruh syariah dalam diri para pegawai. Satu poin yang patut ditiru oleh bank berlabel syariah lainnya.

Meredam Keraguan Demi Selamat Dunia Akhirat

0leh: Khoiriyati Kusumaningtyas. Saya termasuk golongan masyarakat yang sejak awal mendukung 100% perbankan syariah. Keraguan itu justru muncul di saat Bank Syariah booming bagaikan jamur di musim hujan, kira-kira tahun 2006-an. Saat itu saya bertanya.tanya, mengapa semua bank konvensional mengadakan program syariah

Laba yang Adil, Margin tiap Bank dan Rumus Umum KPR iB

Tanya : Berapakah margin yang ditentukan oleh KPR Syariah untuk pinjaman sebesar 100 jt dengan angsuran selama 6 tahun ? apakah masig-masig daerah penetapan margin tersebut berbeda, bagaimana dengan margin untuk lokasi di daerah Depok dan DKI, kalau tidak salah dalam Al .Quran atau Hadist disebutkan untuk besaran nilai keuntungan seseoramg dari penjualan adalah maksimal 10%

Bank Syariah di Minimarket

uchiemasdar.blogspot.com Ide ini muncul saat saya berkunjung ke kota Metro di provinsi Lampung. Siapa nyana, ternyata di kota kecil tersebut, jaringan Indomaret dan Alfamart bertebaran di mana-mana. Sebagaimana transaksi di minimarket, masyarakat sekitar sudah akrab dengan alat pembayaran seperti Debit Card BCA, BNI, dan Mandiri.

BNI iB OTO, Pembiayaan untuk Pembelian Kendaraan

BNI iB Oto merupakan pembiayaan untuk pembelian kendaraan dengan proses yang mudah dan cepat berdasarkan syariah. Uang muka relatif ringan dan pembayaran dapat dilakukan secara debet otomatis. Keunggulan: 1. Rasa tenteram dan tenang karena dengan pembiayaan syariah terhindar dari transaksi yang ribawi. 2. Selama masa pembiayaan besarnya angsuran tetap dan tidak berubah sampai lunas.

 

Anak Ngambek Tidak Mau Sekolah

Bagaimana menghadapi sikap anak saya yang saat ini berusia 6 tahun 2 bulan, baru 2 minggu masuk SD yang jam belajarnya full day (pulang sekolah pukul 14.30). Pekan ke-2 ini dia malah ngambek (menangis dengan keras dan tidak mau ditinggal)

PELUANG