Oleh Mira Kania Dewi
Senang bukan kepalang saat mendengar adikku , suami dan anaknya akan datang mengunjungi kami yang sedang merantau di negeri orang. Jauh-jauh hari kami persiapkan rencana bertadabbur alam untuk memuliakan tamu yang datang. Dipilihlah Phuket sebagai tujuan kami bertadabbur.
Pagi dini hari selepas sholat shubuh, kami terbang menuju Koh (pulau) Phuket yang terletak di sebelah selatan Thailand. Cuaca begitu cerah secerah hati kami yang menari di atas pelangi. Pesawat mendarat dengan mulus, terhampar luas laut membentang di sekeliling bandara. Teringat kembali peristiwa tsunami yang pernah menerjang pulau ini, akhir tahun 2004 bersamaan dengan bencana tsunami yang meratakan Aceh.
Sepanjang pantai kulihat telah berdiri tegak bangunan-bangunan baru yang menandakan dua hal, yaitu tsunami pernah melanda wilayah ini dan pembangunan sudah dilakukan. Turis asing berkulit putih banyak berlalu lalang di sepanjang pantai menunjukkan bahwa perekonomian di pulau ini telah berjalan kembali dengan baik. Begitu cepatnya perekonomian kembali stabil, bagaimana dengan Acehku? Aku belum sempat ke sana.
Esok hari kami berwisata menggunakan speed boat (perahu dengan 3 motor) menuju pulau kecil bernama Koh Khai Noy untuk melihat wisata bahari. Sebelum berangkat, kami diberikan berbagai perlengkapan snorkeling dan baju pelampung sekaligus diingatkan untuk melaporkan bila ada yang hamil. Aku terkejut saat adikku bercerita bahwa ia sedang hamil anak kedua (1 bulan). Ada rasa bersalah dalam diriku, maksud hati ingin membahagiakannya namun aku dirundung rasa khawatir akan kehamilannya termasuk anak pertamanya yang belum genap berusia 2 tahun. Sepanjang perjalanan rangkaian do’a kuucap tanpa henti.
Adikku harus duduk di bagian belakang kapal. Kutatap anak-anakku yang duduk menyamping, mereka terlihat tenang. Perahu meluncur dengan kecepatan tinggi, kami terhentak-hentak oleh ombak satu meter yang membuatku mual dan pusing. Kutatap keponakanku yang kala itu dirangkul adikku dan suaminya, ternyata…….ia tertidur dengan pulas! Alhamdulillah, ucapku berulang-ulang…..Engkau Maha Tahu dan Maha Penyayang.
Perahu berhenti di tengah laut. Ada apa gerangan? Ternyata tiba waktunya untuk bersnorkeling. Ya….snorkeling, istilah yang sudah sering kudengar namun itulah kali pertama aku mencoba. Tanpa ragu suami dan anak-anakku turun ke laut. Mereka begitu menikmatinya, bahkan gadis cilikku yang berusia 5 tahun pun asyik mengamati ikan-ikan. Aku tergiur, aku ingin mencoba. Perlahan aku turun dari kapal dan membiarkan diri mengambang.
Namun begitu sadar kakiku tak dapat menginjak dasar laut, napasku menjadi sesak, aku panik! Aku mencari-cari pegangan, tak ada! Kulihat tali kapal mengambang, kuraih tali itu, aku berjuang merapatkan diri ke kapal. Berat sekali rasanya, aku tak mampu berenang padahal seharusnya aku bisa! Ya Rabb, tolonglah aku, aku harus menuju kapal. Suami dan anak-anakku terasa semakin jauh. Bismillah, aku harus bisa….. aku harus bisa. Sekuat tenaga aku berjuang, akhirnya Alhamdulillah……aku berhasil naik ke atas kapal, namun aku kapok. Tak ada lagi snorkeling, jerit batinku.
Tibalah kami di Koh Khai Noy, pantai yang biru, pasir putih dan ombak yang datar. Tenang rasanya tiba di daratan. Kami bermain di tepi pantai ditemani berwarna-warni ikan hias yang jinak mendekati kami . Subhanalloh, indah mempesona. Terobati sudah ketakutanku. Perlahan suami membimbingku untuk mencoba lagi bersnorkeling, semula aku menolak namun akhirnya aku mau mencoba karena kali ini aku dapat menginjakkan kakiku ke dasar laut karena airnya dangkal, sungguh pengecutnya aku ini! Kali ini dalam keadaan tenang aku dapat merasakan indahnya melihat mahluk ciptaan Yang Maha Pencipta, berwarna-warni, berenang dengan anggunnya.
Seminggu kemudian, adikku memberi kabar dari Jakarta bahwa kehamilannya sehat wal’afiat. Aku senang sekali mendengarnya, Alhamdulillah terima kasih Yaa Rabb, Kau telah memberikan kenikmatan yang tak terhingga kepada kami, jadikanlah kami tergolong hamba-MU yang selalu bersyukur. Wallohu’alam bish-showaab.
Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS 14 : 7)
(Mkd/bkk/07.12.2009)
Bank Muamalat Cabang Cengkareng membutuhkan karyawan untuk posisi: 1. Customer Service (Wanita) 2. Legal (Pria) 3. Account Manager (Pria).
"Sistem perbankan yang saling menguntungkan, dengan keanekaragaman produksi dan skema keuangan yang lebih variatif" Sistem perbankan syariah adalah alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (nasabah dan bank), yang di dukung oleh keanekaragaman produk dan skema keuangan yang lebih variatif, dan dilakukan secara transparan agar adil bagi kedua belah pihak.
Namaku Siko, lengkapnya Siko Tjikoa, usia 27 tahun, aku tak pernah menulis cerita, sekedar untuk berbagi maka aku ceritakan sebisaku, sebelumnya mohon maaf jika mungkin banyak hal yang tidak sesuai dengan anda para pembaca.
Tak disangka, Islamic Book Fair (IBF) ke-9 yang baru usai 14 Maret lalu menyimpan kenangan bagi saya. Setidaknya, atas izin Allah swt, saya bertemu beberapa kawan saya yang telah terpisah selama tujuh tahun. Dan kami bertemu di stand bank syariah di pameran buku tersebut.
Bank Syariah Bukopin (BSB) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp831 juta, artinya total laba tersebut naik sebesar 110,77 persen dari tahun lalu yang rugi sebesar Rp7,71 milyar. Hal ini terungkap saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BSB Selasa (12/3) lalu.
Salah satu contoh dari pertanyaan yang mereka ajukan adalah saat mereka bertanya tentang - bra/bh, mereka bertanya apa fungsinya dan mengapa mereka tidak dipakaikan juga
Tiga warga Desa Sukorejo, Bojonegoro, terjangkit Demam Berdarah. Tak menunggu lama, tim ACT yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia langsung terjun ke lokasi melakukan fogging.