Jadi Guru Bergaji Rp 0

Kamis, 08/01/2009 14:34 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Oleh Eko Prasetyo

Bagaimana rasanya menjadi guru dengan bayaran Rp 0?

Diam-diam, saya tertarik untuk menyaru menjadi guru. Meski tidak duduk di instansi pendidikan resmi, saya benar-benar terjun langsung memberikan materi kepada beberapa "murid" saya.

Bermodal komputer jinjing berukuran mini, saya memulai mencari "customer" yang tidak lain adalah famili sendiri. Karena masih tinggal bersama kakek, saya mengenalkan ilmu komputer kepada beliau.

Dimulai dari pengenalan tentang peranti lunak dan keras, saya mengarahkannya untuk belajar mengetik di atas kotak kecil bernama laptop tersebut. Melihat antusiasmenya untuk belajar, saya merasa senang dan bersemangat untuk menularkan ilmu.

Kebetulan, kakek masih aktif di kegiatan gereja seperti ikut koor lansia di paroki setempat. Jadi, tiap ada undangan atau menulis surat untuk kolega di Nederland, saya membimbing beliau untuk membuatnya sendiri. Ketika ada salah ketik atau bingung memencet tombol di keyboard, beliau melepas tawa berderai. "Hahaha... Wis sepuh dadi tangane timik-timik," ujarnya.

Berawal dari situ, kakek mulai mempromosikan saya ke tetangga sebelah yang memiliki anak usia pelajar SD dan SMP. "Iku loh, nek sinau komputer karo Eko ae," ucapnya penuh semangat.

Uniknya, bukan anaknya yang tertarik, justru orang tua mereka yang ingin belajar kepada saya. "Wis piro Mas bayarane, sing penting aku isok laptopan. Mosok kalah karo Tukul," tutur salah seorang di antaranya.

Kegiatan padat di kantor tak mengurangi semangat saya untuk menularkan sedikit pengetahuan tersebut kepada "murid-murid" saya tersebut. Pernah, suatu ketika komputer jinjing saya rewel karena masalah teknis. Tampak sekali di wajah kakek dan beberapa tetangga yang mengangsu ilmu memendam kekecewaan. Saya bisa memahaminya. Semangat yang luar biasa.

Saat saya sebutkan bahwa di antara mereka telah mengalami peningkatan, wajah mereka terlihat semringah. Bangga. Ada pula yang bermaksud "menitipkan" anak mereka kepada saya untuk diajari komputer. "Iki gawe bensin sampeyan Mas," ujar seorang bapak sambil memasukkan amplop kecil ke saku baju saya.

Kontan, saya menolaknya. "Kalau ada beginian (uang, Red), saya nggak mau ngajari putra Bapak," tegas saya.

Hari demi hari berlalu. Saya bahagia bisa memperkenalkan teknologi dan membuka jendela di lingkungan tempat saya tinggal sekarang.

Kini, saya kembali bertugas di program Untukmu Guruku 2009 Jawa Pos. Tentu saja, kegiatan itu banyak menyita perhatian, tenaga, dan waktu. Saya jarang bisa berkumpul dengan para "murid" saya tersebut. Rindu rasanya.

Melihat wajah mereka begitu senang, mendengar tawa mereka ketika keliru mengoperasikan komputer, itu menjadi bayaran yang sungguh tinggi bagi saya.

Siang mulai dekat. Sore hendak merapat. Tanah di bumi ini masih datar, tapi semangat saya bagai gelombang. Rp 0 memang tak bisa membeli sebuah ilmu. Namun, bukankah ilmu memang berasal dari sebuah rasa ingin tahu? Ia nol. Kini saya mendapat bayaran yang lebih tinggi daripada sekadar lembaran kertas rupiah.

(Mudah-mudahan Allah melimpahkan pahal berlipat kepada para pahlawan tanpa tanda jasa. Amin)

[email protected]

www.samuderaislam.blogspot.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Oase Iman

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang